Bencana Alam Sebabkan Distribusi Bahan Pokok Terganggu, Inflasi Tahunan di Gunungsitoli Tembus 10,84%
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, saat memaparkan Berita Resmi Statistik, di Kantor BPS Sumut, Senin (5/1/2026).lensamedan-juli simanjuntakLensaMedan – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Utara (Sumut), mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada Desember 2025 sebesar 4,66% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,25.
Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 10,84% dengan IHK sebesar 119,24, dan terendah terjadi di Kabupaten Karo sebesar 3,15% dengan IHK sebesar 111,20.
Sementara Kota Medan mengalami inflasi sebesar 4,36% dengan IHK sebesar 111,43; Kota Pematangsiantar mengalami inflasi sebesar 5,37% dengan IHK sebesar 114,00; Kota Padangsidimpuan mengalami inflasi sebesar 5,46% dengan IHK sebesar 113,52.
Kota Sibolga mengalami inflasi sebesar 5,62% dengan IHK sebesar 114,63; Kabupaten Deliserdang mengalami inflasi sebesar 5,16% dengan IHK sebesar 112,66, dan Kabupaten Labuhanbatu mengalami inflasi sebesar 4,74% dengan IHK sebesar 115,67.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra menyebutkan, tingginya angka inflasi Sumut yang di atas target inflasi ini dipengaruhi pola distribusi yang terganggu akibat bencana alam yang terjadi sejak akhir November 2025 lalu di sejumlah kabupaten, terutama kabupaten/kota yang masuk ke dalam IHK.
“Sehingga tingginya inflasi ini masih cukup terkendali terutama di kota/kabupaten IHK lainnya seperti Kota Medan dan lainnya,” ujar Asim seusai pemaparan Berita Resmi Statistik, di Kantor BPS Sumut, Senin (5/1/2026).
Lebih jauh dikatakan, Asim, inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks sebagian besar kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 8,44%; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,57%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,71%.
Kemudian kelompok kesehatan sebesar 3,15%; kelompok transportasi sebesar 1,37%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,71%; kelompok pendidikan sebesar 2,82%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,43%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 14,83%.
Sementara kelompok yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang turun sebesar 0,28% dan kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,02%,” katanya.
Jika dilihat berdasarkan komoditas kata Asim, maka komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Desember 2025, antara lain emas perhiasan, cabai merah, bawang merah, cabai rawit, beras, dan kelapa.
“Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi antara lain tomat, bawang putih, jengkol, kentang, daging babi, sabun detergen bubuk, popok bayi sekali pakai, dan juga angkutan udara,” tambahnya.
Jika dilihat dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, maka terlihat ada peningkatan inflasi. Di tahun 2023, inflasi Sumut tercatat sebesar 2,25%, kemudian di tahun 2024 tercatat sebesar 2,12%, dan melonjak cukup tajam di tahun 2025 yang tercatat sebesar 4,66%. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Bencana Alam Sebabkan Distribusi Bahan Pokok Terganggu, Inflasi Tahunan di Gunungsitoli Tembus 10,84% "
Posting Komentar