Tensi Geopolitik masih Memanas, Emas Bertahan Mahal
Seorang pegawai Galeri 24 menunjukkan logM mulia yang dijual di Galeri 24. Pada perdagangan Selasa (27/1/2026) pagi, emas masih bertahan di atas US$5.000 per ons troy.lensamedan-istAnalis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, harga emas masih ditopang oleh sentimen geopolitik yang memanas belakangan ini.
Sentimen geopolitik lebih sulit ditafsirkan pengaruhnya terhadap pembentukan harga emas, dibandingkan dengan kebijakan moneter Bank Sentral.
Karena kebijakan moneter lebih terukur, sementara memburuknya tensi geopolitik cenderung memicu kepanikan di kalangan para investor.
"Kepanikan tersebut yang kerap dituangkan dalam bentuk aksi beli ke aset yang dinilai lebih aman dari gejolak pasar," ujar Gunawan di Medan, Selasa (27/1/2026).
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pagi ini dibuka melemah di level 8.974, dan sejauh ini tengah berkonsolidasi turun ke level psikologis 8.900.
IHSG disebutkan Gunawan bergerak anomali dibandingkan dengan mayoritas bursa saham di Asia pada umumnya.
"Pelemahan IHSG ini terjadi justru di saat bursa saham di Asia mulai membaik," sebutnya.
Terpisah, mata uang Rupiah juga ditransaksikan melemah dikisaran level 16.795 per Dolar AS menjelang kebijakan moneter Bank Sentral AS.
Diproyeksikan pada perdagangan hari ini Rupiah akan berada dalam rentang 16.770 hingga 16.830 per Dolar AS.
Pelemahan Rupiah akan membebani kinerja IHSG dalam rentang lebar 8.850 hingga 8.980. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Tensi Geopolitik masih Memanas, Emas Bertahan Mahal "
Posting Komentar