Riset Harus Jawab Kebutuhan Masyarakat, Bukan Masuk Tong Sampah

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kompetensi Dosen Dalam Merancang Riset Terapan Berbasis Kebutuhan Industri dan Masyarakat yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berkolaborasi dengan Komisi X DPR RI di Auditorium Djonny Taslim Kampus Satya Terra (ST) Bhinneka, Selasa (20/10/2026).lensamedan-ist

LensaMedan –  Dosen dan akademisi di Sumatra Utara didorong untuk berlomba-lomba melahirkan riset terapan yang bermanfaat bagi masyarakat luas serta memiliki hak paten. 

Riset diminta tidak hanya sekadar memenuhi syarat formalitas, tetapi harus mampu menjawab tantangan dan kebutuhan dunia industri. 

Dorongan ini disampaikan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, dalam acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kompetensi Dosen Dalam Merancang Riset Terapan Berbasis Kebutuhan Industri dan Masyarakat yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berkolaborasi dengan Komisi X DPR RI di Auditorium Djonny Taslim Kampus Satya Terra (ST) Bhinneka, Selasa (20/10/2026). 

Dalam arahannya, Sofyan Tan menyoroti masih rendahnya rasio periset di Indonesia dibandingkan negara maju. 

Ia mencontohkan Korea Selatan yang memiliki sekitar 4.000 periset per satu juta penduduk, sementara Indonesia hanya memiliki sekitar 300 periset per satu juta penduduk. Padahal, kemajuan teknologi dan kesejahteraan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas risetnya. 

"Kemajuan suatu negara selalu dinilai dari berapa banyak peneliti yang ada di negara tersebut. Riset yang dilakukan para dosen jangan sampai hanya berakhir di tong sampah atau sekadar mengejar publikasi semata, tetapi harus memiliki hak paten yang dapat dikomersialisasi serta dirasakan manfaatnya oleh industri dan masyarakat," tegas Sofyan Tan. 

Lebih lanjut, Legislator asal Sumatra Utara ini menjelaskan bahwa kompetensi dosen tidak hanya diukur dari kemampuan mengajar di kelas, tetapi juga dari keberhasilan menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi melalui riset berorientasi pemecahan masalah (problem solving). 

Ia mencontohkan berbagai persoalan riil, seperti ketahanan pangan, inovasi pertanian, hingga pengolahan produk lokal yang membutuhkan sentuhan inovasi dan sains dari para periset perguruan tinggi. 

Melalui Bimtek kolaborasi antara Kemendiktisaintek dan Komisi X DPR RI ini, diharapkan para dosen semakin terpacu dan memiliki kompetensi yang mumpuni dalam merancang serta mengeksekusi proposal riset terapan yang kompetitif. 

Dengan demikian, perguruan tinggi dapat menjadi motor penggerak utama dalam melahirkan inovasi terapan berhak paten yang mendukung kemandirian bangsa.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas ST Bhinneka, Bobby Christian Halim, menekankan pentingnya penguatan kompetensi dosen berbasis riset dalam sebuah kegiatan pembelajaran bersama di kampus Universitas ST Bhinneka. 

Bobby menyampaikan bahwa seluruh perguruan tinggi saat ini berorientasi pada riset yang memerlukan penguatan secara berkelanjutan guna menunjang pengembangan kompetensi tenaga pengajar. 

Ia juga menyambut hangat kedatangan para peserta dan berharap momen berharga ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk belajar bersama. 

Melalui kegiatan tersebut, Bobby berharap hasil yang diperoleh mampu memberikan manfaat yang luas serta dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan di masa depan.(*)



(Medan)


Belum ada Komentar untuk "Riset Harus Jawab Kebutuhan Masyarakat, Bukan Masuk Tong Sampah"

Posting Komentar

Riset Harus Jawab Kebutuhan Masyarakat, Bukan Masuk Tong Sampah

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kompetensi Dosen Dalam Mera...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel