Tuwu Nukhada, Titik Awal Raminalai Dakhi Kembangkan Tenun Nias

Pemilik Tuwu Nukhada, Raminalai Dakhi, melayani pertanyaan seorang pembeli tenun Nias. Sejak berapa tahun terakhir Raminalai berupaya mengembangkan tenun Nias.lensamedan-juli simanjuntak

LensaMedan – Keinginan menghidupkan kembali  tradisi menenun masyarakat Nias yang telah lama ditinggalkan menjadi titik awal Raminalai Dakhi mengembangkan kain tenun premium melalui Tuwu Nukhada. 

Berbekal riset selama bertahun-tahun, ia menelusuri jejak tenun leluhur, mengangkat motif dari rumah adat dan ukiran Nias, serta menyiapkan pembinaan untuk melahirkan kembali penenun di tanah asalnya.

Gagasan mengembangkan kain tenun khas Nias berawal dari keinginannya menampilkan identitas budaya daerah asalnya melalui busana.

Sebagai pecinta wastra,  Raminalai mengaku kerap kesulitan menemukan motif Nias yang bisa diaplikasikan pada pakaian. Upaya menggunakan bordir beberapa kali dilakukan, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.

“Sangat-sangat sedih kadang-kadang, mau kepengen memunculkan identitas saya sebagai orang Nias itu, terpaksa saya bordir. Dan itu pun hasilnya pasti tidak sesuai harapan saya,” kata Raminalai, Senin (26/10/2026).

Ide mengembangkan motif Nias menjadi kain muncul setelah anak-anak perempuannya membuat pola yang terinspirasi dari budaya daerah tersebut. Saat itu, anak-anaknya masih duduk di bangku sekolah dan mulai tertarik membuat desain sendiri.

“Akhirnya anak-anak saya yang perempuan yang mungkin beranjak remaja itu, kelas waktu itu masuk SMP, mereka membuat pola, mereka mendesain, ‘Motif Nias ini, Mama, udah nih bikin’,” tuturnya.

Raminalai mengaku tertarik melihat desain tersebut. Namun, ia tidak ingin sekadar membuat kain dengan motif yang terlihat menarik. Menurutnya, desain tersebut harus memiliki dasar sejarah dan filosofi yang jelas.

“Akhirnya kami melakukan riset, karena menurut saya tidak hanya cantik. Harus ada filosofi juga,” katanya.

Bersama anak-anaknya, Raminalai kemudian menelusuri motif-motif Nias, termasuk yang ditemukan pada rumah adat dan ukiran artefak. 

Penelitian itu mengantarkannya pada temuan bahwa masyarakat Nias ternyata memiliki tradisi menenun yang telah lama ditinggalkan.

Dalam bahasa Nias, tradisi tersebut disebut fanoso. Namun, berdasarkan penelusuran yang dilakukannya, tradisi itu tidak lagi berkembang seperti dahulu.

“Kami menemukan ternyata budaya menenun nenek moyang kami itu atau fanoso, bahasa Niasnya, sudah punah. Karena sudah itu, kami hanya bisa mendapatkan alat tenunnya dipasang di museum, dipajang hanya sekadar pajangan doang,” kata Raminalai.

Temuan tersebut membuatnya semakin tertarik menggali sejarah kain leluhur. Ia mempertanyakan mengapa kain tenun lama sulit ditemukan, padahal masyarakat Nias memiliki tradisi menenun.

“Berangkat dari situ, kenapa sih kami tidak menemukan ini jejak kain nenek moyang kami?” ujarnya.

Dari penelitian lanjutan, Raminalai mengetahui bahwa bahan dasar tenun yang digunakan leluhur Nias pada masa lalu berasal dari serat tanaman bernama ladari, yang disebutnya sejenis anggrek hutan.

Menurut dia, serat tersebut dapat terurai seiring waktu. Hal itu menjadi salah satu penjelasan yang diperolehnya mengenai sulitnya menemukan kain peninggalan leluhur dalam kondisi utuh.

“Setelah kami melakukan penelitian mendalam, akhirnya kami mendapatkan jawabannya,” ujarnya.

Proses penelitian dan pengembangan Tuwu Nukhada berlangsung selama beberapa tahun, termasuk melalui berbagai percobaan untuk menemukan bentuk kain yang sesuai. 

Raminalai mengatakan, ia membutuhkan waktu panjang sebelum akhirnya dapat memperkenalkan produk tersebut kepada pasar.

Dalam pengembangan desain, ia memilih mengangkat motif yang ditemukan pada rumah adat dan ukiran Nias. 

Langkah itu dilakukan karena kain yang ditelusurinya dari tradisi lama cenderung polos, sementara motif-motif budaya masih dapat dijumpai pada peninggalan lainnya.

“Kalau untuk di kainnya sendiri itu polosan. Nah, kami berangkat dari situ, kalau kami lestarikan, kami angkat kembali yang memang cikal bakal kain nenek moyang kami itu tidak relevan dengan zaman sekarang,” jelasnya.

Ia menegaskan, upaya pelestarian tidak berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, teknologi dan kebutuhan masyarakat masa kini harus menjadi pertimbangan dalam mengembangkan produk budaya.

Karena itu, Tuwu Nukhada mengombinasikan bahan baku yang digunakan dalam tradisi tenun Sumatera Utara dengan pengembangan motif yang terinspirasi dari budaya Nias.

“Kita masih serumpun dengan Sumatra Utara, satu rumpun, makanya kami memakai bahan baku yang biasa dipakai oleh tenun mereka,” ujarnya.

Untuk warna, Raminalai mengangkat merah, kuning, dan hitam yang dikenal dalam pakaian adat Nias. Ia juga menyebut Nias Selatan sebagai wilayah penting dalam sejarah peradaban masyarakat Nias, yang antara lain ditandai dengan keberadaan peninggalan megalitik.

Meski telah mengembangkan kain tenun premium, Raminalai mengakui upaya menghidupkan kembali keterampilan menenun di Nias masih menghadapi kendala. 

Saat ini produksi Tuwu Nukhada masih menggunakan kombinasi tenaga penenun karena keterbatasan sumber daya manusia dan bahan baku di daerah tersebut.

Untuk mengatasi persoalan itu, ia tengah menggagas program pembinaan penenun di Nias. Sebanyak 20 set alat tenun telah dikirimkan sebagai bagian dari persiapan program tersebut.

Menurut Raminalai, tantangan berikutnya adalah membangun pemahaman masyarakat mengenai sejarah tenun Nias. Ia mengaku masih menjumpai anggapan bahwa nenek moyang masyarakat Nias tidak memiliki tradisi kain tenun seperti yang sedang dikembangkannya.

“Itu tantangan bagi saya, karena literasinya masih kurang. Jadi banyak yang beranggapan, ‘Loh, ini nenek moyang kita enggak ada kain begini’,” katanya.

Ia menegaskan, kain yang dikembangkannya berangkat dari upaya mengangkat kembali budaya menenun dan motif Nias, dengan menyesuaikan bahan serta teknik produksi terhadap kondisi sekarang.

Di sisi pemasaran, Raminalai mengatakan masih banyak masyarakat Nias yang belum mengetahui keberadaan Tuwu Nukhada. Hal itu tidak hanya terjadi di daerah asalnya, tetapi juga pada masyarakat Nias yang tinggal di luar daerah.

Untuk memperluas pengenalan produk, ia memanfaatkan pameran dan media sosial. Menurutnya, kedua saluran tersebut dapat membantu memperkenalkan kain tenun Nias kepada masyarakat yang lebih luas.

“Sampai saat ini yang kebanyakan membeli itu 80 persen masih orang luar,” katanya.

Raminalai berharap Tuwu Nukhada tidak hanya berkembang sebagai produk kain premium, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya Nias dan membuka peluang ekonomi.

“Harapannya, dengan kelahirannya Tuwu Nukhada ini lewat kain ini Nias itu bisa dikenal lebih lagi, bisa mendatangkan nilai ekonomis, bisa mengangkat kembali,” ujarnya.

Tuwu Nukhada kini memiliki rumah produksi di kawasan Citra Garden, Padang Bulan, Medan, serta mengembangkan produksi di Pulau Jawa. Produk kain tenun tersebut dapat dijumpai di Galeri Wastra by ASEPHI Sumatera Utara, Medan Mall, Jalan MT Haryono Nomor 8, Medan, dan di Jalan Pengadilan Nomor 23 F, Pabaton, Kota Bogor.

Melalui pengembangan tersebut, Raminalai berharap motif dan sejarah budaya Nias semakin dikenal, sementara keterampilan menenun yang lama ditinggalkan dapat kembali dipelajari oleh generasi berikutnya.  (*)


(Medan)


Belum ada Komentar untuk "Tuwu Nukhada, Titik Awal Raminalai Dakhi Kembangkan Tenun Nias "

Posting Komentar

Jadwal Porprovsu 2026 Bergeser ke 1–9 Desember

Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan (Dispora) Provinsi Sumatra Utara (Sumut), Muhammad Mahfullah Pratama Daulay, dan Ketua Komite Olahr...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel