Sinergi Perguruan Tinggi dan Industri dalam Riset Sawit Berkelanjutan
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, saat memimpin rapat pembahasan penguatan ekosistem riset dan hilirisasi sawit berkelanjutan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) di kantor Kemdiktisaintek, Rabu (18/2/2026).lensamedan-istLensaMedan - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong transformasi peran perguruan tinggi sebagai pusat unggulan riset yang berdampak, bagi pembangunan nasional.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam rapat pembahasan penguatan ekosistem riset dan hilirisasi sawit berkelanjutan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) di kantor Kemdiktisaintek, Rabu (18/2/2026).Pertemuan ini membahas ekosistem integrasi pendidikan tinggi, riset, dan kebutuhan industri dalam pengembangan sektor sawit yang berdaya saing global.
Kemdiktisaintek mendorong pendekatan berbasis sains dan teknologi yang komprehensif untuk bahan strategis seperti sawit, mulai dari aspek produktivitas, efisiensi proses, keberlanjutan lingkungan, hingga penguatan nilai tambah melalui hilirisasi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menekankan bahwa perguruan tinggi tidak lagi hanya berfungsi sebagai penghasil lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga sebagai motor penggerak inovasi nasional.
Oleh karena itu, penguatan kapasitas laboratorium, pusat riset tematik, serta jejaring kolaborasi dengan industri menjadi prioritas dalam membangun ekosistem inovasi yang terintegrasi.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya berhenti pada publikasi, tetapi harus menghasilkan inovasi yang berdampak dan terhilirisasi. Kalau ini bisa kita perhatikan dengan lebih presisi dan tervalidasi, akan sangat baik,” ujar Menteri Brian.
Selain itu, Menteri Brian juga menyampaikan bahwa kolaborasi strategis antara kampus dan dunia usaha merupakan kunci percepatan hilirisasi hasil riset.
Perguruan tinggi didorong untuk menghasilkan inovasi yang tidak berhenti pada tahap purwarupa, tetapi dapat diimplementasikan dan memberikan dampak ekonomi maupun sosial secara nyata.
Dalam pembahasan tersebut, turut diidentifikasi sejumlah peluang kerja sama riset terapan yang melibatkan akademisi, peneliti, dan pelaku industri.
Kolaborasi ini diarahkan pada pengembangan teknologi budidaya yang lebih efisien, sistem pengolahan berbasis inovasi, serta model pengelolaan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan dan tata kelola yang baik.
Di sisi lain, kolaborasi ini direncanakan dapat menggunakan skema emisi rendah dan menerapkan teknologi yang lebih ramah lingkungan, sebagai ciri pengelolaan kebun yang akan dikerjakan.
“Tingkat produktivitas kita cenderung rendah dibandingkan negara lain. Banyak peluang yang bisa kita perbaiki. Kita ingin kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah diperkuat agar riset tidak berhenti di laboratorium,” jelas Menteri Brian.
Selain penguatan riset, pertemuan juga menyoroti pentingnya integrasi pembelajaran dengan kebutuhan industri.
Pendekatan multidisipliner dinilai krusial dalam menjawab kompleksitas isu sawit, yang mencakup dimensi agronomi, teknologi, lingkungan, ekonomi, hingga kebijakan publik.
Melalui langkah-langkah tersebut, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak.
Sinergi antara perguruan tinggi dan industri diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing sektor sawit, tetapi juga menjadi model pengembangan riset dan inovasi nasional yang berkelanjutan. (*)
(Jakarta)
Belum ada Komentar untuk "Sinergi Perguruan Tinggi dan Industri dalam Riset Sawit Berkelanjutan"
Posting Komentar