Tekanan Jual Surat Hutang Berlanjut, Rupiah Terus Dekati 18.000 Per Dolar AS
Uang kertas Rupiah. Pada sesi pertama perdagangan Jumat (25/9/2026), Rupiah ditransaksikan melemah terhadap Dolar AS.lensamedan-istLensaMedan - Klaim pengangguran awal AS merealisasikan data yang lebih rendah dibandingkan dengan ekspektasi pasar. Initial jobless claim AS berada di angka 197 ribu jiwa. Penurunan tersebut bisa meredakan spekulasi kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS untuk sementara waktu.
Namun sayangnya pasar keuangan akan lebih fokus pada pasar obligasi AS dibandingkan data lainnya.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali naik dan menyentuh level tertingginya sejak tahun 2004. Imbal hasil tersebut sempat menyentuh 5,51% pada sesi perdagangan waktu AS. Sementara itu USD Index bergerak stabil dengan kecenderungan turun pada sesi perdagangan Asia. Kombinasi sentimen ini berpeluang menbuat Rupiah kesulitan untuk menguat.
Pada sesi perdagangan pagi ini, mata uang Rupiah ditransaksikan melemah ke level 17.900 per Dolar AS. Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan mampu menguat di level 6.315, berbeda arah dengan mayoritas bursa saham di Asia yang alami pelemahan.
“Potensi koreksi terbuka sejalan dengan lonjakan pada harga minyak mentah jenis Brent ke level US$105 per barel,” ujar Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, Jumat (25/9/2026).
Di sisi lain, harga emas dunia masih alami tekanan dikisaran level US$4.287 per ona troy, atau sekitar Rp2,48 juta per gram. Harga emas dunia masih kesulitan untuk menguat ditengah upaya perdamaian timur tengah untuk kembali membuka blokade Selat Hormuz.
Justru saat ini kondisinya diperburuk dengan tekanan jual pasar obligasi yang kembali memperkuat rencana kenaikan bunga acuan The Fed. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Tekanan Jual Surat Hutang Berlanjut, Rupiah Terus Dekati 18.000 Per Dolar AS"
Posting Komentar