HUT Ke-81, Akademisi UNIMED: TNI Jangan Terseret Politik Praktis
LensaMedan — Momentum HUT ke-81 TNI menjadi perhatian akademisi. Dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Medan (UNIMED), Dr. Bakhrul Khair Amal, M.Si., mengingatkan TNI agar tetap profesional, netral, dan tidak terseret kepentingan politik praktis.
Pesan tersebut disampaikan Bakhrul dalam Dialog Aspirasi Sumut yang digelar Radio Republik Indonesia (RRI) Medan, Senin (5/10/2026). Dialog dipandu Andreas Purba dan turut menghadirkan Fredick Broven Ekayanta, akademisi Ilmu Politik FISIP Universitas Sumatera Utara (USU).
Menurut Bakhrul, kekuatan TNI tidak hanya bergantung pada kemampuan pertahanan dan alutsista, tetapi juga pada kepercayaan serta dukungan masyarakat. Karena itu, hubungan TNI dengan rakyat harus terus dipelihara.
"TNI harus tetap bersama rakyat. Kekuatan pertahanan negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan militer, tetapi juga oleh dukungan dan persatuan masyarakat," ujar Bakhrul.
Ia mengatakan tantangan yang dihadapi Indonesia semakin kompleks. Persoalan ketahanan nasional tidak hanya berkaitan dengan ancaman militer, tetapi juga menyangkut aspek ekonomi, sosial, politik, serta dinamika geopolitik.
Di tengah kondisi tersebut, Bakhrul menilai netralitas TNI menjadi semakin penting. Menurutnya, institusi pertahanan harus tetap menjalankan tugas sesuai koridor dan tidak masuk dalam tarik-menarik kepentingan politik.
"Pengalaman masa lalu harus menjadi bahan evaluasi. TNI perlu tetap berada dalam koridor tugas pertahanan dan tidak terseret ke dalam kepentingan politik praktis," katanya.
Jangan Biarkan Perbedaan Politik Memecah Masyarakat
Bakhrul juga menyoroti potensi polarisasi akibat perbedaan pilihan politik. Menurut dia, perbedaan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi tidak boleh berkembang menjadi konflik yang memecah persatuan.
Ia menilai TNI memiliki posisi strategis sebagai salah satu kekuatan pemersatu bangsa. Posisi tersebut, kata dia, akan semakin kuat apabila TNI mampu mempertahankan profesionalitas dan kepercayaan publik.
Kepercayaan masyarakat, lanjut Bakhrul, merupakan modal penting bagi keberlangsungan institusi TNI. Karena itu, kepentingan jangka pendek tidak boleh mengorbankan kepercayaan yang telah dibangun bersama masyarakat.
"TNI akan semakin kuat ketika bekerja secara tulus dan profesional untuk kepentingan bangsa. Jangan sampai kepentingan sesaat membuat TNI kehilangan kepercayaan rakyat," tutur Bakhrul.
Sementara itu, Fredick Broven Ekayanta turut memberikan perspektif akademis dalam dialog mengenai posisi TNI dalam kehidupan demokrasi dan dinamika politik nasional.
Dialog yang dipandu Andreas Purba tersebut menjadi ruang diskusi publik untuk merefleksikan peran TNI setelah 81 tahun perjalanan institusi pertahanan Indonesia.
Bagi Bakhrul, kedekatan dengan rakyat, profesionalitas, dan netralitas merupakan modal penting agar TNI tetap dipercaya sekaligus mampu menjalankan perannya dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
(Medan)

Belum ada Komentar untuk "HUT Ke-81, Akademisi UNIMED: TNI Jangan Terseret Politik Praktis"
Posting Komentar