Sesi Pertama Perdagangan, Rupiah dan IHSG masih Belum Mampu Bangkit
LensaMedan - Harga minyak mentah dunia yang kembali naik dikisaran 105,9 menjadi fokus utama pelaku pasar pada perdagangan hari ini. Sejumlah serangan yang ditujukan ke Arab Saudi mempertegas bahwa konflik saat ini tidak hanya seputar antara Iran dengan AS.
Namun perang telah meluas dan melibatkan banyak pihak yang bertikai. Situasi ini memperburuk kinerja sektor keuangan secara keseluruhan.
Kinerja USD Index pada sesi perdagangan pagi ini mengalami kenaikan ke kisaran level 102,6. Seiring dengan kenaikan USD Index, imbal hasil US Treasury 10 tahun relatif stabil dikisaran 5,23% meskipun sempat melonjak diatas level 5,36%.
Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, tekanan pada mata uang Rupiah berpotensi untuk berlanjut, dengan kemungkinan untuk mendekati level 17.990 sangat terbuka.
Pada sesi perdagangan pagi ini Rupiah ditransaksikan melemah ke level 17.940 per Dolar AS. Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 5.914.
Diproyeksikan pasar keuangan tanah air akan tetap dibayangi tekanan lanjutan selama sesi pedagangan berlangsung.
“Kabar dari MSCI menjadi fokus pelaku pasar saham karena dirumorkan akan memberikan sanksi terhadap sejumlah emiten di tanah air. Bahkan IHSG sangat rentan alami koreksi lebih dalam jika turun di bawah level psikologis 5.900,” ujar Gunawan di Medan, Selasa (13/10/2026).
Terpisah harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level US$4.168 per ons troy, atau masih dikisaran harga Rp2,4 juta per gram.
Ada banyak sentimen fundamental yang siap menekan harga emas lebih dalam. Namun secara teknikal emas bisa saja alami pembalikan arah. Dan tekanan jual yang berlebihan pada harga emas juga bisa menggeser daya Dolar AS di waktu tertentu. (juli simanjuntak)
(Medan)

Belum ada Komentar untuk "Sesi Pertama Perdagangan, Rupiah dan IHSG masih Belum Mampu Bangkit"
Posting Komentar