Sofyan Tan: Jangan Lupakan Anak Orang Miskin Setelah Kalian Sukses
Anggota MPR RI sekaligus anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, saat Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara kepada 200 orangtua dan mahasiswa di Aula Kampus Satya Terra (ST) Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Selasa (27/10/2026).lensamedan-istLensaMedan – Menjadi mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bukan sekadar kesempatan untuk mengubah nasib diri dan keluarga.
Ada tanggung jawab moral yang harus dipikul, yakni kelak membantu anak-anak dari keluarga miskin lainnya agar juga bisa merasakan bangku perguruan tinggi.
Pesan itulah yang disampaikan anggota MPR RI sekaligus anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, saat Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara kepada 200 orangtua dan mahasiswa di Aula Kampus Satya Terra (ST) Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Selasa (27/10/2026).
Di hadapan peserta, Sofyan Tan mengingatkan bahwa keadilan dalam pendidikan tidak cukup hanya dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang. Sebab, tidak semua anak lahir dari keluarga dengan kemampuan ekonomi yang setara.
Bagi keluarga mampu, biaya kuliah mungkin bukan persoalan. Namun, bagi keluarga miskin, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi bisa menjadi perjuangan panjang yang sulit diwujudkan.
"Anak orang kaya bisa kuliah karena kemampuan orangtuanya. Tetapi anak orang miskin sering kali harus mengubur cita-citanya karena tidak punya biaya. Di sinilah negara harus hadir agar kemiskinan tidak menjadi penghalang seseorang mendapatkan pendidikan," pesan legislator dari Dapil Sumut 1 itu.
Menurut Sofyan Tan, program KIP Kuliah merupakan salah satu wujud nyata implementasi nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Negara harus memastikan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tinggi tidak hanya dinikmati kelompok masyarakat yang berkecukupan.
Hal itu juga sejalan dengan amanat UUD 1945 tentang hak setiap warga negara mendapatkan pendidikan dan kewajiban negara mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bahkan, KIP Kuliah memiliki makna lebih luas dalam menjaga keutuhan NKRI dan mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. Sebab, kesempatan pendidikan harus terbuka bagi seluruh anak bangsa tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.
Namun, Sofyan Tan menegaskan, mahasiswa yang telah menerima bantuan tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka harus belajar sungguh-sungguh, menjaga prestasi, dan menyelesaikan pendidikan dengan penuh tanggung jawab.
"Jangan sia-siakan kesempatan ini. Masih banyak anak orang miskin yang ingin kuliah, tetapi tidak mendapatkan kesempatan seperti kalian. Karena itu, belajarlah dengan sungguh-sungguh dan buktikan bahwa bantuan negara ini tidak diberikan secara percuma," tegas sosok pejuang pendidikan tersebut.
Lebih dari itu, ia menitipkan pesan agar keberhasilan yang kelak diraih para mahasiswa tidak membuat mereka melupakan perjuangan orang-orang kecil.
"Kalau nanti kalian sudah berhasil, punya pekerjaan dan penghasilan yang baik, berjanjilah untuk membantu anak-anak orang miskin lainnya agar bisa kuliah. Jangan melihat sukunya apa, agamanya apa, atau dari kelompok mana. Tolonglah siapa saja yang membutuhkan," ujarnya.
Bagi Sofyan Tan, itulah makna Pancasila yang sesungguhnya. Nilai-nilai kebangsaan tidak cukup hanya dihafalkan atau diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Sebab, keberhasilan seorang penerima KIP Kuliah bukan hanya ketika ia berhasil mengangkat derajat keluarganya, melainkan juga ketika suatu hari mampu menjadi jalan bagi anak-anak miskin lainnya untuk meraih masa depan yang lebih baik. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Sofyan Tan: Jangan Lupakan Anak Orang Miskin Setelah Kalian Sukses"
Posting Komentar