Ekonom ini Minta Harga Keekonomian Pangan Perlu Dihitung Ulang, Biar Ga Pada Ribut


Lensamedan - Dari sejumlah harga kebutuhan pangan masyarakat yang sempat mengalami kenaikan dan sebelumnya bahkan mencetak rekor, sejumlah komoditas pangan tersebut dalam satu pekan terakhir mengalami penurunan harga, seperti Daging ayam dan telur ayam.

Daging ayam yang sempat mencetak rekor bertengger di Rp42 ribuan per kilogram (kg), saat ini dijual dikisaran harga Rp35 ribuan per kg. Selanjutnya untuk telur ayam yang dijual dikisaran harga Rp27 ribuan per kg saat ini dijual dikisaran harga Rp24 ribuan per kg. Keduanya mengalami penurunan harga diwaktu yang bersamaan.

Pemerhati ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin mengatakan, sebelumnya, harga daging ayam sempat meroket justru disaat perayaan tahun baru selesai dilakukan, termasuk juga harga telur ayam. Membaiknya kedua harga komoditas ini tidak terlepas dari mulai membaiknya harga ikan segar. 

“Disisi lainnya saya yakin bahwa peternak sudah melakukan penyesuaian stok yang lebih ideal setelah perayaan hari besar,” kata Gunawan Benjamin di Medan, Kamis (27/1/2022).

Kecuali untuk harga minyak goreng. Meskipun ada minyak goreng yang dijual Rp14 ribu per liter, namun dikarenakan belum merata penjualannya, maka harga minyak goreng di pasar tradisional masih dikisaran angka Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter sejauh ini. Harga minyak goreng disimpulkan masih bertahan mahal dan belum mengalami penurunan.

‘Nah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kemungkinan dengan harga-harga pangan yang sempat naik tinggi sebelumnya, apakah akan kembali normal seperti tahun tahun kemarin, atau justru semakin mahal?. Saya menilai harga komoditas pangan daging ayam dan telur ayam ini berpeluang akan lebih mahal dibandingkan dengan rata-rata tahun sebelumnya,” urainya.

Karena telah terjadi kenaikan harga bahan baku produksi kedua komoditas tersebut. Jadi harga keekonomiannya akan naik. Nah ini yang membuat mengapa harga daging maupun telur ayam secara rata-rata akan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kalau untuk harga minyak goreng, saya menilainya karena ada intervensi pemerintah jadi harganya bisa turun.

Tetapi kalau berbicara harga keekonomiannya, justru harga minyak goreng saat ini harusnya naik lagi. Karena dalam sepekan terakhir harga CPO terus naik, bertengger dikisaran angka 5.300-an ringgit per ton. Jadi harga keekonomian minyak goreng saat ini tidak bisa digambarkan dengan harga minyak goreng yang berlaku di pasar khususnya pasar tradisional.

“Saya melihat untuk komoditas pangan di tahun ini terbebani dengan kenaikan harga pupuk dan pestisida ditambah dengan tren konsumsi yang naik serta adanya ekspektasi pemulihan ekonomi. Jadi biaya produksi sekarang mengalami kenaikan. Untuk itu harga keekonomian di masing-masing bahan pangan perlu dihitung ulang, sehingga nantinya kita tidak meributkan harga pangan yang ideal di tengah masyarakat,” tuturnya.

Dari sekian banyak bahan pangan pokok, harga cabai merah yang saat ini dijual dikisaran Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kg yang masih terbilang sangat murah. Harga keekonomian cabai merah sendiri seharusnya bisa membuat harga cabai merah dijual dalam rentang Rp25 ribu hingga Rp33 ribu per kg di tingkat konsumen. 

Namun karena supply yang melimpah, harga cabai merah masih ditransaksikan murah. Dengan biaya produksi cabai merah yang mahal, maka kerugiannya masih ditanggung oleh petani cabai merah sejauh ini. (*)



(Medan) 


Belum ada Komentar untuk "Ekonom ini Minta Harga Keekonomian Pangan Perlu Dihitung Ulang, Biar Ga Pada Ribut"

Posting Komentar

Sidak Stock Point, Cara Mendag Zulhas Pastikan Stok Migor Curah Aman

Lensamedan - Kesungguhan  Menteri  Perdagangan  Zulkifli  Hasan  mengamankan  stok minyak goreng curah dengan harga terjangkau terus ditunju...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel