Triwulan I 2026, Perekonomian Sumatra Utara Terkontraksi 0,28%
Seorang konsumen membayar minuman yang dipesan dengan menggunakan QRIS. Di triwulan I 2026, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami pertumbuhan yang paling signifikan.lensamedan-juli simanjuntakLensaMedan – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Utara mencatat perekonomian Sumatra Utara di Triwulan I Tahun 2026 tercatat tumbuh 4,98% terhadap Triwulan I Tahun 2025 (y-on-y).
Jika dilihat berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulan I Tahun 2026 Atas Dasar Harga Berlaku, maka Perekonomian Sumatra Utara mencapai Rp320,03 triliun dan Atas Dasar Harga Konstan 2010 mencapai Rp167,92 triliun.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumtra Utara, Asim Saputra, mengatakan, pertumbuhan terjadi hampir pada seluruh lapangan usaha, dimana pertumbuhan yang paling signifikan terlihat pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 18,62%, diikuti Jasa Lainnya 14,91%; Informasi dan Komunikasi sebesar 11,35%; Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 10,63%; serta Jasa Perusahaan sebesar 9,95%.
Sementara itu, Pengadaan Listrik dan Gas serta Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang mengalami kontraksi masing-masing sebesar 2,60% dan 0,02%.
Sedangkan jika dilihat dari Pengeluaran Atas Dasar Harga Berlaku, maka pada Triwulan I Tahun 2026 tidak menunjukkan perubahan berarti.
Perekonomian Sumatra Utara masih didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 51,65%; Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 39,73%; Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 27,04%; Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 5,22%; dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 0,94%.
“Sementara Komponen Impor Barang dan Jasa sebagai faktor pengurang dalam PDRB memiliki peran sebesar 25,02%,” ujar Asim Saputra, saat menyampaikan berita resmi statistik, Selasa(5/5/2026).
Asim menambahkan, jika dilihat secara triwulan, maka Sumatra Utara di Triwulan I Tahun 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,28% (q-to-q) dibanding Triwulan IV Tahun 2025.
Lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhan yang cukup dalam diantaranya Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 8,54%; diikuti Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 7,96%; Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 3,76%; Konstruksi sebesar 3,63%; Pertambangan dan Penggalian sebesar 2,01%; Real Estat sebesar 1,59%; serta Industri Pengolahan sebesar 0,41%.
‘Di sisi lain, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Perusahaan sebesar 3,52%; diikuti Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,95%; serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 1,71%,” tambahnya.
Dari sisi pengeluaran, lanjut Asim, komponen yang mengalami kontraksi yaitu Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 9,41%, diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 3,59%, Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 3,10% dan Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 2,76%.
“Sedangkan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) tumbuh sebesar 1,30%. Sementara Komponen Impor Barang dan Jasa yang merupakan komponen pengurang mengalami kontraksi sebesar 2,88%,” terangnya.
Secara spasial, struktur perekonomian Pulau Sumatra pada Triwulan I Tahun 2026 didominasi oleh Provinsi Sumatra Utara sebesar 23,50%; Provinsi Riau dengan kontribusi sebesar 23,29% dan Provinsi Sumatra Selatan sebesar 13,60%.
Pada Triwulan I Tahun 2026 (y-on-y), pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatra Utara menempati posisi ke-5 dari 10 Provinsi di Pulau Sumatra yaitu sebesar 4,98%. Provinsi Kepulauan Riau mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 7,04%. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Triwulan I 2026, Perekonomian Sumatra Utara Terkontraksi 0,28%"
Posting Komentar