Pasar Khawatirkan Perang yang Memburuk, IHSG dan Rupiah Masih Mampu Ditutup Menguat

Grafik pergerakan IHSG. Pada perdagangan Rabu (15/7/2026), IHSG masih mampu ditutup di zona hijau ditengah kekhawatiran perang yang masih berkecamuk.lensamedan-ist

LensaMedan – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditransaksikan di dua zona yang berbeda dalam rentang 6.007 hingga 6.081, hingga akhirnya ditutup menguat tipis 0,04% di level 6.041,972. 

Sejumlah emiten yang menguat dan turut memberikan kontribusi pada penguatan IHSG diantaranya BMRI, BBRI, ANTM, RANS hingga DEWA.

IHSG menguat ditengah kinerja bursa saham Asia yang bergerak mixed dengan mayoritas ditutup di zona hijau.

Sementara itu kinerja mata uang Rupiah juga ditutup menguat di level 18.060 per Dolar AS. Dibandingkan dengan sesi pembukaan perdagangan, Rupiah terpantau mengalami tekanan didorong penguatan USD Index dikisaran level 100,9  meskipun akhirnya masih mampu ditutup di zona hijau. 

Tidak hanya terhadap Rupiah, Dolar AS pada perdagangan hari ini terpantau menguat terhadap sejumlah mata uang di Asia lainnya seperti terhadap Yen Jepang, Dolar Hongkong hingga Rupee India.

Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, kinerja pasar keuangan tanah air belakangan ini mengabaikan sentimen positif dari lembaga pemeringkat internasional S&P, termasuk juga data inflasi AS yang semestinya bisa menjadi sentimen positif bagi penguatan mata uang Rupiah. 

Walaupun Rupiah dan IHSG tetap merespon sejumlah sentimen tersebut, namun pelaku pasar terlihat lebih berhati-hati setelah harga minyak mentah dunia alami peningkatan.

“Aksi jual beli serangan antara Iran dengan AS, serta ancaman AS yang akan kembali menyerang Iran jika menolak untuk kembali berunding, ditambah dengan kekhawatiran akan kembali ditutupnya Selat Hormuz telah memicu sentimen negatif pasar karena inflasi akan kembali menjadi ancaman pasar kedepan. Sentimen tersebut mengabaikan sejumlah kabar positif dari tanah air,” ujar Gunawan di Medan, Rabu (15/7/2026).

Di sisi lain, harga emas dunia cenderung stabil dan masih bertahan dikisaran harga US$4.031 per ons troy, atau sekitar Rp2,35 juta per gram. Harga emas yang pada dasarnya mendapatkan momentum positif dari melemahnya data inflasi AS, nyatanya tidak membuat spekulasi penurunan bunga acuan The Fed menguat. 

Tensi geopolitik yang memburuk saat ini justru memperkuat bahwa inflasi tetap menjadi ancaman kedepan. (juli simanjuntak)


(Medan)


Belum ada Komentar untuk "Pasar Khawatirkan Perang yang Memburuk, IHSG dan Rupiah Masih Mampu Ditutup Menguat"

Posting Komentar

RSU Haji Medan Layani 1.099 Pasien Berobat Gratis

Pemerintah Provinsi Sumatra Utara (Sumut) melalui RS Haji Provinsi Sumut melakukan Konferensi Pers terkait Program Universal Health Coverage...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel