Tekanan Berlanjut, IHSG dan Rupiah di Zona Merah
Grafik pergerakan IHSG. Pada sesi pertama perdagangan Selasa (29/9/2026),IHSG dibuka di zona merah.lensamedan-istLensaMedan - Tekanan jual di pasar obligasi AS terpantau mengalami peningkatan pada perdagangan sebelumnya. Imbal hasil US Treasury 10 tahun masih dalam tren naik, dan masih bertahan di atas level 5,2%.
Bursa saham AS mengalami tekanan dan menjalar ke pasar saham di Asia.
Mayoritas bursa saham di Asia pada sesi perdagangan pagi ini ditransaksikan di zona merah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebutkan Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, juga mengalami koreksi pada sesi pembukaan perdagangan ke level 6.118, namun sejauh ini kinerja IHSG masih lanjutkan tren penurunan dan kian mendekati level psikologis 6.000.
"Secara teknikal penurunan IHSG berpeluang tertahan di level 6.000, namun tekanan fundamental yang kian berat bisa menyulut koreksi besar jika IHSG menembus level bawah 6.000," ujar Gunawan di Medan, Selasa (29/9/2026).
Sementara itu mata uang Rupiah ditransaksikan melemah ke level 18.000 per Dolar AS.
Gunawan menyebutkan Rupiah masih dalam tren pelemahan ditengah mengeringnya liluiditas di pasar keuangan global seiring dengan kenaikan imbal hasil US Treasury.
"Rupiah masih berpeluang untuk melanjutkan tren pelemahan jika indikator keuangan penentu arah pasar memburuk," sebutnya.
Terpisah harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level US$4.136 per ons troy, atau sekitar Rp2,4 juta per gram.
Pasar masih melihat adanya potensi kenaikan bunga acuan kedepan, dan potensi ketatnya likuiditas yang sejauh ini membuat demand kenaikan imbal hasil Dolar AS berlanjut.
Tekanan pada harga emas maupun pasar keuangan berpeluang memburuk jika data inflasi AS alami peningkatan. (juli simanjuntak)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Tekanan Berlanjut, IHSG dan Rupiah di Zona Merah"
Posting Komentar