Tembus Pasar Digital, Bisnis Kemenyan Tapanuli Kian Menggeliat di Shopee
Devi Vebryanti Simanungkalit memeriksa tingkat kekeringan kemenyan yang akan dijual. Sejak November 2025 lalu, Devi mulai berani memasarkan kemenyan dengan memanfaatkan platform Shopee.lensamedan-dokumentasi pribadiLensaMedan – Menggeluti dunia bisnis tak pernah ada dalam daftar cita-cita Devi Vebryanti Simanungkalit saat masih berusia anak-anak bahkan hingga beranjak dewasa. Devi kecil bercita-cita menjadi seorang reporter televisi.
Tetapi perjalanan hidup justru membawanya menekuni pekerjaan yang memang dekat dengan kehidupan sehari-hari, menjual kemenyan atau yang di kalangan suku Batak dikenal dengan sebutan haminjon.
Devi lahir dan tumbuh di keluarga petani kemenyan di Kabupaten Tapanuli Utara, salah satu kabupaten di Sumatra Utara. Selama puluhan tahun, penjualan kemenyan dilakukan para petani kepada tengkulak lokal yang datang ke kampung. Ini berarti harga yang disepakati lebih sering ditentukan tengkulak.
“Karenanya ketika di awal aku mencoba menjual kemenyan secara online, Bapak menolak bahkan marah-marah,” kata Devi saat dihubungi.
Devi bercerita, perjalanannya berbisnis kemenyan secara online berawal dari keputusannya berhenti sebagai Staf Divisi Pemasaran Mancanegara Badan Pelaksanana Otorita Danau Toba.
Ia kemudian fokus menjadi content creator di media sosial terutama Facebook dengan secara rutin memposting kehidupan sehari-hari di kampung yang dekat dengan hutan kemenyan. Tetapi perubahan peraturan yang diterapkan Meta membuat penghasilannya drop. Padahal pada saat itu, jumlah pengikutnya meningkat hingga 70 ribu orang.
“Makanya setelah itu aku berfikir untuk berbisnis kemenyan. Apalagi beberapa pengikutku di Facebook berulang kali bertanya apakah aku berdagang kemenyan asli. Lantas kuberanikan saja menjawab ya, padahal belum pernah aku berdagang. Setelahnya, pesanan pun mulai ada,” kata Devi yang bermukim di Kecamatan Tarutung.
Sejak itu, Devi kemudian mulai serius mempelajari kemenyan, utamanya mempelajari tingkatan (grade) kemenyan dari bapaknya termasuk juga dari para tengkulak lokal yang selama ini menjadi mitra dagang.
“Ada kesulitan sih membuka komunikasi dengan mereka (tengkulak), karena konon katanya komoditas ini salah satu komoditas yang sulit,” ucapnya.
Asal Mula Buka Akun Shopee
Seorang customer mencari produk kemenyan Tapanuli di Shopee. Saat ini, akun penjual kemenyan Tapanuli cukup mudah ditemukan di Shopee.lensamedan-juli simanjuntakSejak memulai bisnis kemenyan di November 2025, Devi tak langsung memanfaatkan market place untuk memperluas pemasaran. Perempuan kelahiran tahun 2001 ini masih memilih cara manual, memanfaatkan aplikasi pesan singkat.
Seiring berjalannya waktu, atas dorongan dari salah seorang pelanggan, Devi kemudian memutuskan untuk membuka akun di market place. Pilihannya tak lain tak bukan, Shopee.
“Ini permintaan pelanggan saya yang merasa lebih percaya jika pemesanan dilakukan lewat Shopee. Apalagi Shopee kan menawarkan promo gratis ongkos kirim. Dan puji Tuhan, sehari setelah buka akun, langsung masuk pembelian,” terangnya.
Pesanan pun mulai berdatangan. Tak hanya dari daerah di Sumatra Utara, pesanan dari luar pulau Sumatra pun mulai sering datang, seperti dari Pulau Jawa, Kalimantan, Bali, hingga Sulawesi. Dalam sepekan, setidaknya ia bisa melayani pemesanan 3 hingga 7 paket dengan berat yang bervariasi.
“Pesanan terberat itu pernah 5 kilogram. Kalau untuk harga, ditentukan dari kualitas dan kebersihan kemenyan,” katanya menambahkan.
Market Place untuk Naikkan Posisi Tawar Kemenyan
Seorang petani kemenyan memanjat pohon kemenyan. Di Tapanuli Utara, proses menderes getah kemenyan tidak hanya dilakukan kaum pria, tetapi juga kaum perempuan.lensamedan-dokumentasi pribadiDevi yang merupakan anak pertama dari enam bersaudara ini pun berharap akan semakin banyak petani kemenyan yang memanfaatkan market place sebagai saluran pemasaran dan tak lagi hanya mengandalkan tengkulak.
Selama ini, kata Devi, harga jual kemenyan yang ditentukan oleh tengkulak seringkali tidak memperhitungkan kerja keras para petani. Padahal proses yang harus dilewati untuk mendapatkan kemenyan cukup berat.
Mulai dari lokasi pohon kemenyan yang jauh dari rumah karena berada di kawasan hutan, sampai jangka waktu dari proses getah hingga mengeras yang membutuhkan waktu hingga 3 bulan.
Untuk memanen kemenyan, tutur Devi, Bapaknya menghabiskan waktu menginap di hutan selama seminggu. Ini dikarenakan jarak dari rumah tempat mereka tinggal ke pondok tempat beristirahat di hutan mencapai 15 kilometer.
“Dari pondok ke ladang kemenyan Bapak itu membutuhkan waktu dua jam berjalan kaki. Makanya Bapak harus menginap agar tidak bolak-balik,” tuturnya.
Dengan kesulitan yang dihadapi itu, Devi pun berharap agar semakin banyak petani kemenyan yang memanfaatkan market place sebagai tempat pemasaran.
“Agar kami bisa memiiki posisi tawar, sehingga upaya keras kami memanen kemenyan dari hutan lebih dihargai,” harapnya.
Manfaat Market Place bagi UMKM Perintis
Sociopreneur Sumatra Utara, Alween Ong, saat memberikan materi kepada pelaku UMKM di Kota Medan.lensamedan-dokumentasi pribadiData yang tersedia di mesin pencari Google menyebutkan, pemasaran produk UMKM lewat market place sudah dimulai sejak tahun 2000-an seiring dengan berkembangnya akses internet dan meningkatnya minat masyarakat terhadap belanja online.
Sebelum adanya marketplace, transaksi jual beli online biasanya dilakukan melalui forum-forum atau iklan baris digital.
Berjalannya waktu dan perubahan pola belanja masyarakat memunculkan banyak marketplace baru yang menawarkan berbagai keunggulan, seperti sistem pembayaran yang lebih aman, layanan pengiriman cepat, dan promosi menarik.
Sociopreneur Sumatra Utara, Alween Ong, mengatakan, pemanfaatan market place oleh UMKM terutama UMKM yang baru merintis saat ini sudah menjadi kebutuhan ditengah persaingan yang ketat baik dari sisi harga jual hingga kesamaan produk.
Dari sisi Search Engine Optimization (SEO), market place memiliki kapasitas untuk membuat produk yang dinilai bagus bisa diutamakan. Selain itu adanya fitur ads memungkinkan produk lebih ditonjolkan.
“Sehingga bagi UMKM yang baru merintis, market place bisa menjadi salah satu opsi, walaupun saat ini keluhan yang banyak muncul itu terkait biaya admin yang cukup tinggi. Tapi selama konsumen tidak keberatan, yah tentunya tidak masalah, apalagi pengelola market place kerap memberi gimmick berupa voucher-voucher. Jadi saling menguntungkan saja,” katanya.
Bagi pelaku UMKM yang selama ini memanfaatkan market place sebagai tempat untuk berdagang, Alween yang pernah dinobatkan sebagai Wira Usaha Mandiri di tahun 2008 ini pun tak pelit berbagi tips agar produk yang ditawarkan tetap menarik konsumen.
Pertama kata Alween, pelaku UMKM harus bisa mendeskripsikan produk secara detail sehingga bisa meningkatkan pencarian di google.
Selain itu, pelaku UMKM juga disarankan untuk mengikuti promo yang disesuaikan dengan segmen consumer dan rutin melakukan update tampilan pada akun.
“Terakhir dan ini saya nilai yang paling penting. Hitung biaya produksi secara detail, agar tidak rugi karena adanya peningkatan biaya admin,” pungkasnya.
Market Place Terbanyak Dikunjungi
Pengunjung kafe membuka website Shopee. Data yang dirilis Similarweb menyebutkan, per Maret 2026, Shopee masih menjadi platform e-commerce yang paling banyak dikunjungi masyarakat.lensamedan-juli simanjuntakJika mengacu kepada data dari Similarweb, per Maret 2026 menunjukkan bahwa Shopee masih menjadi pilihan pertama masyarakat saat mencari produk yang dipasarkan lewat market place dengan jumlah kunjungan sekitar 237 juta kunjungan per bulan.
Jumlah kunjungan ini jauh di atas platform e-commerce lainnya di Tanah Air.
strategi promosi yang agresif, program cashback, gratis ongkir, flash sale, koin Shopee yang hampir setiap hari ada menjadi salah satu faktor pendorong pembeli buat terus membuka aplikasinya. Karena itu, Shopee diyakini cocok bagi pelaku UMKM yang baru merintis usahanya secara online.
Devi hanya satu dari sekian banyak pelaku UMKM perintis yang menggantungkan pemasaran produk kemenyannya lewat market place. Ia pun paham, untuk bisa tetap bersaing, diversifikasi produk turunan juga harus dipersiapkan. Karenanya, ia rajin mengikuti pelatihan yang digelar Pemerintah.
“Semoga nantinya aku bisa memproduksi sendiri parfum, reed diffuser, hingga parfum mobil. Biar tak hanya jual produk mentah,” ucap Devi mengakhiri. (juli simanjuntak)
Belum ada Komentar untuk "Tembus Pasar Digital, Bisnis Kemenyan Tapanuli Kian Menggeliat di Shopee"
Posting Komentar