Dari Pipa ke Produktivitas: Solusi Gas Bumi Arun untuk Kemandirian Energi Sumatra Utara
Seorang petugas pemeriksa pipa (line checker) saat memeriksa jalur pipa gas yang bersebelahan dengan jalur kereta api di Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, jelang akhir Mei 2026 lalu. Pengecekan pipa gas dilakukan setiap hari untuk memastikan kondisi pipa yang tertanam di bawah tanah tidak mengalami gangguan.lensamedan-dok Pertagas ONSALensaMedan – Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WIB. Tetapi, Nikmatullah sudah tampak hadir di area lapangan Stasiun Kompresor Gas (SKG) Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.
Pria yang sudah 5 tahun bertugas sebagai pemeriksa pipa (line checker) ini mulai mempersiapkan diri dengan mengikuti safety tool meeting sebelum melaksanakan tugas yang akan dimulai pukul 07.30 WIB.
SKG Pangkalan Brandan merupakan salah satu fasilitas transmisi inti yang dikelola PT Pertamina Gas Operation North Sumatra Area ( Pertagas ONSA).
Berlokasi di Komplek PT Kilang Pertamina Internasional Unit Pangkalan Brandan, stasiun ini memegang peran strategis dalam mengawal rantai transportasi dan penyaluran gas bumi di wilayah Sumatra bagian utara.
Supervisor Operation District Pangkalan Brandan, Muhammad At-Thoriq Annajmustsaqib, menjelaskan, SKG Pangkalan Brandan terintegrasi dalam sistem transmisi jaringan pipa penyalur utama, antara lain ruas Arun-Belawan sepanjang 334 km berkapasitas 200 MMSCFD.
Karena itu, setiap harinya Nikmatullah bersama 4 orang rekannya akan melakukan pengecekan pipa yang terbentang sepanjang 212 kilometer, mulai dari Gebang di Kabupaten Langkat hingga Belawan yang masuk wilayah administrasi Kota Medan.
Panjang pipa ini menjadi tanggungjawab Pertagas ONSA District Pangkalan Brandan.
“Pengecekan dilakukan per segmen, dimana setiap segmen itu memiliki panjang kurang lebih 40 kilometer dan pengecekan dilakukan secara parsial,” katanya saat dihubungi, Rabu (14/10/2026).
Dalam melakukan pengecekan pipa, kata Thoriq, setiap personel dilengkapi dengan sepeda motor. Tetapi tak jarang para petugas harus berjalan kaki sekitar 10 hingga 20 meter, mengingat lokasi pipa banyak melewati area persawahan, perkebunan, hingga lintas sungai. Syukurnya, area tersebut bebas dari ancaman hewan berbahaya.
Thoriq menjelaskan, pipa yang dikelola Pertagas mayoritas berada di bawah tanah. Hal ini mengacu kepada ketentuan yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang mewajibkan pipa berada 1,5 meter di bawah tanah.
Ketentuan itu juga mengatur pemanfaatan lahan dan pemeliharaan pipa di sepanjang Hak Lintas Pipa/Right of Way, dimana PT Pertamina Gas memiliki lebar ROW mayoritas 14 meter yang tidak memperkenankan pihak eksternal membangun bangunan, bercocoktanam, dan melakukan kegiatan proyek tanpa seizin dari pihak Pertamina Gas.
Karena itu, dalam melakukan pengecekan, para checker line harus memahami apa saja yang masuk kategori pelanggaran. Selain itu, mereka juga harus bisa memahami indikasi kebocoran pipa itu seperti apa meski letak pipa berada di bawah tanah.
“Untuk bisa mengaplikasikan hal ini, mereka kami beri edukasi terlebih dahulu,” kata Thoriq menjelaskan.
Selain melakukan pengecekan secara langsung, untuk memastikan pipa tidak mengalami gangguan, ada sejumlah prosedur lain yang dilakukan.
Mulai dari pengukuran corrossion rate melalui corrossion coupon yang dilakukan per 6 bulan, pengukuran sistem mitigasi korosi pipa melalui cathodic protection measurement yang juga dilakukan per 6 bulan, serta melakukan pemeriksaan dan cleaning internal pipa melalui Inline inspection - smart pigging yang dilakukan per tahun.
“Selain yang terjadwal, kami juga lakukan pemeriksaan critical section pipeline dengan test pit, topography assessment, Ultrasonic thickness measurement (conditional) dan pemeriksaan underwater pipeline yang dilakukan secara conditional,” terangnya.
SKG Pangkalan Brandan Tulang Punggung Pasokan Gas ke Sumatra Utara
Perwira Pertamina Gas ONSA mengecek kondisi jalur pipa yang ada di Stasiun Kompresor Gas (SKG) Pangkalan Brandan, Kamis (24/10/2026). Pertagas ONSA District Pangkalan Brandan senantiasa memperhatikan kondisi pipa penyalur gas sebagai upaya menjaga keberlangsungan transmisi gas ke pelanggan.lensamedan-istSKG Pangkalan Brandan saat ini bertindak sebagai tulang punggung (backbone) utama Pertagas ONSA dalam menjamin keandalan distribusi energi bersih di sepanjang Provinsi Aceh hingga Sumatra Utara.
Kepastian pasokan gas yang dikompresi dan disalurkan melalui stasiun ini menjadi pilar vital dalam menopang operasional industri skala besar dan menengah, pembangkit listrik, serta konsumen kawasan industri di wilayah Sumatra Utara.
Karena itu, pipa yang secara terus-menerus mengalirkan gas yang bersumber dari Arun ini harus dipastikan kondisinya tetap baik. Disamping itu, kebersihan gas yang disalurkan juga harus terjaga.
Saat menerima kunjungan sejumlah jurnalis jelang akhir September lalu, Head of District Pangkalan Brandan, Herlan Idul Sahputra Siahaan, menjelaskan bahwa dalam menjalankan fungsi utamanya, SKG Pangkalan Brandan dan Stasiun Booster Pangkalan Brandan dilengkapi dengan serangkaian unit teknis penekan tekanan gas (booster) guna menjaga kestabilan alir gas selama proses transmisi.
Peralatan utama yang dioperasikan meliputi teknologi Turbine Compressor, Gas Engine Generator, serta sistem Instrument Air Compressor (IAC).
Guna mendukung efisiensi energi dan operasional yang ramah lingkungan, stasiun ini secara berkelanjutan melakukan berbagai pembaruan teknis, seperti optimalisasi pengoperasian Gas Engine Generator sesuai beban serta reposisi dan substitusi peralatan instrument air system melalui modifikasi line air compressor dan penggunaan mini air receiver tank.
Usai melewati sejumlah prosedur di SKG Pangkalan Brandan, gas kemudian dialirkan melalui pipa di bawah tanah yang setiap hari diperiksa Nikmatullah dan rekan-rekannya.
Pipa yang dipakai saat ini dikatakan Herlan rata-rata berusia 13 tahun, sehingga tingkat kekuatannya masih terjaga dengan baik.
Apalagi pihaknya menyuntikkan semacam cairan kimia (liquid inhibitor) yang akan menyelimuti bagian dalam pipa sehingga korosi tidak langsung terjadi.
“Cairan kimia ini mulai kami gunakan setelah gas dari sumur yang dikelola Medco mulai ikut dialirkan. Disamping itu, kami juga menerima pemeriksaan dari Direktorat Jendral Migas per tiga tahun. Nantinya dari pemeriksaan itu akan diinformasikan berapa lama lagi masa pakai pipa,” terangnya.
Gerbang Terakhir Penyaluran Gas ada di KEK Sei Mangkei
Pekerja PT Pertamina Gas mengecek horizontal scrubber yang berada di Stasiun Metering Gas KEK Sei Mangkei, Simalungun, Sumatra Utara, Rabu (23/9/2026). Pengecekan ini dilakukan untuk memastikan gas bumi yang akan dialirkan ke pelanggan sudah bersih dari pencemar.lensamedan-juli simanjuntakDi kawasan ini, Pertagas ONSA mengoperasikan Stasiun Metering (SM) yang berada di bawah pengelolaan District Medan.
Section Head Operation SM KEK Sei Mangkei Pertagas, Gilang Fathurahim, mengatakan, stasiun ini bertindak sebagai titik hilir dari jaringan pipa transmisi Arun-Belawan-KIM-KEK yang menerima alokasi gas bumi dari regasifikasi LNG dan sumber-sumber gas di wilayah Sumatra Utara dan Aceh.
Setiap harinya Pertagas ONSA mengalirkan gas sebesar 170-an MMSCFD. 61% atau sekitar 105 MMSCFD diserap PLN Belawan, kemudian 37% diambil untuk kebutuhan pupuk.
Sementara serapan industri yang sebelumnya dibawah pupuk, saat ini justru semakin meningkat pemakaiannya, bahkan hampir mengalahkan pupuk.
“Nanti kalau kita melewati area KEK, kita bisa lihat bahwa potensi pabrik-pabrik ini masih banyak. Bisa jadi nanti pemakaian gas di Sumut ini akan semakin berkembang kedepannya,” kata Gilang.
Sama halnya dengan SKG Pangkalan Brandan, gas yang diterima di SM KEK Sei Mangkei tidak langsung disalurkan ke pelanggan. Ada prosedur tetap yang harus dilewati sebelum akhinya bisa digunakan.
Head of District Medan, Irwan Pambudi, menjelaskan, gas terlebih dahulu melewati horizontal scrubber untuk memisahkan fase gas dari cairan dan kontaminan. Cairan yang terpisah kemudian ditampung dalam tangki kondensat berkapasitas sekitar 100 meter kubik.
Selanjutnya, tekanan gas diatur menggunakan pressure control valve sesuai kebutuhan masing-masing konsumen.
Untuk memastikan volume gas yang disalurkan terukur, Pertagas menggunakan sistem metering yang dilengkapi differential pressure transmitter dan flow computer. Perbedaan tekanan antara sisi upstream dan downstream diolah menjadi data laju alir atau flow rate.
“Gas yang tersalurkan kepada konsumen harus memenuhi kualitas yang dipersyaratkan,” ujarnya.
Pemantauan dilakukan secara terus-menerus melalui control room. Operator memonitor tekanan, temperatur, differential pressure, flow serta konsumsi pelanggan.
Pelaporan dilakukan secara berkala dan pemeriksaan lapangan tetap dilakukan untuk memastikan kondisi peralatan.
Pertagas ditambahkan Irwan juga menyiapkan sistem Automatic Meter Reading (AMR) untuk meningkatkan efisiensi monitoring pelanggan.
Melalui sistem tersebut, data meter dari masing-masing konsumen akan ditarik ke ruang operasi menggunakan jaringan komunikasi, termasuk fiber optic dan cloud.
Dengan sistem tersebut, operator tidak lagi harus mendatangi pelanggan satu per satu untuk mengetahui data meter.
Sistem yang baru diujicobakan di Stasiun Metering KEK Sei Mangkei ini akan memantau perubahan konsumsi, termasuk ketika pelanggan tiba-tiba menghentikan penyerapan gas.
“Kalau konsumen berhenti menyerap tanpa pemberitahuan, kami bisa melihat dari data flow, termasuk kapan mulai berhenti. Setelah itu kami komunikasi dengan konsumen untuk mengetahui penyebabnya,” jelas Irwan.
Stasiun Metering KEK Sei Mangkei mulai dioperasikan di tahun 2014, setahun sebelum KEK Sei Mangkei resmi beroperasi pada 27 Januari 2015.
Sejak saat itu, Stasiun Metering melayani kebutuhan gas sejumlah industri, antara lain PT Unilever Oleochemical Indonesia yang menjadi pelanggan pertama, kemudian PT Industri Nabati Lestari, PT Aice Sumatera Industry, PT All Cosmos Biotek dan PT Alliance Consumers Product Indonesia.
Hingga 2026, kawasan yang berfokus pada kegiatan utama hilirisasi kelapa sawit dan karet tersebut mencatat akumulasi investasi sekitar Rp33,15 triliun, dengan lebih dari 29 perusahaan. Sebanyak 19 perusahaan disebut telah beroperasi penuh yang mempekerjakan sekitar 16.191 orang.
Irwan menyampaikan, pengembangan kawasan akan mendorong peningkatan kebutuhan gas seiring bertambahnya industri.
“Karena itu, kesiapan infrastruktur transmisi, stasiun metering, sistem pengaturan tekanan, pengawasan kualitas dan monitoring digital menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pasokan energi,” katanya mengakhiri. (juli simanjuntak)
Belum ada Komentar untuk "Dari Pipa ke Produktivitas: Solusi Gas Bumi Arun untuk Kemandirian Energi Sumatra Utara"
Posting Komentar