Herty Purba Angkat Budaya Simalungun Lewat Film Tolong Saya

Executive Producer Tolong Saya, Herty Purba, bersama para pemain film, di antaranya Kim Giba, Saskia Chadwick, dan Dito Dermana, serta penulis naskah Beby Salsabila saat acara meet and greet bersama penonton di Plaza Medan Fair, Sabtu (24/1/2026).lensamedan-ist

LensaMedan – Film kolaborasi Indonesia–Korea Selatan Tolong Saya tak hanya menawarkan cerita horor dan romansa lintas negara, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya lokal Indonesia, khususnya budaya Simalungun.

Hal itu disampaikan Executive Producer Tolong Saya, Herty Purba, saat acara meet and greet bersama penonton di Plaza Medan Fair, Sabtu (24/1/2026).

Acara tersebut turut dihadiri para pemain film, di antaranya Kim Giba, Saskia Chadwick, dan Dito Dermana, serta penulis naskah Beby Salsabila.

Herty menjelaskan, salah satu unsur budaya yang diangkat dalam film ini adalah tradisi Simalungun melalui sosok Inang Purba yang diperankan Debbie Sahertien.

Karakter ini digambarkan sebagai ibu dari sahabat tokoh utama Tania, yang menjalankan ritual adat ketika melepas anaknya pergi merantau atau ke luar negeri.

“Dalam budaya Simalungun, biasanya ada acara khusus saat melepas anak pergi jauh. Tradisi itu kami masukkan ke dalam cerita, dan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami sebagai filmmaker,” ujar Herty.

Menurutnya, kehadiran unsur lokal tersebut menjadi bentuk upaya memperkenalkan identitas budaya Indonesia di tengah kolaborasi internasional yang dibangun bersama industri perfilman Korea Selatan.

Ia menilai, sebagaimana Korea memiliki kekuatan budaya yang kuat dalam film-filmnya, Indonesia pun memiliki kekayaan budaya yang tak kalah menarik untuk diangkat ke layar lebar.

“Film ini seperti kolaborasi budaya Indonesia dan Korea. Di setiap proyek, saya selalu berusaha menghadirkan unsur budaya Indonesia, dan kali ini kami wakili lewat budaya Simalungun,” katanya.

Herty berharap, pengangkatan budaya lokal dalam film Tolong Saya tidak hanya memperkaya cerita, tetapi juga membuka ruang bagi budaya-budaya Nusantara lainnya untuk tampil dan dikenal lebih luas, baik di dalam negeri maupun mancanegara.

"Ini juga cara kami mempertahankan budaya sehingga tetap dipahami generasi mendatang," tegasnya.

Ludya, salah seorang warga Kota Medan yang berkesempatan nonton bareng film mengaku puas dengan meski awalnya mengira film ini seperti film horor Indonesia pada umumnya.

Tapi setelah nonton, ternyata film ini cukup unik selain karena berlatar di Korea Selatan, film yang menggabungkan horor dan romansa ini juga menyelipkan isu sosial tentang kekerasan seksual terhadap perempuan.

"Jadi film ini memang layak untuk ditonton," ujarnya.

Cerita berpusat pada Tania (Saskia Chadwick), mahasiswi asal Indonesia yang menempuh studi di Korea Selatan. Hidupnya berubah drastis saat dia diteror dan dirasuki arwah Min Young (Kim Seo Young), perempuan korban kekerasan seksual yang meninggal secara misterius.

Bersama Dr. Park Binjae (Kim Giba) dan sahabatnya Sherly (Aruma Khodijah), Tania berusaha mengungkap kebenaran di balik kematian Min Young.

Konflik kian rumit ketika Dion, teman lama sekaligus cinta pertama Tania, muncul sebagai sosok obsesif yang justru menjadi penghalang.

Perpaduan alur horor, psikologis, dan romansa inilah yang membuat Tolong Saya terasa berbeda dari film horor kebanyakan. 

Film Dowajuseyo, Tolong Saya! akan mulai tayang di bioskop pada 29 Januari 2026. Selain di Medan, meet & greet para pemain film ini juga digelar di Pematangsiantar. (*)

(Medan)




Belum ada Komentar untuk "Herty Purba Angkat Budaya Simalungun Lewat Film Tolong Saya"

Posting Komentar

Ketua DPRD Medan Tanam Pohon Bersama Anak Yatim di Panti Asuhan

LensaMedan - Ketua DPRD Kota Medan, Wong Chun Sen Tarigan, menggelar kegiatan sosial bersama ratusan anak yatim di Panti Asuhan Al-Jam’iyat...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel