Perkuat Distribusi Barang, KAI Angkut 101.652 ton Barang Sepanjang 2026

Lokomotif kereta api menarik rangkaian gerbong yang membawa bahan bakar minyak. Hingga Mei 2026, KAI mencatat volume angkutan retail mencapai 101.652 ton, naik 3,25% dibanding periode yang sama tahun 2025.lensamedan-ist

LensaMedan - Angkutan barang berbasis kereta api terus mengambil peran yang semakin strategis. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume angkutan retail sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 101.652 ton. 

Capaian tersebut meningkat 3,25% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 98.453 ton. Jika dibandingkan dengan Januari–Mei 2024 yang mencapai 84.391 ton, volume angkutan retail KAI tumbuh 20,45% dalam dua tahun terakhir.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan dunia usaha terhadap moda distribusi yang mampu menghadirkan kapasitas angkut besar, kepastian waktu perjalanan, dan efisiensi operasional. 

Berbagai komoditas bergerak melalui layanan angkutan retail KAI setiap hari, mulai dari kebutuhan konsumsi masyarakat, produk manufaktur, barang perdagangan, hingga bahan baku industri.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan bahwa setiap peningkatan volume angkutan barang menggambarkan aktivitas ekonomi yang terus berkembang. Setiap pengiriman menghubungkan pusat produksi dengan pasar, pelaku usaha dengan pelanggan, serta berbagai aktivitas ekonomi yang berlangsung di banyak daerah.

“Ketika distribusi berjalan lancar, industri dapat menjaga produktivitasnya, pelaku usaha dapat mengelola persediaan secara lebih efisien, dan masyarakat memperoleh akses terhadap barang yang lebih terjamin. Karena itu, efisiensi logistik memiliki dampak yang sangat luas terhadap perekonomian,” ujar Anne seperti yang dikutip dari laman kai.go.id, Minggu (7/6/2026).

Menurut Anne, efisiensi logistik menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Berdasarkan perhitungan yang digunakan pemerintah melalui Bappenas, BPS, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, biaya logistik nasional masih berada pada kisaran 14,29% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat turun menjadi 12% pada 2029 sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

Angka tersebut menunjukkan bahwa biaya logistik masih menjadi salah satu komponen yang memengaruhi struktur biaya ekonomi Indonesia. 

Berbagai kajian juga menunjukkan bahwa komponen logistik menyumbang sekitar 14% dari harga barang yang beredar di pasar domestik. Artinya, dari setiap Rp100 nilai barang yang dibayarkan masyarakat, sekitar Rp14 berkaitan dengan proses distribusi dan logistik.

“Semakin efisien proses distribusi yang digunakan, semakin besar peluang pelaku usaha mengendalikan biaya operasionalnya. Dampaknya akan terlihat pada kelancaran pasokan, biaya usaha yang lebih kompetitif, serta kemampuan industri menghadirkan produk dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Anne.

Kondisi tersebut menjadi semakin relevan mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan aktivitas ekonomi yang tersebar di berbagai wilayah. Tingginya biaya logistik dapat memengaruhi daya saing produk nasional, memperbesar disparitas harga antarwilayah, hingga memengaruhi efisiensi rantai pasok. 

Sebaliknya, distribusi yang semakin efisien akan memperkuat konektivitas ekonomi dan mempercepat pergerakan barang dari sentra produksi menuju pusat konsumsi.

Anne menjelaskan bahwa kereta api memiliki keunggulan dalam mendukung efisiensi tersebut karena mampu mengangkut barang dalam jumlah besar secara terjadwal dan berkelanjutan. Karakteristik ini memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam mengelola distribusi sekaligus membantu mengurangi beban angkutan di jalan raya.

Di Pulau Jawa yang menjadi pusat aktivitas industri dan perdagangan nasional, kebutuhan terhadap sistem logistik yang efisien terus meningkat. Berbagai kajian memperkirakan sekitar 60% aktivitas logistik nasional berada di Pulau Jawa. 

Dengan nilai ekonomi logistik yang diperkirakan mencapai Rp2.400 hingga Rp2.500 triliun per tahun, peningkatan efisiensi distribusi akan memberikan dampak signifikan terhadap biaya usaha, kelancaran perdagangan, dan daya saing industri nasional.

“Logistik merupakan salah satu bagian penting pertumbuhan ekonomi. Ketika bahan baku tiba tepat waktu, proses produksi dapat berjalan lancar. Ketika barang bergerak lebih cepat dan lebih efisien, pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan daya saingnya. Pada akhirnya manfaat tersebut akan hadir dalam bentuk pasokan yang lebih terjaga, harga yang lebih kompetitif, dan ekonomi yang bergerak semakin produktif,” kata Anne menambahkan.

Ke depan, KAI terus memperkuat layanan logistik melalui peningkatan kapasitas angkut, pengembangan jaringan distribusi, serta integrasi dengan berbagai simpul logistik strategis. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung terciptanya rantai pasok yang semakin efisien dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi yang terus berkembang.

“Kami ingin memastikan pertumbuhan angkutan retail berjalan seiring dengan peningkatan efisiensi logistik nasional, sehingga distribusi semakin lancar, biaya usaha semakin kompetitif, dan daya saing ekonomi Indonesia terus meningkat,” tutup Anne. (*)


(Jakarta)


Belum ada Komentar untuk "Perkuat Distribusi Barang, KAI Angkut 101.652 ton Barang Sepanjang 2026"

Posting Komentar

Perkuat Distribusi Barang, KAI Angkut 101.652 ton Barang Sepanjang 2026

Lokomotif kereta api menarik rangkaian gerbong yang membawa bahan bakar minyak. Hingga Mei 2026, KAI mencatat volume angkutan retail mencapa...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel