Ternak Milik Warga Desa Tukka Dolok Mati Diserang Satwa Liar, BBKSDA Sumut Temukan Jejak Kaki Harimau Sumatra
LensaMedan - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV bersama dengan lembaga Center for Orangutan Protection (COP) melakukan penanganan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di Desa Tukka, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan pada 5-6 September 2026.
Penanganan dilakukan setelah BBKSDA Sumatra Utara menerima laporan dari Camat Pakkat dan Kepala Desa Ambobi pada 4 September 2026 mengenai adanya ternak warga yang diserang oleh satwa liar yang diduga adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Menindaklanjuti laporan tersebut, BBKSDA Sumatra Utara segera berkoordinasi dengan COP dan melakukan penanganan di lokasi.
Pada 5 September 2026, tim yang terdiri atas petugas SKW IV dan COP tiba di Desa Tukka Dolok dan berkoordinasi dengan Kepala Desa Tukka Dolok, kepala dusun, masyarakat setempat termasuk warga yang ternaknya menjadi korban di Dusun Huta Torop.
Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA Sumatra Utara, Andar Abdi Saragih, menjelaskan, berdasarkan keterangan masyarakat, bangkai lembu pertama kali ditemukan pada Kamis, 3 September 2026.
Tim kemudian melakukan penelusuran di lokasi kejadian bersama kepala desa dan masyarakat. Lokasi kejadian berada di ladang milik warga yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kantor Desa Tukka Dolok.
Area tersebut berupa hamparan rerumputan seluas kurang lebih 100 x 100 meter dan berada di kawasan Areal Penggunaan Lainnya (APL), dengan jarak sekitar 300 meter dari kawasan Hutan Lindung Sibauminyak.
Di sekitar lokasi terdapat berbagai tanaman produktif seperti sawit, pinang, durian, nangka, salak dan karet, serta hamparan sawah.
Sebelumnya, terdapat lima ekor sapi di lokasi tersebut, terdiri atas dua ekor induk dan tiga ekor anak. Salah seekor anak sapi kemudian diduga diterkam oleh satwa liar.
Dalam penelusuran lapangan, tim menemukan jejak kaki satwa liar dari famili Felidae (kucing besar) berukuran sekitar 13 cm.
Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi adanya aktivitas satwa liar dari famili Felidae di area tersebut. Berdasarkan karateristik jejak dan kondisi habitat di sekitar lokasi, tim menduga satwa tersebut merupakan Harimau Sumatra.
“Namun dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pemantauan kamera trap dan data lapangan lainnya,” ujar Andar lewat siaran pers yang diterima Kamis (10/9/2026).
Selanjutnya kata Andar, tim menemukan bangkai sapi pada koordinat 2.121982 N dan 98.468075 E, sekitar 127 meter dari titik yang diduga menjadi lokasi penerkaman.
Jejak kaki serupa juga ditemukan dalam radius sekitar 20 meter dari lokasi bangkai. Untuk memastikan keberadaan dan memantau pergerakan satwa liar yang diduga Harimau Sumatra, tim memasang dua unit kamera jebak (camera trap).
Satu unit dipasang di sekitar bangkai sapi dan satu unit lainnya ditempatkan pada jalur yang diduga menjadi perlintasan satwa. Tim juga melakukan pemantauan menggunakan drone untuk membantu memetakan kondisi tutupan lahan serta mengidentifikasi jalur yang berpotensi menjadi lintasan satwa.
Pada 6 September 2026, tim melakukan pengecekan terhadap kamera jebak. Kamera pertama yang dipasang di sekitar bangkai sapi merekam aktivitas anjing yang memakan bangkai tersebut, sedangkan kamera kedua yang ditempatkan di jalur
perlintasan belum merekam keberadaan satwa liar. Kamera kedua kemudian dipindahkan ke lokasi yang dinilai lebih strategis.
“Pemantauan melalui kamera jebak akan dilanjutkan hingga tujuh hari ke depan,” katanya.
Selain melakukan pemantauan, kata Andar melanjutkan, BBKSDA Sumatra Utara bersama COP juga melakukan upaya mitigasi melalui koordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat.
Pemerintah Desa Tukka diminta meningkatkan pengawasan dan kembali menyampaikan himbauan kepada masyarakat, mengingat di lokasi yang sama sebelumnya juga pernah terjadi interaksi negatif dengan satwa liar sekitar satu bulan yang lalu.
Camat Pakkat juga menyampaikan himbauan kewaspadaan kepada desa-desa di Kecamatan Pakkat, khususnya desa-desa yang berada di sekitar kawasan hutan.
Dalam kegiatan penyuluhan, tim menjelaskan kepada masyarakat bahwa lokasi penggembalaan ternak berbatasan dengan kawasan hutan lindung yang merupakan habitat alami satwa liar.
Oleh karena itu, penanganan dilakukan dengan mengedepankan mitigasi dan pencegahan interaksi negatif, termasuk melalui pengelolaan ternak yang lebih aman.
Masyarakat dihimbau untuk membawa ternak kembali ke sekitar permukiman pada sore hari dan tidak meninggalkan ternak dalam waktu yang lama di lokasi yang berdekatan dengan habitat satwa liar.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan perburuan atau tindakan yang dapat membahayakan satwa liar.
“BBKSDA Sumatra Utara mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan dengan tidak mendekati atau melakukan tindakan terhadap satwa liar yang ditemukan. Setiap informasi mengenai keberadaan satwa liar agar segera dilaporkan kepada aparat pemerintah setempat atau petugas BBKSDA Sumatra Utara agar dapat ditindaklanjuti sesuai prosedur,” kata Andar mengakhiri. (*)
(Humbang Hasundutan)
Belum ada Komentar untuk "Ternak Milik Warga Desa Tukka Dolok Mati Diserang Satwa Liar, BBKSDA Sumut Temukan Jejak Kaki Harimau Sumatra "
Posting Komentar