Rupiah dan IHSG Kembali Alami Tekanan, Dipicu Tekanan Jual Surat Hutang
Grafik pergerakan IHSG. Pada sesi pertama perdagangan Kamis (1/10/2026), IHSG dibuka di zona merah.lensamedan-istLensaMedan - Data Inflasi tanah air akan menjadi data pembuka pada perdagangan hari ini. Dimana Indonesia diproyeksikan akan membukukan inflasi sekitar 3,4% pada bulan September 2026 secara tahunan atau year on year.
Sebelumnya AS merilis data inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Inflasi inti AS secara tahunan (yoy) pada Agustus tercatat sebesar 3%, lebih rendah dibandingkan dengan consensus pasar yang memproyeksikan 3,3%.
Meski demikian rilis data inflasi AS tidak menjadi kabar baik bagi Indeks Bursa Dow Jones yang justru merespon dengan ditutup melemah.
Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, menyebut, tekanan jual pada pasar obligasi AS yang masih berlanjut memicu kenaikan yield US Treasury 10 tahun hingga di atas 5,3%., dan mendorong pasar saham di kawasan Asia pada perdagangan hari ini bergerak mixed.
“Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sesi pembukaan perdagangan mengalami pelemahan ke level 6.062. Dan pada perdagangan hari ini, IHSG berpeluang ditransaksikan dalam rentang 6.030 hingga 6.130,” sebut Gunawan di Medan, Kamis (1/10/2026).
Sementara itu mata uang Rupiah kembali melemah di level 17.915 per Dolar AS. Kenaikan yield US Treasury berikut USD Index ke level 101,5 dikatakan Gunawan menjadi sentimen negatif bagi mata uang Rupiah.
Meski demikian kinerja mata uang Rupiah diproyeksikan dibawah level 17.950 selama sesi perdagangan berlangsung.
Sektor keuangan AS sejauh ini masih mengalami tekanan berat ditengah ekspektasi kenaikan imbal hasil yang memicu perang likuiditas di pasar global.
Dikhawatirkan tekanan permintaan imbal hasil tinggi juga terjadi pada pasar obligasi di tanah air yang mendorong terjadinya tekanan jual sehingga harus direspon dengan menaikkan bunga acuan.
“Rupiah masih berada dalam tekanan selama terjadi kenaikan imbal hasil US Treasury,” terangnya.
Terpisah harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level US$4.153 per ons troy, atau masih diikisaran harga Rp2,4 juta per gramnya. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Rupiah dan IHSG Kembali Alami Tekanan, Dipicu Tekanan Jual Surat Hutang "
Posting Komentar