Tiba di Sumatra Utara, Rocky Berganti Nama Jadi Heera
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, menerima secara simbolis satu individu orangutan Sumatra (Pongo abelii) dari Pemerintah India di area Kargo Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Senin (19/10/2026). Penyerahan orangutan berjenis kelamin jantan itu turut disaksikan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara, Novita Kusuma Wardani.lensamedan-juli simanjuntakOrangutan berjenis kelamin jantan ini merupakan korban perdagangan ilegal satwa liar lintas negara yang diselamatkan oleh otoritas setempat di sebuah apartemen di wilayah Thane, dekat Mumbai, Maharashtra, India, pada 12 November 2024.
Saat diselamatkan, orangutan tersebut diperkirakan berusia 18-20 bulan. Setelah penyitaan, satwa ini mendapatkan perawatan intensif di Greens Zoological Rescue and Rehabilitation Centre (GZRRC)/Vantara, Jamnagar, Gujarat, India.
Dalam masa perawatan, orangutan tersebut sempat mengalami gangguan kesehatan yang dilaporkan berupa bronkopneumonia atau infeksi virus saluran pernapasan.
Melalui penanganan medis dan pemantauan intensif oleh tim GZRRC, kondisi kesehatannya berangsur membaik hingga dinyatakan layak untuk menjalani perjalanan kembali ke Indonesia.
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, dalam sambutannya, mengatakan, kegiatan penyambutan yang digelar di area Cargo Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, bukan hanya sekedar seremonial penyambutan semata, tetapi juga menunjukkan dua hal.
Pertama, pemulangan orangutan yang selama di India diberi nama Rocky ini menunjukkan hubungan diplomatik yang erat antara Pemerintah India dengan Pemerintah Indonesia, yang tak hanya di bidang politik semata, tetapi juga di bidang lingkungan dan juga perlindungan satwa liar.
Selain itu, acara ini juga menunjukkan kerja sama yang baik dengan berbagai macam otoritas, teman-teman dari Kementerian Pertanian lewat Balai Karantina, Kementerian Keuangan lewat Bea Cukai, Kementerian Perhubungan lewat Angkasa Pura, dan juga NGO yang konsern terhadap orangutan.
“Mengembalikan ke Indonesia merupakan satu hal, tetapi memastikan bahwa Rocky akan bisa hidup dalam habitat yang baik, memperbaiki habitat orangutan sehingga mereka bisa hidup dengan nyaman di rumahnya, di hutan belantara adalah tanggungjawab kita yang lain yang saya kira perlu kita lakukan secara lebih serius dan lebih serius lagi,” ujar Raja Juli.
Pada kesempatan itu, Raja Juli Antoni juga mengumumkan akan memberikan nama baru buat Rocky. Pergantian nama yang dilakukan itu diakui Raja Juli atas saran Pemimpin Vantara, Anand Ambani dengan nama Heera.
“Kalau selama ini Rocky hanya berarti batu, tetapi Heera bermakna berlian (diamond), batu yang mahal, batu yang ditempah oleh sejarah lama. Kita berharap Heera akan bisa hidup lebih lama lagi di bentara Sumatra setelah nanti tentu mengalami proses rehabilitasi oleh kawan-kawan COP,” terangnya.
Sebelum dipulangkan, orangutan tersebut menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan fisik dan uji laboratorium oleh otoritas terkait bersama tim medis GZRRC.
Hasil pemeriksaan terakhir pada akhir Agustus 2026 menyatakan bahwa orangutan dalam kondisi sehat dan fit to travel (layak melakukan perjalanan), serta dinyatakan negatif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC) dan Hepatitis A dan B berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.
Setibanya di Bandara Internasional Kualanamu, orangutan akan menjalani pemeriksaan awal oleh tim dokter hewan dan petugas karantina untuk memastikan kondisi kesehatannya setelah perjalanan. Tim juga akan memberikan penanganan dan pemenuhan kebutuhan dasar satwa, termasuk makanan dan minuman, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan medisnya.
Setelah seluruh prosedur administrasi dan karantina terpenuhi, orangutan akan dibawa ke fasilitas rehabilitasi untuk menjalani tahapan pemulihan dan penilaian lebih lanjut.
Selanjutnya, orangutan tersebut akan menjalani rehabilitasi di Sumatran Rescue Alliance (SRA), di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, yang dikelola oleh COP.
Di fasilitas ini, orangutan akan memperoleh perawatan, pemantauan kesehatan, serta proses rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi fisik dan perilakunya.
Tahapan rehabilitasi menjadi penting untuk menilai kemampuan individu dalam mengembangkan perilaku alami, termasuk mencari pakan, memanjat, dan beradaptasi dengan lingkungan, sebagai bagian dari persiapan menuju kemungkinan pelepasliaran apabila memenuhi persyaratan.
Saat ini, SRA menampung delapan individu orangutan yang menjalani rehabilitasi, termasuk empat individu hasil repatriasi dari Thailand pada akhir 2025.
Keberadaan fasilitas rehabilitasi ini menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk memastikan orangutan korban perdagangan ilegal tidak hanya berhasil dipulangkan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk pulih dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Direktur Eksekutif COP, Daniek Hendarto, menyampaikan apresiasi atas kerja sama seluruh pihak dalam proses pemulangan tersebut.
“Kami terus mendukung upaya Pemerintah Indonesia dalam konservasi orangutan, termasuk melalui penyelamatan, perawatan, dan rehabilitasi individu yang menjadi korban perdagangan ilegal. Kami berharap proses rehabilitasi orangutan ini berjalan dengan baik sehingga, apabila kondisi kesehatan, perilaku, dan persyaratan konservasinya terpenuhi, ia dapat dipersiapkan untuk kembali ke habitat alaminya,” ujar Daniek.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa perdagangan ilegal satwa liar merupakan ancaman serius bagi kelestarian keanekaragaman hayati. Penanganannya memerlukan kerja sama yang kuat antara negara asal, negara tempat satwa ditemukan, aparat penegak hukum, lembaga konservasi, serta mitra terkait lainnya.
Melalui repatriasi ini, Pemerintah Indonesia kembali menegaskan bahwa upaya konservasi tidak berhenti pada penyelamatan dan pemulangan satwa. Perawatan, rehabilitasi, penegakan hukum, serta pemulihan habitat merupakan rangkaian penting untuk memastikan kelangsungan hidup orangutan Sumatera sebagai salah satu kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. (juli simanjuntak)
(Deli Serdang)
Belum ada Komentar untuk "Tiba di Sumatra Utara, Rocky Berganti Nama Jadi Heera"
Posting Komentar