Pertahankan Disertasi “Manajemen Komunikasi Restrukturisasi Citra Polri”, Eddy Iriawan Sandang Gelar Doktor
Eddy Iriawan, jurnalis senior saat mempertahankan disertasi berjudul “Model Manajemen Komunikasi Dalam Merekonstruksi Citra Kepolisian Negara Republik Indonesia” pada sidang promosi doktor (sidang terbuka) Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi FISIP USU di Ruang IMT-GT biro Rektor USU, Senin (8/6/2026).Sidang terbuka yang dipimpin oleh Wakil Rektor III USU, Prof.Himsar Ambarita ini memutuskan Eddy berhak menyandang gelar doktor dengan predikat cumlaude.lensamedan-istLensaMedan - Jurnalis senior Sumatra Utara, Eddy Iriawan, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Komunikasi usai berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Model Manajemen Komunikasi Dalam Merekonstruksi Citra Kepolisian Negara Republik Indonesia” pada sidang promosi doktor (sidang terbuka) Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi FISIP USU di Ruang IMT-GT biro Rektor USU, Senin (8/6/2026).
Dalam sidang terbuka yang dipimpin oleh Wakil Rektor III USU, Prof.Himsar Ambarita, Eddy memaparkan disertasinya di hadapan Tim Promotor yang terdiri dari Prof Iskandar Zulkarnain, Prof Humaizi dan Prof Dewi Kurniawati, serta para penguji luar komisi yakni Prof Suwardi Lubis, Prof Lusiana Adriani Lubis dan Prof Dadang Rahmat Hidayat. Hadir juga sebagai tamu undangan Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir.
Secara garis besar, Eddy yang sejak tahun tahun 1998 berkecimpung di dunia jurnalistik ini menjelaskan bahwa penelitiannya berkaitan erat dengan banjirnya informasi ditengah gempuran dunia digital saat ini.
Fenomena yang terjadi belakangan ini, banjirnya informasi yang beredar terutama melalui platform media sosial sangat mempengaruhi citra bagi aparat penegak hukum di Indonesia.
“Secara khusus pada objek yang saya teliti yakni pada Institusi Kepolisian RI, bahwa citra negatif Polri ini sebesar 66,2% didasarkan pada pengalaman buruk pribadi yang dialami para individu saat berurusan dengan polisi. Diantaranya tidak mendapat respon atas pengaduan yang mereka sampaikan,” kata Eddy mengawali pemaparannya.
Eddy menambahkan, citra negatif akibat pengalaman buruk masyarakat saat berurusan dengan polisi ini juga menjadi bertambah besar lewat dua peristiwa yang terjadi di tubuh institusi kepolisian yakni berkaitan dengan dua perwira tinggi Polri yakni kasus Ferdy Sambo dan juga kasus narkoba Teddy Minahasa.
“Meskipun peristiwa-peristiwa kejahatan itu dilakukan oleh beberapa oknum, namun derasnya arus informasi mengenai peristiwa itu membuat masyarakat meng-generalisir kejahatan tersebut secara institusi,” ujarnya.
Dalam konteks komunikasi, hal ini menurut Eddy dapat memperburuk citra Polri jika tidak ditemukan metode yang tepat untuk meluruskan informasi sekaligus memperbaiki citra mereka. Dalam hal inilah, Eddy menemukan satu sistem kebaharuan informasi atau Novelty dalam hal perbaikan pola komunikasi guna mereduksi citra negatif yang semakin massif terbangun.
Eddy menyebutkan, dalam hal ini Polri tidak cukup hanya melakukan langkah-langkah framing media, gerakan sosial digital dan konstruksi narasi publik. Namun, jauh lebih dalam ia menemukan bahwa kebutuhan saat ini adalah bagaimana Polri secara institusi dituntut mampu memberikan respon tekanan tagar melalui strategi komunikasi dan manajemen citra secara bersamaan.
“Kebaharuan atau Novelty ini saya beri istilah dengan model PRISM (Publik Response Integrated Strategic Managemen Image Recover) Polri,” ungkapnya.
PRISM Polri tersebut menurut penelitian Eddy terdiri dari 8 langkah strategis. Yakni indentifikasi awal yakni memantau aktivitas tagar di media, melakukan klasifikasi isu dimana isu dikelompokkan berdasarkan segmen politik, sosial dan lainnya; analisis konteks dengan menilai konteks sosial, narasi dominan dan aktor kunci dibalik penyebaran tagar untuk merumuskan strategi komunikasi yang tepat.
Kemudian respons terintegrasi dengan menyusun konten klarifikasi berbasis data sesai gaya bahasa publik; kolaborasi lintas lembaga dengan melibatkan kementerian atau lembaga lain di luar Polri; dialog publik dengan membuka ruang partisipasi publik seperti diskusi daring, polling dll.
Serta melakukan evaluasi berkala dampak komunikasi terhadap opini publik menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif atas data media sosial; dan dokumentasi dan adaptasi dengan mencatat seluruh respon, strategi dan hasil dalam database institusi utnuk menjadi acuan dalam penanganan isu serupa di masa mendatang.
“Yang terpenting dari semua ini adalah lini divisi humas sebagai yang terdepan mulai dari Mabes, Polda hingga ke tingkat Polsek. Keseragaman gerak dalam menerapkan ini akan menentukan keberhasilan dalam membangun komunikasi untuk merestrukturisasi citra positif Polri,” pungkasnya.
Dengan disertasi ini, Eddy kemudian dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Pertahankan Disertasi “Manajemen Komunikasi Restrukturisasi Citra Polri”, Eddy Iriawan Sandang Gelar Doktor"
Posting Komentar