IHSG dan Rupiah Bertahan Menguat, Emas Alami Tekanan
Grafik pergerakan IHSG. Pada perdagangan Senin (23/2/2026), IHSG mampu mempertahankan kinerja positifnya dan berhasil ditutup di zona hijau.lensamedan-istLensaMedan - Pelaku pasar keuangan saat ini masih dilanda kekhawatiran setelah Presiden AS, Donald Trump, menambahkan tarif impor tambahan global menjadi 15%, setelah tarif resiprokal dibatalkan oleh pengadilan AS.
Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, manuver Presiden AS menambah ketidakpastian pelaku pasar dan mendorong pelaku pasar kembali berhitung untung rugi dari kebijakan tersebut.Bagi negara yang sempat dibebankan tarif gabungan (resiprokal plus tarif global) di atas 15% tentunya diuntungkan dengan manuver yang dilakukan pemerintah AS, sementara bagi negara yang sebelumnya sempat diberlakukan tarif gabungan di bawah 15% akan mengalami kerugian.
"Sehingga dampak dari kenaikan tarif global AS akan beragam ke setiap negara, dan ini bisa membuat pasar keuangan sangat beragam kinerjanya," ujar Gunawan di Medan, Senin (23/2/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini mampu bertahan di zona hijau, dan ditutup menguat 1,5% di level 8.396,082.
Sejumlah emiten yang juga ikut menguat diantaranya adalah BBRI, BBCA, BMRI, ANTM, ASII hingga TINS.
Sedangkan mata uang Rupiah pada perdagangan hari ini disebutkan Gunawan juga ditutup menguat di level 16.785 per Dolar AS.
Rupiah menguat ditengah memburuknya kinerja USD Index ke level 97,5.
Sementara itu harga emas dunia ditransaksikan melemah jika dibandingkan dengan sesi perdagangan pagi.
Harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level US$5.130 per ons troy, atau dikisaran harga Rp2,78 juta per gramnya.
"Harga emas mengalami koreksi teknikal setelah kebijakan tarif AS berubah, dan tensi geopolitik memanas," tutupnya. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "IHSG dan Rupiah Bertahan Menguat, Emas Alami Tekanan"
Posting Komentar