Menembus Batas Takdir: Ketika Harapan Buruh Tani Bertemu Malaikatnya
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, menerima pelukan dari orang tua salah satu mahasiswa penerima KIP Kuliah, di depan Kampus Satya Terra (ST) Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Kecamatan Medan Sunggal, Medan, Rabu (9/9/2026).lensamedan-istLensaMedan — Suara gemetar dan napas yang tertahan memenuhi ruangan siang itu. Rianto, seorang warga asal Saentis, Percut Sei Tuan, berdiri di hadapan hadirin dengan tangan bergetar menggenggam mikrofon.
Pria paruh baya itu tak sanggup menyembunyikan getar emosi di dadanya saat menceritakan perjalanan panjang keluarganya, sebuah kisah nyata tentang keajaiban yang meretas keputusasaan di tengah himpitan ekonomi.
Dalam kehidupan keluarga Rianto, pendidikan tinggi dulunya tak ubahnya mimpi di siang bolong.
"Jujur, saya tak pernah membayangkan ini terjadi. Dalam keluarga kami, tidak pernah ada satu pun yang mengenyam bangku kuliah. Semuanya tak berkutik dari lingkaran garis kemiskinan," ungkap orangtua dari Indi Khairunnisa mahasiswa Prodi Bisnis Digital itu dengan mata berkaca-kaca.
Hal itu disampaikan Rianto bersama beberapa orangtua mahasiswa saat memberikan testimoni di depan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, di depan Kampus Satya Terra (ST) Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Kecamatan Medan Sunggal, Medan, Rabu (9/9/2026).
Ia menyampaikan bahwa himpitan finansial membuat cita-cita menyekolahkan anak ke jenjang perguruan tinggi selalu kandas bahkan sebelum sempat diperjuangkan.
Namun, takdir mulai menunjukkan titik baliknya ketika secercah harapan mengetuk pintu rumah mereka. Rianto mengingat betul momen ketika ada yang datang menawarkan jalan agar buah hatinya dapat melanjutkan pendidikan.
Antara percaya dan ragu, Rianto memberanikan diri mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, mematahkan mitos ketidakmampuan keluarganya. Ia bertekad, rantai kemiskinan struktural keluarga ini harus terputus pada generasinya.
"Masa iya keluarga saya harus miskin selamanya? Saya harus putuskan untuk mengambil kesempatan ini. Tak peduli betapa mustahilnya kelihatannya di awal," kenang Rianto penuh emosi.
Momen pembuktian itu tiba dengan kepasrahan luar biasa. Hari ketika sang putri diterima di perguruan tinggi, Rianto mengantarkannya sendiri. Tanpa mengetahui arah jalan, ia dan anaknya melangkah hanya berbekal semangat juang, bahkan sempat tersasar beberapa kali sebelum akhirnya tiba di kampus tujuan.
Rasa cemas masih menyelimuti pikirannya—apakah benar perkuliahan ini sepenuhnya gratis tanpa beban biaya tersembunyi?
Keingintahuannya yang mendalam membuat Rianto bahkan memberanikan diri bertanya langsung kepada petugas keamanan demi memastikan masa depan buah hatinya benar-benar terjamin.
Kebahagiaan Rianto makin membuncah tatkala mengetahui bahwa fasilitas kampus tak sekadar soal pembebasan biaya kuliah. Kehadiran layanan kesehatan gratis di lingkungan kampus menjadi oasis tersendiri baginya.
Di momen yang sarat haru, Rianto memeluk erat anaknya, menyisipkan pesan mendalam yang membakar semangat:
"Berikan yang terbaik untuk sekolah ini, Nak. Jangan bikin malu. Jadilah bukti bahwa anak buruh pun bisa berdiri tegak," ujarnya sambil menahan air mata.
Sosok Malaikat Penyelamat Asa
Tangis haru Rianto rupanya bukan satu-satunya yang menggema di ruangan tersebut. Di sudut lain, terungkap pula kesaksian dari para ibu dan orang tua miskin yang meniti jalan serupa, salah satunya seorang ibu buruh tani penyewa lahan dari Simalingkar.
Sehari-hari, ia dan suaminya bekerja keras menanam sayur di tanah sewaan, lalu menjualnya ke Pasar Sore demi menghidupi tiga orang anak dengan impian besar, menjadikan ketiganya sarjana.
Pengorbanan dan perjuangan mereka kerap diuji oleh keterbatasan materi yang menyayat hati. Mulai dari handphone yang rusak hingga kendala administrasi desil ekonomi sempat mengancam asa anak-anak mereka untuk melangkah ke perguruan tinggi.
Namun, di tengah keputusasaan yang melanda, hadir sosok Politikus humanis, dr. Sofyan Tan, yang diakui warga tak ubahnya bagaikan 'malaikat' yang dikirimkan Tuhan untuk menjawab doa-doa mereka.
"Bapak Sofyan Tan adalah perpanjangan tangan Tuhan, malaikat bagi kami masyarakat kecil yang tak punya apa-apa. Tanpa pandang bulu, baik Suku Jawa, Batak, Tionghoa, maupun Agama apa pun, beliau merangkul dan menyelamatkan masa depan anak-anak kami," tutur seorang ibu seraya terisak menahan haru.
Bagi masyarakat miskin di Medan dan sekitarnya, program beasiswa yang diusung dr. Sofyan Tan bukan sekadar bantuan finansial, melainkan jembatan peradaban. Bantuan ini membuka jalan bagi anak buruh tani, pekerja harian, hingga masyarakat pinggiran untuk meraih mimpi setinggi-tingginya di bangku perguruan tinggi.
Melalui tangan dingin dan kepeduliannya, ribuan anak dari latar belakang kurang mampu kini berkesempatan menembus tembok tebal ketimpangan sosial, membuktikan bahwa pendidikan berkualitas adalah hak setiap anak bangsa tanpa terkecuali.
Sofyan Tan yang juga sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), sebelumnya menyampaikan bahwa fasilitas megah bernilai Rp200 miliar dan dosen-dosen berkualitas di kampus Universitas ST Bhinneka disiapkan khusus untuk mendukung masa depan anak-anak khususnya dari keluarga kurang mampu.
"Tempatnya bagus, tapi untuk siapa? Untuk putra-putri Bapak dan Ibu yang saya sayangi. Mereka tidak perlu bayar uang kuliah dan dapat uang saku dari KIP Kuliah," ujar Sofyan Tan di hadapan para orang tua penerima beasiswa.
Dalam kesempatan tersebut, Sofyan Tan juga memaparkan keprihatinannya terkait akses pendidikan tinggi di Indonesia.
Dari sekitar 4 juta lulusan SMA/SMK tahun ini, hanya sekitar 1,6 juta yang berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi. Kondisi ini diperberat dengan persoalan ekonomi keluarga, di mana indikator kemiskinan Bank Dunia mencatat angka yang jauh lebih besar dibanding data BPS.
Oleh karena itu, ia mengingatkan para orang tua dan mahasiswa agar tidak menggunakan uang bantuan untuk hal-hal konsumtif. Bantuan tersebut sepenuhnya diperuntukkan bagi kebutuhan pendidikan anak.
Selain itu, Sofyan Tan membagikan kisah hidupnya yang tumbuh di kawasan Sunggal dengan kondisi rumah yang sangat sederhana beratap nipah dan bertembok tepas. Pengalaman masa kecilnya menjadi dorongan kuat untuk memperjuangkan nasib keluarga kurang mampu.
"Saya berdiri di sini, masih terbayang di otak saya, di sinilah tempat saya cari belut. Dulu rumah saya bertembok tepas, beratap nipah, dan berkasus cemplung. Saya bisa seperti hari ini tidak ujug-ujug jadi. Kemiskinan harus kita lawan dengan kerja keras," tegasnya.
Mengakhiri pidatonya, Sofyan Tan memberikan motivasi agar para mahasiswa belajar dengan serius dan tidak bersantai-santai. Ia optimistis, dalam empat tahun mendatang, para mahasiswa tersebut akan lulus menjadi sarjana, meraih penghasilan yang layak, dan membawa perubahan ekonomi yang lebih baik bagi keluarga mereka. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Menembus Batas Takdir: Ketika Harapan Buruh Tani Bertemu Malaikatnya"
Posting Komentar