Di Selembar Kertas, Anak Pengungsi Aceh Tamiang Titipkan Harapan Pemulihan

LensaMedan - Di tengah sisa-sisa banjir yang masih menyelimuti Aceh Tamiang, tawa anak-anak sesekali terdengar dari sudut posko pengungsian. Di balik tawa itu, tersimpan kisah kehilangan, kerinduan, sekaligus harapan sederhana tentang kehidupan yang ingin kembali pulih.

Sejumlah relawan asal Kota Medan datang menyusuri lokasi pengungsian di Posko Sumur Cincin Kampung Durian dan Posko Kota Lintang Bawah, Kuala Simpang. Mereka tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga menghadirkan ruang aman bagi anak-anak korban banjir untuk memulihkan trauma lewat aktivitas bermain, bercerita, dan menulis harapan.

Melalui selembar kertas, anak-anak diajak menuliskan impian mereka. Bukan permintaan mewah, melainkan harapan polos tentang rumah, sekolah, orang tua, dan kota yang kembali hidup seperti sedia kala.

Salah satunya Aulia Pertiwi (13), siswi kelas VII, yang menuliskan harapan agar keadaan segera normal. Banjir tak hanya merusak rumah dan sekolahnya, tetapi juga menghentikan aktivitas sang ibu yang biasa berjualan demi menghidupi keluarga.

“Ingin semuanya membaik, kota dan sekolah saya juga pulih seperti sebelumnya, supaya ibu bisa berdagang lagi,” ujar Aulia lirih, matanya menyimpan kerinduan akan rutinitas yang hilang.

Bagi anak-anak lainnya, harapan itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Rafa, dengan tulisan tangan polosnya, menyapa langsung Presiden. “Halo Pak Presiden, kami mau punya lapangan bola,” tulisnya.

Sebuah kalimat singkat yang mencerminkan kerinduan anak-anak untuk kembali bermain, berlari, dan tertawa bersama teman-temannya tanpa bayang-bayang bencana.

Menurut Andrey, salah satu relawan, kegiatan ini menjadi bagian dari trauma healing agar anak-anak dapat menyalurkan perasaan dan harapan mereka. Ia menyebut, banyak anak tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga masa depan keluarga dan lingkungan sekitarnya.

“Ada yang berharap punya rumah lagi, ada yang ingin sekolahnya dibangun kembali, ada juga yang berharap orang tuanya bisa bekerja seperti dulu. Harapan mereka beragam, tapi semuanya tentang pemulihan,” kata Andrey, senin (19/01).

Ratusan lembar harapan tersebut rencananya akan dikemas dan dikirim ke Istana Presiden di Jakarta sebagai simbol suara anak-anak korban banjir Aceh Tamiang. Para relawan berharap, surat-surat itu bisa dibaca dan menjadi pengingat bahwa di balik angka dan data bencana, ada anak-anak yang menunggu masa depan mereka kembali utuh.

“Mudah-mudahan harapan kecil ini bisa sampai dan mencerahkan kehidupan mereka,” ujar Andrey.

Di tengah banjir yang memisahkan rumah, sekolah, dan ruang bermain, anak-anak Aceh Tamiang memilih menitipkan harapan. Pada kertas sederhana, mereka percaya bahwa suatu hari nanti, kota mereka akan pulih, dan kehidupan bisa kembali berjalan seperti sebelumnya.

(Mi7)

Belum ada Komentar untuk "Di Selembar Kertas, Anak Pengungsi Aceh Tamiang Titipkan Harapan Pemulihan"

Posting Komentar

Di Selembar Kertas, Anak Pengungsi Aceh Tamiang Titipkan Harapan Pemulihan

LensaMedan - Di tengah sisa-sisa banjir yang masih menyelimuti Aceh Tamiang, tawa anak-anak sesekali terdengar dari sudut posko pengungsian...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel