Dorong Solusi Lingkungan dan Ekonomi, BRIN Gelar Pelatihan Pemanfaatan Limbah Popok
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, memberikan souvenir kepada Peneliti Ahli Utama BRIN, Sri Wahyono, seusai membuka pelatihan pemanfaatan limbah popok sekali pakai yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Hotel Emerald, Kamis (2/4/2026).lensamedan-juli simanjuntakLensaMedan - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, menilai penggunaan popok sekali pakai kini semakin meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang mengutamakan kepraktisan.
Penilaian ini disampaikannya saat membuka pelatihan pemanfaatan limbah popok sekali pakai yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Hotel Emerald, Kamis (2/4/2026).
“Dulu masyarakat menggunakan popok kain yang bisa dicuci dan digunakan kembali. Sekarang, karena kesibukan dan gaya hidup praktis, popok sekali pakai menjadi pilihan utama, bahkan tidak hanya untuk bayi, tetapi juga lansia,” ujarnya.
Namun, penggunaan popok sekali pakai ini menimbulkan persoalan baru, terutama dalam pengelolaan limbah. Sofyan Tan menyoroti kebiasaan membuang popok sembarangan, termasuk ke sungai dan saluran air.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga memicu pencemaran lingkungan, penyumbatan drainase, hingga banjir. Lebih jauh, limbah popok berpotensi menimbulkan penyakit karena mengandung kotoran dan zat kimia berbahaya.
“Kalau dibuang ke sungai, bukan hanya soal estetika, tapi juga kesehatan. Air sungai masih dimanfaatkan masyarakat, dan limbah ini bisa mencemari ekosistem, termasuk ikan yang dikonsumsi,” katanya.
Ia membandingkan dengan negara maju, di mana kebersihan sungai menjadi salah satu indikator kualitas lingkungan. Di negara maju, kawasan bantaran sungai umumnya ditata menjadi ruang publik seperti taman dan jalan, bukan permukiman padat.
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada berbagai cara pemanfaatan limbah popok agar tidak hanya menjadi sampah, tetapi juga bernilai ekonomi.
Popok bekas diketahui memiliki kandungan serat dan bahan penyerap (super absorber) yang dapat dimanfaatkan, antara lain sebagai media tanam dan budidaya jamur karena mampu menyimpan kelembapan. Namun, pemanfaatan tersebut harus dilakukan dengan prosedur yang benar agar aman.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Sri Wahyono, menjelaskan bahwa ada tiga tahapan penting dalam pengolahan limbah popok. Pertama, popok harus dibersihkan dengan cara dibilas untuk menghilangkan kotoran padat dan cair yang mengandung patogen berbahaya.
Kedua, popok perlu dikeringkan di bawah sinar matahari agar lebih higienis serta memudahkan proses pemisahan bahan. Ketiga, popok harus dipilah dan disimpan terpisah dari sampah lain karena termasuk kategori limbah residu.
“Pengelolaan limbah popok tidak bisa sembarangan karena di dalamnya ada lapisan plastik, bahan penyerap, serta kontaminasi biologis dari kotoran manusia,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa bahan penyerap dalam popok memiliki sifat mengikat air dengan sangat kuat, sehingga menyulitkan proses daur ulang jika tidak ditangani dengan benar.
Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang popok sembarangan serta mulai memilah sampah dari rumah tangga.
Selain itu, pemanfaatan limbah popok juga dinilai berpotensi menjadi bagian dari ekonomi sirkular, di mana sampah dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna.
“Pengelolaan limbah bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga bisa membuka peluang ekonomi jika dikelola dengan baik,” ujar Sofyan Tan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami bahaya limbah popok, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Dorong Solusi Lingkungan dan Ekonomi, BRIN Gelar Pelatihan Pemanfaatan Limbah Popok"
Posting Komentar