Waspadai Inflasi AS, Kilau Emas Bisa Memudar


Lensamedan - Sampai saat ini, harga emas selalu dikaitkan dengan pergerakan mata uang US Dolar, meskipun kerap berseberangan pergerakannya. Yakni saat US Dolar menguat, harga emas dunia turun dan sebaliknya. Sejauh ini memang harga emas masih dalam kondisi baik, meskipun sempat tertekan dengan kebijakan tappering oleh Bank Sentral AS sebelumnya.

Sejauh ini harga emas bertengger di level $1.852 per ons troy, dari posisi terendahnya dikisaran level $1.750-an selama November 2021. Belakangan harga emas naik dikarenakan memang dampak dari kebijakan tappering sepertinya tidak begitu menekan kinerja harga komoditas khususnya logam mulia.

“Mata uang US Dolar yang sempat menguat juga perlahan mengurangi penguatannya sehingga emas bergerak menguat,” sebut pennerhati ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin di Medan, Rabu (17/11/2021).

Harga emas sejauh ini bergerak dan seakan menuju level psikologis $ 2.000 per ons troy. Gelombang lanjutan Covid-19 yang terjadi di banyak negara turut memicu kenaikan harga emas belakangan ini. 

Tetapi bagaimana dengan kinerja harga emas di tahun 2022 mendatang?.

Emas memiliki berpeluang tertekan seandainya saja tappering diperlebar atau ada kenaikan bunga acuan yang terjadi di AS. Atau terjadi pemulihan ekonomi dunia sehingga membuat investor cenderung membeli aset-aset beresiko. Hal ini tentunya bisa memicu tekanan pada harga emas nantinya.

Peluang harga emas membaik tercipta saat gelombang Covid-19 terus terjadi di tahun 2022. Jadi semuanya bisa saja terjadi, tahun 2022 bisa menjadi tahun pergolakan bagi emas. Ada banyak sentiment yang bisa membuat emas bergerak di dua jalur. 

“Kita tinggal menunggu mana yang paling dominan nantinya mempengaruhi,” sebut Gunawan.

Hanya saja Gunawan menyarankan agar investor lebih bersikap arif sebelum membeli emas. Perhartikan data inflasi di AS, jika trennya naik, tapi suku bunga acuannya tetap, bukan berarti lantas berkesimpulan memborong emas di titik tersebut. Karena sejatinya kenaikan suku bunga itu hanya masalah waktu. 

“Masa iya suku bunga dibiarkan rendah terus sementara inflasinya sudah naik tinggi,” terangnya. 

Karena itu Gunawan mengimbau calon investor untuk fokus pada data-data ekonomi di AS. Kalau berandai-andai bahwa emas akan diuntungkan dengan adanya gelombang Covid 19 lanjutan, hal tersebut kurang logis, karena semua negara di dunia ini tengah memerangi Covid. Dan tidak lazim kita mengharapkan sebuah wabah menyebar, karena yang dirugikan kita sendiri.

“Dalam jangka pendek saya menilai emas akan mendekati dan menguji level $ 2.000 per ons troy jika tren jangka pendek kenaikan emas berlanjut. Tetapi jika berharap emas naik diatas $ 2.000 per ons troy, saya pikir kita perlu melihat kinerja emas dalam jangka panjang. Dan saya melihat peluang emas di level 2.000-an baru bisa dilihat di tahun 2022 mendatang. Tentunya dengan beberapa skenario yang mungkin terjadi dan mendukung kenaikan harga emas itu sendiri,” tandasnya. (*)





(Medan) 


 


 



Belum ada Komentar untuk "Waspadai Inflasi AS, Kilau Emas Bisa Memudar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel