The Fed Kirim Sinyal Naikkan Bunga Acuan, IHSG dan Rupiah Rawan Terkoreksi
Grafik pergerakan IHSG. Pada perdagangan Kamis (8/10/2026), IHSG dibuka di zona hijau meski tak lama bergerak turun ke zona merah.lensamedan-istLensaMedan - Pejabat pada Bank Sentral AS menyatakan bahwa masih ada kemungkinan kenaikan bunga acuan hingga tutup tahun 2026 meskipun belum bisa memastikan kapan kebijakan tersebut akan diambil.
Kebijakan tersebut diambil sejalan dengan tingginya laju tekanan inflasi yang berada di atas target dalam 5 tahun terakhir.
Ditambah dengan data lapangan pekerjaan, yang kalaupun nantinya membukukan angka yang solid maka akan kian mempercepat kemungkinan realisasi kenaikan The Fed Fund Rate.
Hasil FOMC Meeting Minutes menunjukan bahwa kebijakan moneter global akan cenderung ke arah pengetatan.
Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, pasar saat ini akan memantau bagaimana perkembangan harga (inflasi) akan membentuk ekspektasi selanjutnya.
Harga minyak mentah dunia mengambil peranan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed kedepan.
Dan pasar saham di Asia merespon negatif arah kebijakan The Fed tersebut. Mayoritas bursa saham di Asia diperdagangkan di zona merah.
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih lebih beruntung karena dibuka menguat di level 6.154. Namun sayangnya penguatan IHSG hanya sementara. Sesaat setelah dibuka menguat, IHSG justru sempat ditransaksikan di zona merah.
“Sentimen negatif pada bursa saham di Asia menunjukan bahwa IHSG masih rawan mengalami koreksi, sehingga IHSG diproyeksikan akan ditransaksikan dalam rentang 6.070 hingga 6.170,” ujar Gunawan di Medan, Kamis (8/10/2026).
Sementara itu dari tanah air akan ada rilis data indeks kepercayaan konsumen di bulan September. Data tersebut akan menjadi data utama yang akan mempengaruhi kinerja sektor keuangan di tanah air.
Sejauh ini kata Gunawan, mata uang Rupiah masih mampu menguat di level 17.865 per Dolar AS di sesi perdagangan pagi.
Kinerja mata uang Rupiah diuntungkan dari melemahnya imbal hasil US Treasury yang berada di kisaran level 5,303%.
Termasuk juga dengan melandainya kinerja USD Index ke level 102,1. Meski demikian baik IHSG maupun Rupiah masih berpeluang terkoreksi.
Di bagian yang berbeda, harga emas dunia ditransaksikan menguat dikisaran level US$4.138 per ons troy atau berada dikisaran Rp2,38 juta per gram.
Harga emas terpantau membaik karena sekalipun sinyal kenaikan bunga acuan mencuat, namun diproyeksikan kenaikannya tidak akan terjadi pada perdagangan hari ini.
“Dan sejauh ini proyeksi paling kuat kenaikan bunga acuan The Fed terjadi pada bulan Desember mendatang,” tutup Gunawan. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "The Fed Kirim Sinyal Naikkan Bunga Acuan, IHSG dan Rupiah Rawan Terkoreksi"
Posting Komentar