Sosialisasikan 4 Pilar Berbangsa Bernegara, Sofyan Tan: Pendidikan dan Beasiswa Wujud Nyata Pengamalan Pancasila
Anggota MPR RI/DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan saat menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara di Sekolah Yayasan Pendidikan Kebangsaan, Jalan Perguruan Tinggi Swadaya, Medan, Sabtu (20/6/2026).lensamedan-istLensaMedan – Ratusan orangtua siswa, guru, dan masyarakat umum tampak serius menyimak pemaparan Anggota MPR RI/DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan saat menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara di Sekolah Yayasan Pendidikan Kebangsaan, Jalan Perguruan Tinggi Swadaya, Medan, Sabtu (20/6/2026).
Di hadapan peserta, Sofyan Tan tidak hanya menjelaskan pengertian Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika secara normatif. Ia memilih mengajak peserta memahami empat pilar tersebut melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurut Sofyan Tan, empat pilar kebangsaan merupakan fondasi yang menjaga Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai sebuah bangsa besar yang terdiri dari beragam suku, agama, budaya, dan bahasa.
“Kalau kita ingin sebuah bangunan berdiri kuat dan bertahan lama, tentu harus dibangun di atas pondasi yang kokoh. Bangsa Indonesia juga demikian. Kita punya pondasi yang kuat, yaitu Pancasila. Tanpa pondasi yang kuat, bangunan akan mudah runtuh,” ujar Sofyan Tan.
Ia kemudian mengibaratkan UUD 1945 sebagai dinding dan struktur yang mengatur sebuah bangunan. Di dalamnya terdapat berbagai aturan dan batasan yang harus dipatuhi agar kehidupan berbangsa dan bernegara berjalan dengan baik.
Sementara itu, NKRI disebutnya sebagai bagian penting yang menjaga bangunan kebangsaan tetap utuh. Sedangkan Bhinneka Tunggal Ika menjadi perekat yang menyatukan berbagai perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia.
“Indonesia ini luar biasa. Kita punya ratusan suku, bahasa daerah, budaya, dan agama yang hidup berdampingan. Tidak banyak negara yang memiliki keragaman sebesar Indonesia. Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika menjadi kekuatan yang harus terus dijaga,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Sofyan Tan juga menguraikan satu per satu makna yang terkandung dalam lima sila Pancasila. Baginya, Pancasila bukan sekadar teks yang dihafalkan sejak sekolah, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Dia menjelaskan sila pertama mengajarkan masyarakat untuk menghormati kebebasan beragama dan keyakinan orang lain. Sila kedua mengajarkan pentingnya memperlakukan sesama manusia secara adil dan beradab tanpa membedakan latar belakang. Sila ketiga menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman. Kemudian sila keempat mengajarkan budaya musyawarah dalam menyelesaikan persoalan bersama, sementara sila kelima menuntut hadirnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Kalau Pancasila hanya dihafal tetapi tidak dijalankan, maka nilainya tidak akan terasa. Yang penting adalah bagaimana nilai-nilai itu kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sofyan Tan mengatakan dirinya berusaha menerapkan nilai-nilai tersebut dalam berbagai aktivitas sosial maupun tugasnya sebagai anggota DPR RI. Salah satunya melalui perjuangan membantu masyarakat memperoleh akses pendidikan yang lebih baik.
Menurutnya, pendidikan merupakan salah satu jalan untuk menghadirkan keadilan sosial sebagaimana diamanatkan sila kelima Pancasila.
Karena itu, setiap kali turun ke daerah pemilihan dan bertemu masyarakat, ia selalu berupaya memperjuangkan berbagai program bantuan pendidikan, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP) bagi pelajar dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
“Saya turun ke bawah, bertemu masyarakat, mendengar langsung kebutuhan mereka. Banyak orangtua yang ingin anaknya sekolah tetapi terkendala biaya. Ketika kita memperjuangkan PIP dan KIP Kuliah, itu bukan sekadar program bantuan pendidikan, tetapi bagian dari pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dan Empat Pilar Kebangsaan,” kata legislator Dapil Sumut 1 itu.
Menurut Sofyan Tan, negara harus hadir memastikan setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa terhambat kondisi ekonomi keluarga. Dia menegaskan bahwa pengamalan empat pilar tidak selalu diwujudkan dalam hal-hal besar.
Menghormati perbedaan, membantu sesama, menjaga persatuan, menaati aturan, hingga memperjuangkan hak masyarakat memperoleh pendidikan merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai kebangsaan.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, Sofyan Tan berharap pemahaman masyarakat terhadap Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara semakin kuat.
Ia juga mengajak para orangtua dan guru untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini kepada generasi muda agar semangat persatuan, toleransi, dan gotong royong tetap terjaga di tengah berbagai tantangan zaman.
“Empat Pilar ini jangan hanya dipahami sebagai teori. Yang paling penting adalah bagaimana kita menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika itu dilakukan, bangsa ini akan tetap kuat dan Indonesia akan terus maju,” pungkasnya.(*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Sosialisasikan 4 Pilar Berbangsa Bernegara, Sofyan Tan: Pendidikan dan Beasiswa Wujud Nyata Pengamalan Pancasila"
Posting Komentar