Tensi Geopolitik Bergejolak, IHSG Nyaman di Zona Hijau
Grafik pergerakan IHSG. Pada perdagangan Selasa (1/9/2026), IHSG bertahan di zona hijau.lensamedan-istLensaMedan - Neraca perdagangan pada bulan Juli yang tak lagi deficit dan justru membukukan surplus sebanyak US$0,13 miliar menjadi kabar baik bagi pasar keuangan ditanah air.
Mata uang Rupiah ditutup stabil di level yang sama 17.710 per Dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga bertahan di zona hijau selama sesi perdagangan berlangsung dalam rentang 6.535 hingga 6.608.
Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, selama sesi perdagangan, Rupiah sempat melemah terbatas ke level 17.730. Namun situasinya berbalik di sesi perdagangan kedua.
Sementara IHSG pada perdagangan hari ini ditutup menguat signifikan 1,14% di level 6.599,943 setelah tertahan di level psikologis 6.600, dan mengalami koreksi saat berada di atas 6.600.
IHSG bergerak anomali dibandingkan dengan mayoritas bursa saham di Asia yang justru ditutup di zona merah.
“Anomali yang terjadi pada IHSG pada hari ini mengabaikan sentimen buruk dari kenaikan harga minyak mentah jenis Brent ke level US$92 per barel,” ujar Gunawan di Medan, Selasa (1/9/2026).
Aksi jual beli serangan yang kembali terjadi antara AS dengan Iran disebutkan Gunawan memicu kekhawatiran potensi kenaikan inflasi yang akan menggerus kinerja emiten di pasar saham.
IHSG diuntungkan oleh rilis data ekonomi tanah air ditengah derasnya arus investasi asing yang masuk ke pasar saham.
“Namun pelaku pasar tetap dihantui rasa khawatir dari tensi geopolitik yang mulai mengerek kenaikan harga energi,” sebutnya.
Di sisi lain harga emas merespon dengan koreksi dikisaran harga US$4.379 per ons troy, atau sekitar Rp2,5 juta per gram. Harga emas masih terombang-ambing seiring ditengah tensi geopolitik yang tidak menentu. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Tensi Geopolitik Bergejolak, IHSG Nyaman di Zona Hijau"
Posting Komentar