Meningkatnya Penggunaan Artificial Intelligence (AI), Apakah Kemampuan Menulis Masih Relevan untuk Dipelajari?
LensaMedan - Pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) saat ini telah mengubah tolak ukur kemampuan literasi secara signifikan. Banyak orang mulai mempertanyakan satu hal: apakah kemampuan menulis masih penting untuk dipelajari? Ketika mesin kini bisa merangkai kata atau membuat tulisan dalam hitungan detik, sebagian orang mengira keterampilan menulis manusia mulai tersingkirkan. Namun, pandangan ini dipatahkan oleh Salman Al-Farici, pemuda asal Rantau Parapat yang kini tinggal di Medan dengan segudang ilmu kepenulisan.
Menjawab tantangan tersebut, Salman sebagai Alumni Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara (USU) menegaskan bahwa kemampuan menulis justru semakin krusial untuk dipelajari. Menurutnya, menulis bukan sebatas kemampuan merangkai kata, melainkan sebuah proses mengolah empati kemanusiaan dan melatih penalaran kritis di tengah masyarakat.
Keahlian Salman dalam dunia kepenulisan terbukti melalui deretan prestasi yang inspiratif. Ia pernah menyabet Top 10 Esai Terbaik UGM, Juara 1 Esai Komadiksi Festival, Juara 3 Esai Nasional terkait Isu Kesetaraan Gender di UNESA, hingga Juara 2 lomba Esai ASEAN Brawijaya.
Guna melestarikan nilai humanis sebuah tulisan di era serba instan, Salman membagikan pandangannya mengenai relevansi kemampuan menulis dan perlunya mendengar kisah dari kacamata manusia lain sehingga dapat melihat realitas yang eksis di lingkungan masyarakat.
“Tetap sering membaca dan melihat semua kejadian secara nyata agar tulisan tidak jauh dari kenyataan di masyarakat. Tulisan akan humanis jika kita sering mendengar cerita dari manusia lain, secara tidak langsung tulisan akan memiliki jiwanya,” ujarnya.
Pola pikir tersebut turut melandasi aksi nyatanya di luar kancah kompetisi. Rekam jejak Salman mencakup perannya sebagai Youth Advocate di The United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) Indonesia, penggagas proyek sosial "Boneka Kita" di MAN 2 Deli Serdang, hingga mengantarkannya meraih posisi Juara 3 Mahasiswa Berprestasi (Mapres) FISIP USU.
Ketika disinggung mengenai masa depan profesi penulis yang kian terancam oleh kecerdasan buatan, Salman optimistis bahwa ada aspek mendasar dari manusia yang tidak bisa ditiru oleh teknologi AI, karena setiap manusia memiliki jiwa seni yang variatif.
“Seni adalah satu-satunya yang AI tidak bisa kuasai sepenuhnya, karena jiwa seni tiap manusia berbeda,” ucapnya.
Perjalanan Salman di dunia kepenulisan membuktikan bahwa selagi tulisan didasari oleh aliran seni dan kepekaan yang tinggi terhadap isu sosial, keterampilan menulis di era serba AI tidak akan pernah usang dan akan selalu terjaga relevansinya sepanjang masa.
(Medan)

Belum ada Komentar untuk "Meningkatnya Penggunaan Artificial Intelligence (AI), Apakah Kemampuan Menulis Masih Relevan untuk Dipelajari?"
Posting Komentar