Belajar dari Rumah Harus Jadi Momentum Kembalinya Fungsi Rumah sebagai Lembaga Pendidikan Pertama  

Lensamedan- Aktivitas Belajar dari Rumah (BDR) yang berjalan sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia menjadikan anak sebagai korban kekerasan, baik kekerasan fisik mau pun kekerasan verbal. Padahal, BDR harusnya bisa menjadi titik awal mengembalikan fungsi rumah sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama.

Guru Besar Universitas Negeri Medan  Prof. Dr. Sri Minda Murni, M.S mengatakan, dari data yang dikeluarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kekerasan fisik terhadap anak meningkat 11 persen, sementara kekerasan verbal meningkat 62,4 persen.  

“Kekerasan akan terjadi, ketika  orang tua marah akibat anak tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan guru, bahkan termasuk Ketika guru mengirim tugas ke anak,” ujar Sri Minda Murni di hadapan seratus orang guru dan kepala sekolah yang mengikuti Workshop Pendidikan dengan thema Strategi Pembelajaran Jarak Jauh di Era New Normal yang digelar Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa (14/10/2020).

 

Kondisi ini menurut Sri Minda Murni dikarenakan keluarga sejak dari awal tidak  mempersiapkan diri sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama. Padahal seharusnya dalam keseharian, rumahku adalah sekolahku, jadi tugas-tugas di sekolah bisa diakomodir dengan baik oleh orang tua dan orang-orang di sekitarnya.

“Bahkan ketika misalnya, tugas-tugas itu terlalu sulit dan terlalu abstrak untuk anak-anaknya, maka mereka dapat menyiasati bagaiman konteks abstrak itu sampai kepada anak mereka, karena merekalah yang paling tahu bagaimana gaya belajar anaknya,”  kata Sri Minda Murni.

Dikatakannya, selain dari keluarga, tantangan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) juga berasal dari guru, di mana para -guru ini memang belum siap untuk merancang pembelajaran aktif walaupun tatap muka.

“Jika kompetensi ini sudah dimiliki maka sebetulnya mudah  mengaplikasikannya ke belajar daring,” katanya lagi.

Guru belum juga cukup kompetensinya merancang lembar kerja yang produktif, imajinatif dan terbuka, termasuk belum mahir merancang materi.

 

“Materi seperti  apa yang diharapkan selama Ini? Yang interaktif, yang menarik, bahkan yang persuasif. Jadi anak melihat  dan dia merasa terpersuaif,” tuturnya.

 

Sri Minda  Murni memastikan, Unimed  sudah banyak melakukan kegiatan untuk membantu orang tua menjalankan PJJ, salah satunya dengan melakukan webinar yang menghadirkan guru dan perwakilan orang tua.

Pada webinar itu, para peserta diberikan kesempatan untuk mendengarkan materi secara bersama-sama untuk kemudian melakukan rapat tentang apa yang akan dilakukan.

 

“Yang mereka rapatkan itu mengenai jalan keluar terbaik apa yang bisa diterapkan untuk peningkatan mutu tugas yang dikirim dari sekolah ke anak didik,” tegasnya.

 

Sebelumnya Sekretaris Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Drs. Alfian Hutauruk, Mpd yang juga hadir dan menjadi pembicara menyebutkan, dari data yang mereka miliki, Di wilayah Tapanuli dan Nias, rata-rata di bawah 50 persen sekolah untuk jenjang SMA/SMK yang melaksanakan pembelajaran secara daring.

“Mulanya semangat peserta didik ikut pembelajaran secara daring. Tapi saat ini  justru peserta didik yang aktif tinggal 50 persen. Artinya dari 50 persen yang aktif di awal pemberlakuan belajar secara daring, kini tingga 50 persen lagi saja yang aktif. Kalau pun aktif, hanya namanya saja,”pungkasnya.

(Medan)
 

Belum ada Komentar untuk "Belajar dari Rumah Harus Jadi Momentum Kembalinya Fungsi Rumah sebagai Lembaga Pendidikan Pertama  "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel