Sofyan Tan: Satya Terra Bhinneka Harus Jadi Rumah Bersama, Bukan Cuma Tempat Bekerja

Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), dr Sofyan Tan, didampingi Anggota Dewan Pembina YPSIM, Felix Iskandar Harjatanaya; Ketua YPSIM, Finche Kosmanto; Rektor ST Bhinneka, Bobby Christian Halim, berfoto bersama usai Rapat Tahunan Universitas Satya Terra Bhinneka di Auditorium Bung Karno YPSIM, Medan, Sabtu (5/9/2026).lensamedan-ist

LensaMedan — Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka diharapkan bukan sekadar tempat bekerja dan mengajar, tetapi rumah bersama yang memberikan rasa aman, nyaman, kesejahteraan, serta masa depan bagi seluruh keluarga besar kampus. 

Harapan ini Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), dr Sofyan Tan, dalam Rapat Tahunan Universitas Satya Terra Bhinneka di Auditorium Bung Karno YPSIM, Medan, Sabtu (5/9/2026).

Di hadapan para dosen dan tenaga kependidikan, Sofyan Tan meminta seluruh keluarga besar ST Bhinneka membangun budaya disiplin, integritas, saling peduli dan memahami kultur kampus yang sejak awal dibangun atas semangat keberagaman dan inklusivitas. 

“Kalau Bapak/Ibu memberikan hatinya sepenuhnya kepada Satya Terra Bhinneka, maka saya juga akan memberikan sepenuhnya kepada Bapak/Ibu dalam hal kesejahteraan. Jangan ragukan hal itu,” pintanya.

Sofyan Tan mengatakan, ST Bhinneka sengaja memberi ruang besar kepada anak-anak muda dan fresh graduate untuk ikut membangun universitas. Ia ingin mereka tumbuh bersama kampus, bukan sekadar datang mengajar lalu pulang. 

Ia menilai, dosen muda harus memiliki kesempatan mengembangkan kompetensi, melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor dan profesor, sekaligus memperoleh kehidupan yang layak bersama keluarganya.

Bahkan, Sofyan Tan menyampaikan komitmen bahwa dosen yang mengabdi dan bekerja dengan benar harus memiliki masa depan yang jelas. Setelah lima tahun mengabdi, yayasan menyiapkan skema dana pensiun melalui DPLK.

“Kalau kita sudah berkeluarga, yang kita pikirkan adalah bagaimana rumah itu dapur ngebul-ngebul, anak-anak kita bisa sekolah dan lebih pintar daripada kita,” katanya.

Bagi Sofyan Tan, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari gedung megah atau jumlah mahasiswa, tetapi dari seberapa banyak kehidupan manusia yang mampu diubahnya.

Ia pun meminta para dosen tidak terjebak pada orientasi uang. Menurutnya, dosen harus menjadi teladan, mampu menginspirasi mahasiswa, menguasai teknologi, gemar membaca dan menulis, serta menghasilkan lulusan yang hebat.

“Kalau kamu ingin sukses, lakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain,” ujarnya.

Semangat tersebut, kata Sofyan Tan, berakar dari pengalaman hidupnya sendiri. Ia mengaku lahir dari keluarga miskin dan tumbuh di lingkungan yang pernah mengalami konflik sosial. Pengalaman itu justru membentuk keyakinannya bahwa pendidikan harus menjadi jalan agar seseorang dapat bertahan dan mengubah kehidupannya.

“Tujuan saya membangun sekolah ini adalah balas dendam. Karena saya miskin nggak bisa sekolah, saya bikin sekolah untuk orang miskin,” ungkapnya.

Dari pengalaman itulah YPSIM berkembang selama puluhan tahun dan melahirkan ST Bhinneka sebagai bagian dari cita-cita membangun pendidikan yang berakar pada keberagaman.

Kini YPSIM telah menaungi tujuh lembaga pendidikan dan layanan, mulai dari TK hingga perguruan tinggi serta klinik. Ke depan, yayasan menargetkan hadirnya lembaga pendidikan khusus bagi penyandang disabilitas sebagai unit kedelapan.

Sofyan Tan menegaskan, keberagaman yang diperjuangkan bukan hanya soal suku, agama, ras dan gender, tetapi juga keberadaan penyandang disabilitas. “Mereka bukan sampah. Mereka adalah berlian kalau kita bikin sesuatu yang baik,” katanya.

Karena itu, ST Bhinneka juga diarahkan menjadi kampus inklusif yang mampu melahirkan guru-guru yang memahami dan menerima keberagaman, termasuk melalui program studi pendidikan yang dimilikinya. Ia berharap seluruh dosen dan tenaga kependidikan tidak berjalan sendiri-sendiri. Semua harus berada dalam satu perahu dan saling mendukung.

“Kalau kita semuanya care, peduli, saling membantu, maka selesai. Solid di dalam,” katanya.

Ia menegaskan, pertumbuhan ST Bhinneka yang masih berusia muda harus dibangun dengan fondasi pengalaman YPSIM selama puluhan tahun. Gedung, lingkungan kampus, riset, kesejahteraan dosen hingga beasiswa, menurut dia, harus menjadi bagian dari satu ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

“Setiap yang kita buat harus berbuah dan berhasil,” ujarnya.

Pada akhirnya, Sofyan ingin ST Bhinneka menjadi kampus yang bukan hanya mencetak sarjana, tetapi mengubah nasib manusia yakni, dosen yang memiliki masa depan, mahasiswa yang memperoleh kesempatan, dan mereka yang selama ini dianggap kurang mampu atau berbeda, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk menunjukkan kelebihannya.

Hadir dalam kegiatan Anggota Dewan Pembina YPSIM, Felix Iskandar Harjatanaya; Ketua YPSIM, Finche Kosmanto; Rektor ST Bhinneka, Bobby Christian Halim, serta wakil rektor, pimpinan fakultas dosen dan tenaga pendidikan.(*)


(Medan)


Belum ada Komentar untuk "Sofyan Tan: Satya Terra Bhinneka Harus Jadi Rumah Bersama, Bukan Cuma Tempat Bekerja"

Posting Komentar

Seminar Nasional UISU Soroti Wakaf Hijau dan Tobat Ekologis Menuju Indonesia Emas 2045

LensaMedan - Yayasan Wakaf Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) menggelar Seminar Nasional bertema pengembangan ekosistem syariah, wakaf...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel