Festival Danau Toba Bukan Sekedar Seremoni Belaka


Lensamedan- Pelaksanaan Festival Danau Toba (FDT) tahun 2019 dinilai menjadi catatan buruk bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) terkhusus Dinas Pariwisata. Sebab, event yang disebut-sebut menghabiskan anggaran sekitar Rp 1,4 miliar, kurang menarik sehingga minim mendatangkan turis asing maupun lokal.

Beredar kabar, event tahunan itu ditiadakan pada tahun 2020 ini. Namun belakangan, kabar yang sempat menjadi polemik tersebut diklarifikasi dan tetap diselenggarakan.

Ketua Umum Appara Indonesia Hendra Gunawan Kaban mengatakan, kabar yang sempat menyebutkan tentang tidak diadakannya FDT 2020 namun pada akhirnya dikoreksi tetap akan diadakan lagi adalah bukti ketidakmampuan Dinas Pariwisata Sumut dalam melaksanakan event-event berkelas. Apalagi, menempatkan event sebagai pemicu utama industri pariwisata di Sumut.

"Hal ini sungguh-sungguh sangat disayangkan, padahal Sumut di kalangan praktisi industri event yang berhubungan dengan promosi selalu menjadi target utama setelah Pulau Jawa. Ini tentu menjadi indikasi bahwa secara audiens, Sumut memiliki potensial. Terlebih lagi, penyelenggaraan event-event tersebut selalu ditampilkan ciri khas daerah sebagai kekhasan," ungkap Hendra dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Rabu (22/1/2020).

Dikatakan Hendra, Dinas Pariwisata Sumut seharusnya mampu menyerap dan mengemas potensi-potensi yang ada menjadi kekuatan yang terintegrasi. Event FDT sebagai pemicu utama, seharusnya dipahami betul impact-nya menggulirkan pariwisata secara maksimal.

"Pelaksanaan event FDT mulai dari konsep, promosi hingga implementasinya tentu harus sangat diseriusi, sehingga tidak terkesan seremoni dan serapan anggaran semata. Bahkan, event harusnya mampu menjadi idola dan penarik para wisatawan untuk hadir," tegas dia.

Hendra mengatakan, profesionalitas pelaksana hingga konsep-konsep yang bagus dan menarik haruslah dibangun dengan baik. Para stakeholder
dilibatkan dalam penyusunan konsep, sehingga hasilnya menjadi optimal.

"Penyelenggaraan acara FDT haruslah berdampak dalam masyarakat juga, hal itu salah satu indikator keberhasilannya. Tidak instan tapi dengan konsep bagus, berkelanjutan dan terus menerus ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya, maka itu akan nyata," cetusnya.

Dikatakan Hendra, ada banyak elemen dalam melaksanakan sebuah event yang optimal. Paling tidak, ada 9 elemen dasar yang penting saling berkaitan langsung dalam penyelenggaraan event harus dijalankan.

Rumusan untuk melaksanakan tahapan-tahapan itu adalah hal paling mendasar, mulai dari konsep, waktu, tempat, promosi, perlengkapan/peralatan, konten, pengisi acara, tim pelaksana dan biaya.

"Elemen-elemen dasar dalam pelaksanaan event sering tidak dilakukan dinas karena selama ini objektifnya hanya serapan anggaran dan 'asal bapak senang'. Tidak mau bersusah-susah memikirkan hasil, tapi mau impact-nya berfaedah buat masyarakat. Atau, tidak menjadi persoalan yang penting terlaksana dan bonusnya bos senang," sesal Hendra.

Menurut dia, jangan alergi untuk belajar khususnya kritik dan masukkan terlebih dari para praktisi event, karena dana yang dialirkan itu adalah uang rakyat.

"FDT hanyalah 'puncak gunung es' atas ketidakprofesionalan, di luar itu ada berapa banyak event yang dilaksanakan yang tidak profesional," ucapnya.

Hendra menambahkan, event organizer yang baik di Sumut cukup banyak dan sudah sangat profesional bahkan sudah melanglang ke mancanegara. "Jangan tidak paham dengan potensi sendiri, eksplor dan jadilah pendengar yang bijak. Istilahnya, jangan celana yang dipermak pinggang yang melar. Olahragalah dan atur pola makan," tandasnya.

Sebelumnya, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi menanggapi sejumlah aspirasi yang mengkritik rencana penghapusan FDT 2020. Kata Gubsu, bukan event-nya yang ditiadakan, melainkan bentuknya yang diubah. Sekaligus mengubah nama FDT kepada kegiatan yang lain, yang dapat mendatangkan wisatawan.

“FDT perlu kita kaji. Kita mau buat kegiatan di sana (Danau Toba) agar tidak monoton seperti sekarang. Misalnya tari-tarian di sana. Jadi tahun ini tetap dilaksanakan, tapi namanya kita ubah. Mungkin Sky Danau Toba, atau lomba memancing,” ujar Edy menjawab wartawan seusai melaksanakan salat di Masjid Agung, Senin, 13 Januari lalu.

Edy menyebut, pihaknya sedang fokus untuk mengalihkan kegiatan apa yang bisa dilakukan di Danau Toba agar mendatangkan sejuta wisatawan lokal maupun internasional. Menurutnya, FDT 2019 yang lewat terlalu monoton dan tidak mendatangkan manfaat, khususnya bagi wisatawan.

Ia tidak menginginkan wisatawan yang datang ke Danau Toba hanya singgah sebentar, lalu angkat kaki. Ia menginginkan festival selanjutnya mampu mendatangkan sejuta wisawatan.

Mantan Pangkostrad ini mengaku miris karena FDT 2019 tidak banyak mendatangkan turis asing maupun orang lokal untuk berkunjung melihat keindahan danau vulkanik itu. “Danau Toba itu perlu kegiatan yang bisa membuat wisatawan datang. Dari pusat meminta satu juta wisatawan. Saat ini kita belum dapat segitu, separuhnya saja tidak,” ucapnya.

Dia berharap, FDT yang akan datang mempunyai konsep beda. Yakni, lebih menonjolkan adat istiadat Batak, agar dapat menarik para wisatawan. “Mari kita bikin kreativitas, mari kita ceritakan tentang ada istiadat suku Batak yang ada di sana,” ucapnya.

Gubsu mencontohkan bentuk kegiatan yang mungkin menggantikan FDT adalah triatlon. “Triatlon itu ada lari, renang, sepeda, atau kegiatan-kegiatan yang lain kita bentuk. Jadi bukan ditiadakan kegiatannya, tapi bentuknya apa, metodenya apa, agar si wisatawan itu datang ke Danau Toba,” terangnya.


(Medan)

Belum ada Komentar untuk "Festival Danau Toba Bukan Sekedar Seremoni Belaka"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel