Cabai Merah dan Cabai Rawit Jadi Komoditas Penyumbang Inflasi di Oktober 2026
LensaMedan - Harga berbagai komoditas di Sumatra Utara pada Oktober 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan.
Berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Stastik (BPS) Provinsi Sumatra Utara, pada Oktober terjadi inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 3,19%, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,89 pada Oktober 2025 menjadi 114,43 pada Oktober 2026.
Secara month-to-month (m-to-m) juga tercatat mengalami inflasi sebesar 0,27% dan tingkat inflasi secara tahun berjalan atau year to date (y-to-d) sebesar 1,94%.
Kepala Badan Pusat Statistik Sumatra Utara, Asim Saputra, mengatakan, Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebelas indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau (4,49%), kelompok pakaian dan alas kaki (2,53%), kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,77%).
Kemudian kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga (2,34%), kelompok kesehatan (1,19%), kelompok transportasi (4,56%), kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (3,43%), kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya (0,89%), kelompok pendidikan (1,23%), kelompok penyediaan makanan dan minuman/ restoran (3,35%), dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (3,35%).
“Kelompok yang paling dominan memberikan andil inflasi y-on y pada Oktober 2026 adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,63%; kelompok transportasi sebesar 0,42%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,28%,” ujar Asim saat memaparkan Berita Resmi Statistik, Senin (2/11/2026).
Jika dilihat berdasarkan komoditas, kata Asim melanjutkan, maka 5 komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Oktober 2026, yakni cabai rawit sebesar 0,38%; bensin sebesar 0,21%; beras sebesar 0,20%; tomat sebesar 0,19%; dan emas perhiasan sebesar 0,14%.
“Sementara secara m-to-m, maka komoditas yang terpantau memberi andil inflasi yang cukup dominan adalah cabai merah sebesar 0,25%; cabai rawit sebesar 0,09%; tomat sebesar 0,07%; bayam, angkutan udara, dan sawi hijau masing-masing sebesar 0,03%,” katanya.
Lebih jauh dikatakan Asim, pada Oktober 2026, seluruh kabupaten/kota IHK di Provinsi Sumatra Utara mengalami inflasi y-on-y.
Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 4,92% dengan IHK sebesar 117,06, sedangkan yang terendah terjadi di Kota Medan sebesar 2,84% dengan IHK sebesar 113,03.
Sementara secara m-to-m, sebagian besar kabupaten/ kota IHK di Provinsi Sumatra Utara mengalami inflasi, dengan inflasi m-to-m tertinggi terjadi di Kota Padangsidimpuan yakni sebesar 0,51%.
“Sementara Kota Gunungsitoli mampu mencetak deflasi sebesar 0,05%,” terangnya.
Pada Oktober 2026, tingkat inflasi y-on-y adalah sebesar 3,19% dan tingkat y-to-d adalah sebesar 1,94%. Tingkat inflasi y-on-y untuk Oktober 2024 dan Oktober 2025 masing-masing sebesar 1,59% dan 4,97%.
Sementara Oktober 2024, Provinsi Sumatra Utara tercatat inflasi y-to-d sebesar 0,59% dan Oktober 2025 tercatat inflasi y-to-d sebesar 3,39%. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Cabai Merah dan Cabai Rawit Jadi Komoditas Penyumbang Inflasi di Oktober 2026"
Posting Komentar