IHSG Bergerak Sideways, Rupiah Diperdagangkan Melemah
LensaMedan - Tekanan jual pada obligasi terus mereda, sejalan dengan pelemahan harga minyak mentah dunia belakangan ini.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di level 4,95%. Meski demikian, USD Index justru bertahan dikisaran level 100,4. Kinerja mata uang Rupiah masih rawan alami koreksi, karena USD Index cenderung bergerak naik.
Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, ekspektasi kenaikan bunga acuan kedepan masih menjadi fokus utama pelaku pasar sejauh ini.
Kinerja sektor keuangan masih dihantui oleh kenaikan biaya keuangan secara global dimana Rupiah pada perdagangan pagi ini ditransaksikan melemah ke level 17.885 per Dolar AS.
Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan ditransaksikan menguat ke level 6.392, meskipun sejauh ini kerap masuk ke zona merah.
Sempat melemahnya harga minyak mentah dunia, dan sejauh ini masih bertahan di level US$100 untuk jenis Brent menjadi katalis positif bagi pergerakan pasar saham di Asia.
Walaupun ketegangan di wilayah Timur Tengah tetap masih berlangsung, dan masih menjadi ancaman bagi harga komoditas maupun pasar keuangan secara keseluruhan.
“Pelaku pasar juga tengah menanti diplomasi pemimpin dunia dalam sidang PBB di pekan ini,” ujar Gunawan di Medan, Selasa (22/9/2026).
Selain sejumlah agenda besar tersebut, pasar nantinya juga akan mencermati sejumlah agenda penting dari AS yang akan digunakan sebagai indikator tambahan arah kebijakan The Fed mendatang, setelah sebelumnya Bank Sentral AS menaikkan bunga acuannya.
Terpisah harga emas dunia masih menguat ke level US$4.371 per ons troy atau sekitar Rp2,51 juta per gram.
Harga emas dunia membaik kinerjanya seiring dengan harga minyak mentah dunia yang cenderung stabil setelah mengalami tekanan besar sebelumnya. (juli simanjuntak)
(Medan)

Belum ada Komentar untuk "IHSG Bergerak Sideways, Rupiah Diperdagangkan Melemah"
Posting Komentar