Peternak Petelur Demo di DPRD Sumut


Lensamedan - Puluhan peternak telur di Sumatera Utara (Sumut) yang tergabung dalam Perhimpunan Peternak Petelur Sumut (P3SU)didukung Himpunan Mahasiswa Al Wasliyah Sumut menggelar aksi demo di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut, Rabu (27/10/2021).

Aksi ini merupakan bentuk kegelisahan peternak telur mandiri terhadap harga jagung yang saat ini bertahan mahal. Padahal, 50% dari pakan ternak yang berasal dari jagung. Tingginya harga jagung yang diatas ambang batas sejak akhir 2020 sampai dengan saat ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah.

Ketua P3SU, Fadhillah Boy, mengatakan bahwa kondisi di kandang saat ini sangat mengkhawatirkan. Kondisi ini menurut Fadhillah sudah mereka alami sejak akhir tahun 2020, saat  Harga Pokok Penjualan (HPP) pakan ternak sangat tinggi dimana 50% pakan ternak ini adanya di jagung. 

"Dilemanya buat kami adalah harga pangan yang sangat tinggi tapi harga telur sangat murah. Banyak peternak ini yang sudah bangkrut karena HPPnya itu 50% tadi. Harga jagung sekitar Rp3000 an sekarang puncaknya di harga Rp5.800 per kg. Saat harga jagung di Rp3.000 per kg, harga telur masih Rp1000 an per butir. Saat ini harga jagung hampir Rp6.000 per kg, tapi harga telur juga masih Rp1000 per butir. Maka, sudah cukuplah peternak-peternak ini yang sudah bangkrut," katanya, Rabu (27/10/2021).

Dikatakannya,  berdasarkan data P3SU, sudah banyak perusahaan yang kolaps atau bangkrut di Sumut. Karena tidak tahan dengan kondisi ini karena setiap hari mengalami kerugian.

"Maka dengan aksi ini kami harap pemerintah jangan diam saja. Tapi saat ini tidak ada respon apa-apa. Inilah yang membuat kami turun. Kami mengeluarkan aspirasi kami. Dan saya  disini mewakili ratusan pengusaha ternak skala kecil dan menengah. Kami harapkan aspirasi kami ini sampai ke pusat terutama ke Kementerian Pertanian," jelasnya.

Para peternak menurut Fadhillah juga mempertanyakan kenapa hingga saat ini tidak dibuka kran impor jagung. Karena bila kembali ke UU No 7 Tahun 2020 bahwa harga jagung paling tinggi dibeli konsumen itu Rp4.500 tapi ternyata saat ini Rp5.200 sampai Rp5.300 dan puncaknya pernah di Rp5.800. 

"Masalah ini juga telah dibahas beberapa  waktu lalu oleh Pak Presiden. Tapi realitanya tidak ada penurunan harga saat ini. Maka kami berharap Pak Presiden bisa mendengar bahwa kami tidak tahan pada posisi saat ini. Kalau harga normal  jagung ini di bawah Rp4.000 tapi buktinya sekarang tidak. Semoga dengan aksi ini pihak DPRD Sumut juga bisa memanggil pihak pertanian dan perindustrian untuk membahas ini. Karena saat ini tidak ada aturan yang melarang impor jagung. Kami harapkan dibukanya kran impor jagung ini," terangnya.

Dalam aksinya, para peternak petelur menyerahkan telur kepada Anggota DPRD Sumut yang menerima aksi mereka. (*)



(Medan) 

Belum ada Komentar untuk "Peternak Petelur Demo di DPRD Sumut "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel