Harga Minyak Dunia Bertahan Mahal, IHSG Rawan Koreksi
LensaMedan - Eskalasi konflik antara Iran dengan AS yang tak kunjung mereda membuat pasar keuangan berada dalam tekanan selama 7 bulan terakhir.
Pada perdagangan hari ini, kabar AS yang telah menghancurkan kapal tanker milik Iran telah memicu kenaikan harga minyak mentah jenis Brent ke level US$101,1 per barel pada perdagangan pagi ini.
Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, kenaikan tersebut memicu koreksi pada bursa saham di AS, yang turut diikuti dengan memburuknya mayoritas bursa saham di kawasan Asia.
Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan ditransaksikan menguat ke level 6.688.
IHSG kembali menunjukan pergerakan yang berbeda dibandingkan dengan bursa saham di Asia kebanyakan.
Sementara itu mata uang Rupiah pada sesi pembukaan perdagangan pagi ini ditransaksikan melemah ke level 17.515 per Dolar AS.
"Dengan pelemahan Rupiah ditambah memburuknya bursa saham di Asia, membuat IHSG rentan mengalami koreksi," ujar Gunawan di Medan, Kamis (10/9/2026).
Gunawan menyebutkan, sentimen buruk eksternal sangat mendominasi tekanan pada pasar keuangan di Asia pada pagi ini.
Selain masalah geopolitik, fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada rilis data ekonomi penting AS seperti data inflasi produksi dan konsumen.
Sejauh ini pelaku pasar masih melihat potensi realisasi data inflasi yang bisa membuat arah kebijakan Bank Sentral AS atau The Fed tidak bernada hawkish, khususnya jika dibandingkan dengan spekulasi kebijakan bunga The Fed setelah rilis data ketenagakerjaan sebelumnya.
Indikasinya bisa terlihat pada harga emas yang cenderung naik dikisaran level US$4.417 per ons troy pada perdagangan hari ini. Jika dirupiahkan, harga emas saat ini ditransaksikan dikisaran Rp2,5 juta per gram.
"Pelaku pasar di komoditas emas terpantau memilih sikap wait and see jelang rilis data inflasi AS," tutupnya. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Harga Minyak Dunia Bertahan Mahal, IHSG Rawan Koreksi"
Posting Komentar