Mahasiswa Ilmu Komputer USU Ajak Pemuda Terlibat Membangun Kota Berkelanjutan

LensaMedan — Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara (USU), Muaz Alfattah Fadhani, menilai pembangunan kota berkelanjutan di Medan, terutama soal transportasi, tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah. Pendiri komunitas Transgo Medan itu menyampaikan pandangannya, berdasarkan pengalamannya di bootcamp WRI Indonesia, forum Youth City Changers APEKSI, dan liputan lapangan sepanjang 2026.


Pada 2026 Muaz mengikuti bootcamp Future Leaders in Sustainable Transport yang digelar WRI Indonesia di Jakarta. Pesertanya menjalani sembilan hari pelatihan soal transportasi berkelanjutan, transisi energi, dan cara menekan emisi dari sektor transportasi. Di ujung pelatihan, tiap peserta diminta merancang proyek percontohan untuk kotanya. 


Muaz memilih edukasi dan advokasi untuk Medan. Ia juga dipilih mewakili Medan di Youth City Changers yang diinisiasi APEKSI. Forum ini mengumpulkan anak muda dari berbagai kota untuk mencari gagasan pembangunan kota yang lebih berkelanjutan. 


Dari sana Muaz sadar, tiap daerah punya pekerjaan rumahnya sendiri. Ia menceritakan bahwa forum itu menjadi tempat peserta saling bertukar cara menyelesaikan masalah kota masing-masing. 


“Tiap kota punya masalahnya masing-masing, dan kami mengambil solusi dari kota-kota lain,” tutur Muaz.


Dari teman-teman asal Jakarta, Muaz mendapat masukan soal angkutan pengumpan atau feeder. Menurutnya Medan perlu lebih banyak, sebab jalan-jalan di kota ini sempit, mirip Bandung. Bahan-bahan itu dituangkan dalam liputan “Dari Halte ke Harapan: Jalan Panjang Mebidang Menuju Kota Rendah Emisi". 


Liputan tersebut meraih juara 1 Olimpiade Jurnalis Muda 2026 yang diadakan BaleBengong dan AJI Indonesia. Isinya membedah BRT Mebidang, proyek dengan nilai infrastruktur Rp1,14 triliun dan target pengurangan emisi 306.000 ton CO₂.


Setelah itu Muaz mendirikan Transgo Medan. Kegiatan komunitas ini masih sederhana seperti kampanye di media sosial, bertanya langsung ke warga, dan membagikan peta transportasi umum. 


Transgo Medan menjalankan gerakannya melalui edukasi publik, peningkatan keterlibatan anak muda, serta advokasi mengenai pentingnya transportasi publik yang inklusif. Komunitas ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan menyoroti berbagai persoalan transportasi perkotaan yang membutuhkan perhatian bersama.


Soal peran anak muda, dalam pembangunan Medan, Muaz tidak berbelit. Menurutnya, urusan kota tidak cukup diserahkan kepada pembuat kebijakan saja, sebab warga yang menjalaninya sehari-hari juga perlu dilibatkan. 


“Pembangunan kota sejatinya melibatkan orang-orang di dalamnya, terutama anak muda,” katanya.


Ia juga terbuka soal kiprah komunitasnya sendiri yang menurutnya belum cukup. “Dari apa yang sudah dilakukan Transgo, menurut saya sendiri itu masih kurang,” ujarnya. 


Karena itu, Muaz masih mencari mitra, baik dari pemerintah, akademisi, maupun organisasi lain, termasuk untuk menggelar diskusi publik tentang transportasi Medan.


Rencana berikutnya, Transgo ingin membuka bootcamp kecil tentang dekarbonisasi transportasi untuk warga Medan. Muaz berharap melalui komunitas Transgo Medan ini mampu mendorong masyarakat dan pemangku kebijakan untuk lebih memperhatikan kualitas transportasi publik di Kota Medan. 


”Ke depan, kami berharap bisa membangun ekosistem yang menjadikan Transgo sebagai tempat belajar bagi orang-orang, untuk membangun kota berkelanjutan yang rendah emisi,” tandas Muaz.


Penulis: Fristania Nadeak | SORA Publisher 


Belum ada Komentar untuk "Mahasiswa Ilmu Komputer USU Ajak Pemuda Terlibat Membangun Kota Berkelanjutan"

Posting Komentar

Salurkan Bantuan Sektor Lingkungan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Jaga Kelestarian Alam di Sekitar Danau Toba

Tim Pertamina Patra Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) berfoto bersama perwakilan Yayasan Jadilah Terang Danau Yoba sebaga...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel