Aksi Jual Beli Serangan Iran–AS Memburuk, IHSG Coba Menguat, Rupiah Terpuruk Diatas 18.100 Per Dolar AS
Grafik IHSG. Pada perdagangan pertama Senin (13/7/2026), IHSG mencoba keluar dari tekanan dan bergerak ke zona hijau setelah mengawali perdagangan di zona merah.lensamedan-istLensaMedan - Pasar keuangan akan dibanjiri oleh banyak sentimen data yang akan menjadi fokus pelaku pasar selanjutnya.
Sejumlah data penting yang akan dirilis dan akan menjadi sentimen pasar dalam jangka pendek diantaranya adalah Inflasi AS, pertumbuhan ekonomi (PDB) China di kuartal ke dua secara tahunan, Inflasi produsen AS serta data penjualan ritel AS.
Data tersebut menurut Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, akan menentukan ekspektasi kebijakan suku bunga acuan oleh Bank Sentral.
Setiap ada kenaikan pada laju tekanan inflasi AS, maka akan mendorong spekulasi bahwa suku bunga acuan akan dipertahankan pada level tinggi.
"Kondisi sebaliknya bisa saja terjadi jika rilis data penting tersebut masih memberikan ruang bagi Bank Sentral AS untuk mempertahankan bunga acuannya, atau justru sikap Bank Sentral justru lebih bernada dovish," ujar Gunawan di Medan, Senin (13/7/2026).
Meski demikian, kata Gunawan melanjutkan, sejumlah data tersebut masih akan dibayangi perang antara Iran dengan AS yang kembali memanas di Selat Hormuz.
Aksi jual beli serangan kembali terjadi belakangan ini, dimana pasar saham di Asia merespon negatif dengan mayoritas ditransaksikan di zona merah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sesi pembukaan perdagangan sempat menguat di level 5.934, namun langsung berbalik arah dan sempat bolak balik menguji level psikologis 5.900.
Tidak hanya IHSG, kinerja Rupiah juga memburuk pada perdagangan pagi ini dengan ditransaksikan melemah ke level 18.110 per Dolar AS.
Tekanan yang dialami Rupiah kian memburuk seiring dengan konflik yang kembali pecah dan memicu kenaikan harga minyak mentah dunia dekati US$80 per barel.
"Rupiah memang tidak melemah sendiri, ada Yuan China, Dolar Singapura hingga Bath Thailand yang juga melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan pagi ini," katanya.
Terpisah harga emas dunia masih bertahan di kisaran level US$4.106 per ons troy atau sekitar Rp2,4 juta per gram.
Harga emas dunia masih bertahan dan sangat rentan terkoreksi jika rilis data inflasi AS mengalami kenaikan.
Pada dasarnya harga emas dunia masih berpeluang mengalami tekanan ditengah lonjakan kenaikan harga minyak mentah yang bsia mendorong spekulasi kenaikan bunga acuan.
Walaupun perang di sisi lain bisa mendorong penguatan pada harga emas di saat-saat tertentu. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Aksi Jual Beli Serangan Iran–AS Memburuk, IHSG Coba Menguat, Rupiah Terpuruk Diatas 18.100 Per Dolar AS"
Posting Komentar