Stabill di 2021, Harga Beras Masih Berpeluang Stabil di 2022

Lensamedan - Menjelang tahun 2022, ekonomi nasional pada umumnya maupun Sumatera Utara (Sumut) khususnya berpeluang untuk menguat. Artinya, realisasi pertumbuhan ekonomi Sumut maupun nasional akan lebih baik ketimbang kinerja tahun 2021. Namun pemulihan ekonomi kerap diikuti dengan laju tekanan inflasi. Dimana setiap ada pertumbuhan ekonomi tinggi maka inflasi juga akan mengikuti.

Pemerhati ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, salah satu yang menjadi penyumbang bagi kenaikan inflasi adalah harga beras. Pada dasarnya harga beras ini memiliki kontribusi besar terhadap pembentukan kinerja inflasi. Namun, dikarenakan harga beras yang stabil, khususnya sejak 2 tahun belakangan ini, membuat beras relatif tidak memicu kenaikan inflasi secara signifikan.

“Harga beras selama ini bergerak stabil, mulai beras yang paling murah di kisaran harga Rp9.000 hingga yang paling mahal Rp13 ribu-an per kilogram (kg). Itu adalah harga beras yang umumnya dijual di pasar tradisional di Kota medan. Meskipun tidak menutup kemungkinan masih ada harga beras yang lebih mahal dengan kualitas yang lebih baik, dan harga beras yang lebih murah,” sebut Gunawan di Medan, Minggu (5/11/2021).

Dikatakan Gunawan, dalam setahun pergerakan harga beras, umumnya harga beras bergerak naik sekitar Rp500  per kg. itupun tidak selalu terjadi setiap tahunnya. Harga beras relatif stabil, karena pemerintah memliki perhatian yang besar dalam mengendalikan harga beras. Bulog menjadi badan yang mampu menstabilkan harga beras tersebut.

Di tahun 2022 nanti, ancaman kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan memang akan meningkat. Dengan berdasarkan perhitungan bahwa terjadinya pemulihan ekonomi global, adanya varian baru Covid 19 bernama Omicron, tren penguatan mata uang US Dolar ditambah dengan adanya potensi kenaikan harga pangan dunia.

“Dari beberapa potensi ancaman tersebut, saya melihat ancaman yang paling nyata adalah Omicron ditambah dengan kemungkinan kenaikan harga pangan dunia. Walau demikian, saya tetap berkeyakinan harga beras masih akan tetap stabil. Omicron memang bisa saja membuat pemerintah mengambil tindakan PPKM. Atau terjadi masalah yang lebih luas lagi pada arus lalu lintas barang dan jasa, maupun global supply chain yang turut memicu kenaikan harga beras dunia,” katanya.

Gunawan menyakini beras masih akan mampu dipasok dari produksi di tanah air. Yang penting tidak ada gangguan serius pada sisi produksi yang umumnya dikarenakan cuaca ataupun serangan hama. Sekalipun nantinya Omicron menjadi pandemi baru, ia yakin pemerintah tetap akan memperlonggar arus lalau lintas barang dan jasa, khususnya untuk beras.

Sementara itu, jika terjadi pelemahan Rupiah yang dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan The FED (bank sentral AS) maupun pengurangan pembelian aset The FED, Gunawan menilai beras bisa menjadi lebih mahal jika kebutuhannya harus didatangkan dengan cara impor. Tetapi ia tetap yakin, selama tidak ada gangguan pada produksi beras yang sulit diperkriakan.

Maka harga beras di tahun 2022, masih akan stabil, dan produksi beras dalam negeri masih mampu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras di tanah air. Jadi tidak ada yang perlu dikuatirkan berlebihan terkait dengan pergerakan harga beras kedepan. 

“Beras masih akan seperti sebelumnya yakni kerap mampu bertahan dari guncangan-guncangan harga. Dan beras belum akan menjadi pemicu kenaikan laju tekanan inflasi yang besar,” pungkasnya. (*)



(Medan)


 

Belum ada Komentar untuk "Stabill di 2021, Harga Beras Masih Berpeluang Stabil di 2022"

Posting Komentar

Karnaval dan Pawai Budaya HUT ke-432 Kota Medan Keberagaman Kesenian serta Adat Budaya Multi Etnik

Lensamedan - Gempita perayaan Busana Karnaval dan Pawai Budaya mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-432 Kota Medan, yang diawali deng...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel