Imbas Pencabutan Izin, Sejumlah Emiten Terkoreksi
Grafik pergerakan IHSG. Pada perdagangan Rabu (21/1/2026), IHSG bertahan di zona merah.lensamedan-istLensaMedan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bertahan di zona merah sepanjang sesi perdagangan berlangsung.
Bahkan untuk capaian level tertinggi IHSG juga berada di zona negatif 9.105, sementara posisi terendah IHSG berada di level 8.977.
Sebelum akhirnya IHSG ditutup melemah 1.36% di level 9.010,33. Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, kineja IHSG melemah ditengah memburuknya sentimen global ditambah dengan aksi jual pada emiten yang terdampak dari pencabutan izin usaha pasca bencana besar November silam.
Sejumlah emiten besar yang mengalami penurunan kinerja pada perdagangan hari ini adalag BUMI, UNTR, ASII, BBCA hingga BRMS.
Beberapa saham yang mengalami koreksi dipicu oleh penutupan izin usaha yang dikeluarkan pemerintah sebelumnya.
Tekanan jual di saham-saham yang berkorelasi dengan penutupan perusahaan tersebut sangat membebani IHSG, dan memicu koreksi bursa ditengah membaiknya kinerja bursa saham di Asia.
"Ditambah lagi tensi geopolitik yang merembet ke masalah ekonomi (perang tarif) telah memicu gejolak pada bursa saham. Meskipun untuk sejumlah bursa saham di China mampu berbalik arah dan ditutup menguat di zona hijau," ujar Gunawan di Medan, Rabu (21/1/2026).
Berbeda dengan IHSG, mata uang Rupiah yang pada sesi perdagangan pagi sempat melemah, justru berbalik arah dan ditutup menguat di level 16.930 per Dolar AS.
Rupiah sempat melemah hingga ke level 16.965 per Dolar AS pada perdagangan pagi seiring dengan memburuknya sentimen global ditengah memanasnya perang dagang.
Sementara itu harga emas justru masih berada di zona hijau dan ditransaksikan dikisaran harga US$4.861 per ons troy, atau sekitar Rp2,65 juta per gram.
Emas disebutkan Gunawan masih kokoh dan terus merangsek naik dekati US$4.900.
Memburuknya tensi geopolitik belakangan ini justru mendorong penguatan pada kinerja harga emas.
Di saat situasi ekoomi kian tidak menentu, emas memanfaatkan momentum tersbeut untuk terus mengukir rekor tertinggi barunya.
"Meskipun dinilai sudah kemahalan secara teknikal, nyatanya harga emas masih terus diburu disaat ekonomi alami bergejolak," pungkasnya. (juli simanjuntak)
(Medan)
Bahkan untuk capaian level tertinggi IHSG juga berada di zona negatif 9.105, sementara posisi terendah IHSG berada di level 8.977.
Sebelum akhirnya IHSG ditutup melemah 1.36% di level 9.010,33. Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, kineja IHSG melemah ditengah memburuknya sentimen global ditambah dengan aksi jual pada emiten yang terdampak dari pencabutan izin usaha pasca bencana besar November silam.
Sejumlah emiten besar yang mengalami penurunan kinerja pada perdagangan hari ini adalag BUMI, UNTR, ASII, BBCA hingga BRMS.
Beberapa saham yang mengalami koreksi dipicu oleh penutupan izin usaha yang dikeluarkan pemerintah sebelumnya.
Tekanan jual di saham-saham yang berkorelasi dengan penutupan perusahaan tersebut sangat membebani IHSG, dan memicu koreksi bursa ditengah membaiknya kinerja bursa saham di Asia.
"Ditambah lagi tensi geopolitik yang merembet ke masalah ekonomi (perang tarif) telah memicu gejolak pada bursa saham. Meskipun untuk sejumlah bursa saham di China mampu berbalik arah dan ditutup menguat di zona hijau," ujar Gunawan di Medan, Rabu (21/1/2026).
Berbeda dengan IHSG, mata uang Rupiah yang pada sesi perdagangan pagi sempat melemah, justru berbalik arah dan ditutup menguat di level 16.930 per Dolar AS.
Rupiah sempat melemah hingga ke level 16.965 per Dolar AS pada perdagangan pagi seiring dengan memburuknya sentimen global ditengah memanasnya perang dagang.
Sementara itu harga emas justru masih berada di zona hijau dan ditransaksikan dikisaran harga US$4.861 per ons troy, atau sekitar Rp2,65 juta per gram.
Emas disebutkan Gunawan masih kokoh dan terus merangsek naik dekati US$4.900.
Memburuknya tensi geopolitik belakangan ini justru mendorong penguatan pada kinerja harga emas.
Di saat situasi ekoomi kian tidak menentu, emas memanfaatkan momentum tersbeut untuk terus mengukir rekor tertinggi barunya.
"Meskipun dinilai sudah kemahalan secara teknikal, nyatanya harga emas masih terus diburu disaat ekonomi alami bergejolak," pungkasnya. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Imbas Pencabutan Izin, Sejumlah Emiten Terkoreksi "
Posting Komentar