Butuh Waktu Dua Tahun Untuk Tekan Angka Miskin Akibat Pandemi Covid-19


Lensamedan- Kenaikan angka kemiskinan di Sumatera Utara (Sumut) pada bulan Maret 2020 jika dibandingkan September 2019 masih terbilang wajar terjadi ditengah pandemi Covid-19. Tidak ada yang bisa menghindar, karena Covid-19 menyebar ke semua lapisan masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut menunjukan kalau di bulan Maret terjadi peningkatan jumlah masyarakat miskin sebanyak 23 ribu jiwa.

Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, angka kemiskinan yang melonjak di Maret ini memang bukanlah sepenuhnya karena Covid-19. Karena tidak yakin kalau kenaikan angka sebanyak 23 ribu itu hanya terjadi di bulan maret semuanya. 

"Karena kasus Covid di Indonesia baru ditemukan di awal Maret, sementara di Sumut sekitar pertengahan Maret. Memang ada karantina disitu, tetapi tidak seharusnya lantas angka kemiskinan mengalami kenaikan," ujar Gunawan Benjamin di Medan, Sabtu (18/7/2020).

Gunawan mengatakan, peningkatan angka kemiskinan ini merupakan dampak dari perang dagang dan sudah mulai terasa di pertengahan 2019. Jadi memang tren angka kemiskinan ini pada dasarnya udah naik sedari awal sebelum Covid-19. Namun lompatannya baru dirasakan di Maret. Dan jika ditarik data nantinya dari Maret 2020 ke September 2020, potensi lompatan jumlah angka kemiskinan akan lebih besar.

"Terlebih jika ditarik data perbulannya, dimana April hingga Juli 2020 sangat berpeluang terjadi ledakan jumlah angka kemiskinan akibat pandemic Corona. Jika merunut data yang dirilis BPS per semester ini, tentunya tidak bisa dijadikan acuan dalam kerangka kebijakan penyelamatan ekonomi masyarakat yang terdampak Corona, karena pasti terlambat," kata Gunawan.

Gunawan menyebutkan, dari data BPS terlihat bahwa garis kemiskinan pada Maret 2020 di Sumut itu tercatat sebesar Rp502 ribu. Jadi pada dasarnya sudah bisa dipetakan bagaimana bentuk bantuan ke masyarakat dengan mengacu ke data tersebut. Jadi setiap warga miskin setidaknya bisa dibantu maksimal setara uang tunai Rp500 ribuan per bulan.

"Jadi kalau ada 1,28 juta masyarakat miskin,maksimal kita butuh uang sebanyak Rp640 milyar per bulan. Itu hitungan paling besar. Karena toh pada dasarnya tidak semua masyarakat miskin tidak memiliki pendapatan sama sekali. Saat Maret lalu saya pernah menghitung setidaknya kita butuh Rp528 milyar untuk bantu masyarakat yang terdampak Corona," sebutnya.

Gunawan menghitung, setidaknya ada sekitar 2,2 juta jiwa penduduk Sumut yang membutuhkan pertolongan. Karena disaat terjadi pandemi, ada sebagian masyarakat yang langsung masuk dalam garis kemiskinan, sekalipun sifatnya temporer, sampai dapat pekerjaan lagi.

Dan di bulan Juli ini, sebagian masyarakat memang sudah mengalami pemulihan pendapatan. Meskipun belum kembali seperti sedia kala. Jadi hitung-hitungan kebutuhan dana bantuan sosial tentunya berkurang. 

"Tetapi kebutuhan akan bantuan tersebut harus tetap jalan sampai nantinya ekonomi benar-benar mulai kembali ke sedia kala," terangnya.

Ditambahkannya, masalah kemiskinan ini sulit untuk ditekan dalam waktu dekat. Beberapa masalah mendasar seperti kondisi ekonomi global yang masih saja bermasalah. Setidaknya butuh paling cepat 2 tahun agar angka kemiskinan ini bisa ditekan diangka sebelum masa Covid-19.

"Peningkatan kemiskinan di Sumut ini lebih dipengaruhi oleh penurunan serta hilangnya sejumlah pendapatan masyarakat, yang berimbas ke daya beli. Terlebih masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata, banyak yang kehilangan pekerjaan. Untuk harga kebutuhan pokok, Sumut justru trennya dalam penurunan harga selama 3 bulan terakhir," pungkasnya.


(Medan)



Belum ada Komentar untuk "Butuh Waktu Dua Tahun Untuk Tekan Angka Miskin Akibat Pandemi Covid-19 "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel