Pemerintah Indonesia Jangan Mudah Tarik Hutang Luar Negeri Selama Resesi

Lensamedan- Indonesia menduduki peringkat ketujuh dari sepuluh negara berkembang yang memiliki hutang luar negeri yang besar. Sejauh ini, rasio hutang Indonesia terhadap PDB sebesar 37%, bergerak stabil engan kecenderungan naik. Dan hutang didominasi dalam bentuk hutang jangka panjang. Sekitar 88% hutangnya memiliki jatuh tempo yang lama. Jadi memang lebih aman pada dasarnya. Karena hutang jangka pendeknya kurang dari 12%. Data yang ditampilkan menunjukan kalau hutang Indonesia itu sebesar $402 milyar atau sekitar Rp. 5.940 triliun.

 Pemerhati ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin mengatakan, cadangan devisa masih mampu mengcover kebutuhan hutang jangka pendek tersebut, sekalipun hutang yang paling besar adalah hutang dari sektor swasta yang masuk dalam perhitungan hutang negara. Di tengah resesi seperti yang terjadi sekarang, hutang memang bisa menjadi masalah jika Rupiah juga mengalami pelemahan.

 “Namun syukurnya Rupiah masih stabil sejauh ini, dan pemerintah juga terus menjaga neraca perdagangan agar tetap surplus sehingga capital inflow tetap terjadi. Hal ini juga sedikit memberikan rasa aman karena tekanan Rupiah mereda karenanya,” ujar Gunawan Benjamin di Medan, Rabu (14/10/2020).

 Akan tetapi yang menjadi persoalan menurut Gunawan adalah, bagimana nantinya pengelolaan hutang ditengah pandemik  seperti sekarang. Sejauh ini, pemerintah juga tengah meningkatkan besaran hutangnya seiring dengan bantuan sosial kepada masyarakat. Meskipun hutangnya adalah dalam bentuk obligasi Rupiah, dimana BI menjadi pembelinya.

 “Namun, saya mewanti-wanti agar pemerintah tidak mudah dalam menarik hutang luar negeri, karena dampak dari pergerakan kurs di tengah resesi ini perlu diwaspadai,’ sebutnya.

 Dikatakannya, jika melihat perkembangan hutang yang tengah dialami negara-negara berpendapatan kecil menengah dengan hutang yang besar. Dilihat dari urutannya, porsi hutang yang terdapat dimasing-masing negara sepertinya tidak begitu jauh berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

“Dalam urutannya negara berkembang yang memiliki hutang tersebut, China menjadi negara yang menurut saya kurang tepat diletakkan di negara berkembang,” katanya

 Kalau berbicara pendapatan kata Gunawan, memang bisa jadi China masuk negara berkembang karena masih lebih rendah dari sejumlah negara ekonomi maju lainnya. Namun jika berbicara mengenai kapasitas ekonomi, China menjadi yang terbesar khususnya terkait dengan kinerja ekspornya..

Sepuluh negara berkembang yang memiliki utang luar negeri yakni China, Brasil, India, Rusia, Meksiko, Turki, Indonesia, Argentina, Afrika Selatan dan Thailand. Akan tetapi jika membandingkan kapasistas ekonominya, Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya khususnya dalam hal rasio hutangnya.


(Medan)

 

 

Belum ada Komentar untuk "Pemerintah Indonesia Jangan Mudah Tarik Hutang Luar Negeri Selama Resesi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel