79,3% Penerima Manfaat Program Wirausaha Ulos dan Gorga Perempuan


Lensamedan - Program Technical Assistance for the Communities Working on Intangible Cultural Heritage in North Sumatra (TACW-ICH) atau Program Dukungan Masyarakat Pegiat Warisan Budaya Tak Benda di Sumatera Utara adalah sebuah program pemberdayaan masyarakat yang diselenggarakan UNESCO Jakarta sejak 2021.

Program ini menargetkan wirausaha Ulos dan Gorga yang tinggal di sekitar 5 kabupaten di Kawasan Danau Toba. Dari total sebanyak 150 penerima manfaat yang berasal dari Sektor Gorga dan Ulos di wilayah Toba, 119 peserta merupakan perempuan (79,3%) dan 31 laki-laki (20,7%).

Sementara berdasarkan sektor usaha, ada 31 penerima manfaat dari sektor Gorga dengan 30 laki-laki dan 1 perempuan, sedangkan 119 peserta dari sektor Ulos terdiri dari 118 perempuan dan 1 laki-laki.

Data-data di atas menunjukkan penerima manfaat program ini didominasi oleh penenun ulos perempuan dengan lebih dari 70% dari keseluruhan wirausahawan penerima manfaat program ICH. Lebih dari 100 wirausaha berasal dari di Tapanuli Utara dan Toba, sedangkan peserta lainnya berasal dari Samosir, Humbang Hasundutan dan Simalungun.

Dukungan program ini diberikan kepada para wirausaha Ulos dan Gorga di lima Kawasan di sekitar Danau Toba dengan cara meningkatkan kapasitas mereka dalam mengembangkan industri kreatif sekaligus melestarikan warisan budaya tak benda. Secara khusus, kegiatan yang dilakukan meliputi pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran produk mendorong pengembangan produksi yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. 

Diantaranya Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Ulos Pewarnaan Alam, Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Gorga yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta Pelatihan dan Pendampingan Akses Pasar Melalui Digital Marketing & E- comerce.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah mencanangkan 17 Oktober sebagai Hari Ulos. Memperingati Hari Ulos tersebut, UNESCO Jakarta telah menyelenggarakan Workshop Virtual Hari Ulos Nasional 2021.

Melalui kegiatan workshop diharapkan dapat menyosialisasikan program kerja UNESCO Jakarta dalam rangka upaya pelestarian warisan budaya tak benda di wilayah Toba, para peserta khususnya penenun ulos akan mendapatkan informasi tentang agenda dan dukungan pemerintah terhadap upaya pelestarian ulos, membangun jejaring baru antara penenun ulos di bawah program UNESCO Jakarta serta para pemangku kepentingan, serta membangun akses baru dari pemerintah dan pemangku kepentingan lokal untuk keberlanjutan intervensi program yang dilaksanakan.

Kepala Seksi Informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Debbie Riauni Panjaitan mengatakan, membicarakan pariwisata tidak terlepas dari kebudayaan itu sendiri dan Toba sudah mejadi UNESCO Global Geopark, sehingga banyak sektor yang harus dipersiapkan salah satunya Ulos yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda 2014 yang memiliki potensi ekonomi yang luar biasa.

"Apapun yang dilakukan terhadap Ulos tidak terlepas dari revitalisasi budaya dan konsolidasi dengan berbagai unsur kebudayaan, untuk mempertahankan nilai Ulos ini sendiri sehingga dapat meningkatkan ekonomi kreatif dan apresiasi seni. Konservasi dan edukasi di sekolah juga dilakukan untuk mendorong setiap pelaku kita tetap terus berkarya dan mengembangkan setiap kemampuannya dalam berkreasi. Ayo kita bersama membawa ulos menjadi warisan dunia melalui UNESCO bersama-sama, dengan ulos dengan kreatifitasnya dan nilai budayanya bisa menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark,” kata Debbie.

Kerrina Basaria CEO dan Founder PT. Toba Tenun Sejahtera menjelaskan, Toba Tenun merupakan sosial enterprise yang fokus untuk menjaga wastra nusantara. Mulai dari komunitas pengrajin dan distribusi, eksplorasi motif ulos, membangkitkan motif lama, serta mendorong regenerasi penenun muda.

"Kami juga melakukan revitalilsasi tenun-tenun yang sulit untuk dibuat dengan menggunakan pewarna alami dan serat alami setelah penelitian selama dua tahun, terutama pada motif-motif adat yang digunakan sehari-hari," jelas Kerrina.

Menurutnya, tenun juga menjadi sebuah cara untuk menyuarakan isu sosial dan marginal, ekonomi, dan sosial budaya, yang tidak jauh dari isu perempuan. Untuk itu pihaknya juga menyertakan isu kesehatan reproduksi dan kekerasan seksual.

"Agar kita sehat jasmani dan mental dengan terus mendampingi para penenun dalam menjalankan karyanya. Masa pandemi ini bisa digunakan untuk memperbaiki ekosistem penenun dengan menjadi support sistem, meningkatkan skill dan perbaikan lainnya. Mari kita bekerja sama dan saling berkolaborasi,” ujarnya.

Moe Chiba, Kepala Unit Budaya, UNESCO Jakarta menuturkan, warisan budaya tak benda membutuhkan kesiapsiagaan risiko bencana seperti halnya bangunan dan infrastruktur publik. Namun, bidang ini cenderung terabaikan dalam kebijakan pengelolaan pengurangan resiko bencana.

"Menyadari kekosongan kebijakan ini, UNESCO mengadopsi pedoman operasional baru tentang perlindungan ICH pada saat bencana dan keadaan darurat. Program ini dilaksanakan ungtuk membangun komunikasi antara para pemangku kepentingan beserta para pegiat warisan budaya tak benda sehingga terjadi dialog yang sinergis dalam upaya pelestarian dan perlindungan warisan budaya tak benda yang adi luhung ini,” tandasnya.

Ferianti Sinabutar dan Manjunjung Hutabarat, Penenun Ulos dari Toba berharap, akan semakin banyak anak muda yang mencintai ulos, yang kedua semoga ulos makin terkenal di manca negara.

"Semoga Ulos bisa diterima masyarakat internasional dan pengakuan UNESCO menjadi warisan budaya tak benda. Harapan selanjutnya ada kolaborasi antara penenun ulos serta pemerintah maupun lembaga-lembaga yang memiliki perhatian pada Ulos, mendirikan sentra Ulos mulai dari pusat pengerjaan benang, pewarnaan, pengerjaan dan produk yang siap dijual. Sehingga ada tempat bagi anak-anak muda atau masyarakat luas yang ingin belajar, melihat, dan membeli karya-karya ulos,” harapnya. (*)



(Taput) 


Belum ada Komentar untuk "79,3% Penerima Manfaat Program Wirausaha Ulos dan Gorga Perempuan "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel