Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara Sofyan Tan : Apa Arti Pancasila Jika Rakyat masih Sulit Cari Kerja dan Anak Sulit Sekolah?
Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan yang juga Anggota Komisi X DPR RI, dr Sofyan Tan, saat menggelar sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan, Rabu (12/8/2026).lensamedan-istLensaMedan – Apa arti Pancasila ketika rakyat masih kesulitan mencari pekerjaan? Apa makna keadilan sosial ketika ekonomi keluarga belum juga membaik dan anak-anak dari keluarga kurang mampu masih harus berjuang mendapatkan pendidikan berkualitas?
Pertanyaan itu mengemuka dalam Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara yang disampaikan Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan yang juga Anggota Komisi X DPR RI, dr Sofyan Tan, bersama ratusan warga Medan Sunggal di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan, Rabu (12/8/2026).
Sofyan menegaskan, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar materi yang dihafalkan, tetapi harus menjadi pedoman negara dalam menjawab persoalan nyata masyarakat.
Menurutnya, ketika angka pengangguran meningkat dan kondisi ekonomi rakyat belum membaik, semangat keadilan sosial dalam Pancasila harus diwujudkan melalui kebijakan yang benar-benar membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperbaiki kehidupannya.
“4 Pilar ini jangan hanya menjadi hafalan. Pancasila harus kita rasakan. UUD 1945 harus kita perjuangkan. Kalau rakyat sulit mendapatkan pekerjaan dan anak-anak sulit mendapatkan pendidikan, maka kita harus bertanya apakah cita-cita keadilan sosial sudah benar-benar kita wujudkan,” ujar Sofyan.
Ia menempatkan pendidikan sebagai salah satu kunci utama untuk mengubah nasib masyarakat. Sofyan mengingatkan, negara memiliki tanggung jawab konstitusional memastikan pendidikan dasar dapat diakses tanpa biaya.
Hal itu sejalan dengan Putusan MK Nomor 3/PUU-XXII/2024 yang menegaskan pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, termasuk pada satuan pendidikan dasar yang diselenggarakan masyarakat sesuai ketentuan.
Karena itu, ia meminta amanat konstitusi mengenai alokasi minimal 20% anggaran pendidikan dalam APBN tidak kehilangan makna.
Sofyan juga menyoroti polemik dimasukkannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam komponen anggaran pendidikan.
Ia menegaskan dirinya tidak mempersoalkan tujuan pemberian makanan bergizi kepada anak-anak, tetapi mempertanyakan jika pembiayaannya sampai mengurangi ruang fiskal untuk kebutuhan inti pendidikan.
“MBG itu penting. Anak-anak kita harus makan bergizi. Tetapi jangan sampai pendidikan dikorbankan. Jangan sampai anggaran pendidikan yang seharusnya untuk guru, sekolah, sarana pendidikan, beasiswa, riset dan peningkatan mutu pendidikan justru terdesak,” katanya.
Bagi Sofyan, persoalan tersebut merupakan bagian dari perjuangan mewujudkan nilai-nilai 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara.
Pancasila mengamanatkan keadilan sosial, UUD 1945 menjamin hak warga negara memperoleh pendidikan, NKRI menuntut negara hadir bagi seluruh rakyat, sedangkan Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa setiap anak Indonesia, apa pun latar belakangnya, memiliki hak yang sama untuk meraih masa depan.
“Jangan pernah mengatakan anak orang miskin tidak punya masa depan. Selama dia mau belajar dan negara memberikan kesempatan, dia bisa mengubah nasib keluarganya,” tegasnya.
Di hadapan warga Sunggal, Sofyan pun menitipkan pesan agar masyarakat tidak kehilangan harapan. Ia meminta orang tua terus mendorong anak-anak bersekolah, sementara generasi muda diminta tidak menyerah pada keadaan.
“Jangan menyerah. Pendidikan adalah tangga untuk mengubah nasib. Mungkin kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan, tetapi kita bisa berjuang menentukan masa depan kita,” katanya.
Ia berharap Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi energi bagi warga Sunggal untuk menjaga persatuan sekaligus memperjuangkan kehidupan yang lebih adil, terutama melalui pendidikan.
Sebab, bagi Sofyan, membela Indonesia bukan hanya menjaga persatuan, tetapi juga memastikan tidak ada anak bangsa yang kehilangan kesempatan untuk belajar, bekerja, dan mengubah nasibnya.
Hadir dalam acara Rektor Universitas Satya Terra Bhinneka, Bobby Christian Halim, Tenaga Ahli DPR RI Lisnawati Ginting dan Pandapotan Tamba. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara Sofyan Tan : Apa Arti Pancasila Jika Rakyat masih Sulit Cari Kerja dan Anak Sulit Sekolah?"
Posting Komentar