Kajian I-SER UI: Perbedaan Sistem DAS Kunci Memahami Banjir Garoga
Peneliti I-SER UI, Dr. Eko Kusratmoko, saat memaparkan hasil analisis DAS Aek Pahu dalam kegiatan Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pasca Banjir Besar 2025, yang digelar di Medan beberapa waktu lalu.lensamedan-istLensaMedan - Analisis Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) Fakultas MIPA Universitas Indonesia menghasilkan temuan penting bahwa banjir yang melanda Desa Garoga, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada November 2025 tidak dapat dipahami tanpa terlebih dahulu memahami perbedaan mendasar antara dua sistem daerah aliran sungai yang berada dalam satu lanskap Batang Toru.
Peneliti I-SER UI, Dr. Eko Kusratmoko, menjelaskan bahwa
kawasan terdampak banjir utama berada di bagian tengah DAS Garoga.
Sementara, DAS Aek Pahu yang sistem hidrologinya berbeda
memiliki pola aliran tersendiri yang menuju hilir melalui Sungai Aek Pahu dan
kemudian menuju DAS Garoga.
"Berdasarkan analisis kami, tidak terdapat hubungan
langsung antara aliran dari area Martabe dengan banjir yang terjadi di DAS
Garoga," ujar Dr. Eko menjawab pertanyaan peserta mengenai kaitan antara
aktivitas esktraktif dari pihak swasta dengan banjir.
Tanya jawab itu mengemuka dalam kegiatan Diseminasi Hasil
Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pasca Banjir Besar 2025, yang
digelar di Medan beberapa waktu lalu.
Temuan dari FMIPA UI merupakan bagian dari kajian komprehensif
yang mengintegrasikan data geologi, geomorfologi, geofisika, penginderaan jauh,
dan hidrometeorologi.
Sebelumnya, PT Agincourt Resurces (PTAR) pada Desember 2025
mengeluarkan pernyataan bahwa perusahaan beroperasi di sub DAS Aek Pahu yang
terpisah dari DAS Garoga sehingga aktivitas perusahaan emas itu tidak
berhubungan dengan bencana di Garoga.
Secara keseluruhan, kajian menyimpulkan bahwa banjir bandang
Batang Toru dan Garoga merupakan bencana hidrometeorologi yang dipicu hujan
ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar dengan curah hujan harian mencapai 229,7 mm
dan akumulasi mingguan lebih dari 600 mm, setara kejadian berulang 300 tahun.
Faktor penguat meliputi kondisi geomorfologi pegunungan,
struktur geologi, serta dinamika DAS dengan migrasi saluran alami yang berulang
setiap 5–10 tahun.
Kajian dilakukan menggunakan citra satelit dan foto udara,
mencakup keseluruhan DAS dengan fokus pada bagian hulu DAS Garoga maupun Batang
Toru.
Dr. Eko menambahkan, kajian ini dirancang sebagai kasus
percontohan yang dapat direplikasi ke wilayah lain dengan karakteristik dan
potensi risiko serupa, termasuk kemungkinan perluasan ke Tapanuli Tengah dan
Tapanuli Utara.
Dalam analisis spesifik terhadap DAS Aek Pahu, tim peneliti
juga mengkaji kapasitas infrastruktur penampung air (reservoir) yang berada di
kawasan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa infrastruktur yang dimiliki
Martabe mampu menampung curah hujan dengan periode ulang hingga sekitar 700
tahun.
Curah hujan tinggi yang jatuh di kawasan DAS Aek Pahu diserap
ke dalam sistem penampungan sehingga tidak menghasilkan aliran tambahan yang
berkontribusi terhadap banjir di Desa Garoga.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menyambut
hasil kajian ini sebagai landasan ilmiah yang sangat dibutuhkan daerah dalam
menyusun kebijakan mitigasi bencana dan pengelolaan ekosistem secara
berkelanjutan.
"Kami berharap dari riset dan diskusi ini ada
rekomendasi kepada kami di Tapanuli Selatan untuk bagaimana menjaga alam dan
ekosistem di Tapanuli Selatan," katanya.
Dr. Eko menegaskan, pemahaman yang tepat terhadap batas dan
karakter masing-masing DAS adalah fondasi ilmiah yang tidak bisa diabaikan
dalam setiap upaya penanggulangan dan pencegahan bencana hidrometeorologi di
kawasan pegunungan Sumatra. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Kajian I-SER UI: Perbedaan Sistem DAS Kunci Memahami Banjir Garoga"
Posting Komentar