Konten Kreatif Harus Berangkat dari Literasi Budaya
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, saat memberi sambutan dalam kegiatan Semarak Budaya bertema “Dari Warisan ke Inovasi: Mendorong Pemajuan Budaya Melalui Literasi dan Kreativitas Digital” yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Komisi X DPR RI di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Jalan Sunggal, Medan, Jumat (15/5/2026).lensamedan-istLensaMedan – Konten kreatif di era digital harus dibangun dari pemahaman literasi budaya yang kuat agar memiliki nilai edukasi dan tidak kehilangan akar budaya bangsa.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, dalam kegiatan Semarak Budaya bertema “Dari Warisan ke Inovasi: Mendorong Pemajuan Budaya Melalui Literasi dan Kreativitas Digital” yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Komisi X DPR RI di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Jalan Sunggal, Medan, Jumat (15/5/2026).
Dalam pemaparannya, Sofyan Tan menyoroti perkembangan teknologi digital yang kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurutnya, kehadiran teknologi harus diimbangi dengan peningkatan literasi agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna media digital, tetapi juga mampu menghadirkan konten yang berkualitas.
“Kemajuan teknologi sudah menjadi sarapan pagi kita. Ketika bangun tidur, yang pertama disapa pasti handphone,” ujar Aggota DPR RI dari Dapil Sumut I itu.
Sofyan Tan mengatakan literasi bukan sekadar kebiasaan membaca, melainkan kemampuan memahami, mempelajari, dan mengolah informasi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Namun, ia menilai budaya literasi masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.
“Rata-rata orang Indonesia setahun hanya sekali membaca buku, bahkan ada yang tidak pernah membaca buku sama sekali. Ini menjadi tantangan bagaimana di era digitalisasi ini literasi dapat ditingkatkan,” katanya.
Menurut Sofyan Tan, rendahnya literasi akan berdampak pada kualitas konten kreatif yang diproduksi masyarakat, terutama yang berkaitan dengan budaya. Ia mencontohkan banyaknya kekayaan kuliner daerah dan tradisi lokal yang sebenarnya dapat diangkat menjadi konten menarik di media digital.
Namun, kata dia, seseorang harus terlebih dahulu membaca dan memahami sejarah maupun nilai budaya dari materi yang ingin disampaikan sebelum membuat konten kreatif.
“Kalau mau membuat konten yang punya nilai sejarah maka wajib membaca terlebih dahulu. Itu memaksa pembuat konten memahami literasi budaya sehingga bisa membuat alur cerita yang baik dan mudah diterima masyarakat,” ujarnya.
Sofyan Tan menilai pendekatan kreatif melalui media digital dapat menjadi sarana efektif memperkenalkan budaya kepada generasi muda yang kini lebih dekat dengan media sosial dibandingkan buku bacaan konvensional.
Sementara itu, narasumber kegiatan, A'ung Ezra Al'Fatah, mengungkapkan rendahnya literasi budaya juga mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan budayawan dan pelaku seni.
Menurutnya, derasnya arus tren digital membuat karya budaya lokal semakin tersisih. Lagu anak-anak maupun lagu daerah dinilai semakin jarang diproduksi dan diperdengarkan kepada masyarakat.
“Ada kekhawatiran suatu saat nanti tidak ada lagi yang menciptakan lagu anak-anak dan tidak ada lagi yang memutarkan lagu daerah. Yang muncul justru tren joget dan konten media sosial yang terus berganti,” kata dosen Universitas Satya Terra Bhinneka itu.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diajak mengikuti kuis kebudayaan berbasis digital untuk mengukur wawasan kebangsaan dan pengetahuan budaya Indonesia. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pelestarian budaya melalui kreativitas yang berbasis literasi. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Konten Kreatif Harus Berangkat dari Literasi Budaya"
Posting Komentar