Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Dorong Kopi Tapanuli Selatan Tembus Pasar Internasional

Direktur GJI, Panut Hadisiswoyo, bersama Sekretaris Daerah Tapanuli Selatan, Sofyan Adil, saat memeriksa kuaitas biji kopi Tapanuli Selatan yang dipersiapkan untuk ekspor, di sela kegiatan peresmian rumah penjemuran kopi  (dry house) dan penanaman bibit kopi di Desa Marancar Godang, yang diinisiasi Green Justice Indonesia bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Permata Hijau pada Jumat (28/8/2026) siang.lensamedan-ist

LensaMedan — Upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan semakin dikembangkan di Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara melalui komoditas kopi. 

Lewat pendekatan pertanian regeneratif dan agroforestri, masyarakat pengelola hutan desa didorong mengembangkan kopi tanpa meninggalkan prinsip konservasi.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi sekaligus peresmian rumah penjemuran kopi (dry house) dan penanaman bibit kopi di Desa Marancar Godang, yang diinisiasi Green Justice Indonesia bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Permata Hijau pada Jumat (28/8/2026) siang. 

Pendekatan tersebut kini mulai menunjukkan hasil. Sebanyak 2,5 ton kopi Tapanuli Selatan disiapkan untuk diekspor ke Singapura pada awal September 2026.

Jurnalis senior Sumatra Utara, Tikwan Raya Siregar, yang memandu jalannya diskusi mengatakan, pengembangan kopi tidak bisa berdiri sendiri. Komoditas tersebut ditempatkan dalam konteks pengelolaan hutan desa yang tetap mempertahankan fungsi ekologis kawasan.

“Menjadikan hutan desa ini menjadi hutan produktif dan sekaligus bernilai pelestarian bagi lingkungan. Pengembangan kopi ini bukan hanya soal produksi, tetapi bagaimana masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi sekaligus kawasan tetap terjaga,” ujarnya saat memantik diskusi.

Direktur GJI, Panut Hadisiswoyo, mengatakan pengembangan kopi di Marancar merupakan bagian dari strategi membangun ekonomi masyarakat sekaligus menjaga lingkungan. Menurut Panut, GJI mendorong sistem pertanian regeneratif yang bernuansa agroforestri dan bersinergi dengan alam.

“Bagi kita ini adalah usaha strategis kita bagaimana kita menjaga alam melalui sistem pertanian regeneratif, pertanian yang memang bernuansa kepada agroforestry dan juga bersinergi dengan alam,” kata Panut.

GJI, kata Panut, telah memberikan sekitar 80 ribu bibit kopi untuk dikembangkan masyarakat melalui empat LPHD dan satu KTH. Dari jumlah tersebut, diperkirakan sekitar 60 ribu bibit dapat tumbuh. Total potensi pengembangan kopi dari empat LPHD dan satu KTH tersebut hampir mencapai 700 hektare. 

LPHD Permata Hijau, misalnya, memiliki wilayah Kelola seluas 198 hektare, sedangkan Desa Sugi 80 hektare. Panut menilai pengembangan tersebut membuka peluang bagi Marancar menjadi salah satu sentra kopi penting di Tapanuli Selatan. 

“Marancar ini akan sangat jadi primadona kopi,” ujarnya.

Namun, menurut Panut, nilai penting program tersebut bukan semata-mata pada jumlah kopi yang dihasilkan. Pengembangan agroforestri diharapkan menjadi salah satu cara untuk memberikan nilai ekonomi terhadap kawasan sekaligus mendorong masyarakat mempertahankan fungsi lingkungan.

“Kalau masyarakat bisa mendapatkan penghasilan dari kawasan dengan cara yang ramah lingkungan, maka menjaga alam juga menjadi bagian dari kepentingan ekonomi mereka,” ujarnya.

Pemberdayaan masyarakat kemudian diperkuat dengan pembangunan akses pasar. Panut mengatakan GJI telah memfasilitasi pertemuan masyarakat dengan calon pembeli, termasuk buyer dari Singapura. Untuk tahap awal, sebanyak 2,5 ton kopi akan dikirim ke Singapura pada awal September.

 Menurut Panut, ekspor tersebut bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk memperluas pasar produk masyarakat. “Ini langkah awal kita untuk terus mengembangkan pasar,” katanya.

 Dengan adanya rumah produksi, masyarakat diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penjualan kopi dalam bentuk bahan mentah. Pengolahan, pengemasan dan peningkatan kualitas menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi yang diterima masyarakat.

 Sebagai tuan rumah kegiatan, Kepala Desa Marancar Godang, Ade Zonri Siregar, mengapresiasi peresmian rumah produksi sekaligus rencana ekspor perdana kopi Tapanuli Selatan ke Singapura. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat dan petani di Desa Marancar Godang untuk mengembangkan potensi ekonomi desa.

 Ia secara khusus mengapresiasi dukungan Direktur GJI Panut Hadisiswoyo terhadap program LPHD di Desa Marancar Godang dan sejumlah desa lainnya. Menurut Ade, kolaborasi tersebut penting agar potensi ekonomi masyarakat desa dapat dikembangkan tanpa mengabaikan pelestarian lingkungan.

 Selain kopi, Ade berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap komoditas pertanian lain yang menjadi potensi masyarakat Marancar, seperti bawang dan kentang. Ia berharap ekspor perdana kopi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal terbukanya akses pasar yang lebih luas bagi produk pertanian masyarakat.

 Dalam kesempatan yang sama, tokoh konservasi Syahrul M. Pasaribu mengingatkan agar pengembangan kopi di kawasan hutan produksi dilakukan sesuai ketentuan dan perizinan.

Ia menegaskan tidak semua kawasan hutan produksi dapat langsung dimanfaatkan masyarakat untuk menanam kopi. Pemanfaatan harus memiliki dasar izin resmi dari Kementerian Kehutanan.

 “Jangan setiap orang nanti asal hutan produksi tanam, salah. Harus ada izin resmi dari Menteri Kehutanan,” ujar Bupati Tapanuli Selatan periode 2010–2015 dan 2016–2021 tersebut.

 Menurut Syahrul, aspek legalitas penting agar upaya meningkatkan ekonomi masyarakat tidak justru menimbulkan persoalan baru dalam pengelolaan kawasan hutan. Ia juga meminta program pemberdayaan dan pengembangan kopi tidak berhenti di satu lokasi, tetapi dapat diperluas ke desa-desa lain yang memiliki potensi.

 Bagi Syahrul, pemanfaatan sumber daya alam harus tetap mempertimbangkan keberlanjutan agar manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat hari ini tidak mengorbankan kepentingan generasi berikutnya.

 Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Tapanuli Selatan, Sofyan Adil, mengatakan pemerintah daerah melihat pengembangan kopi sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat. Menurutnya, kualitas kopi Tapanuli Selatan mulai mendapatkan pengakuan. 

Namun, petani perlu didorong agar tidak berhenti menjual kopi dalam bentuk biji mentah atau green bean. “Kita harus melangkah lebih jauh membuat inovasi dengan masuk ke tahap hilirisasi,” kata Sofyan yang hadir mewakili Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu.

 Menurutnya, rumah produksi yang diresmikan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah kopi lokal. Fasilitas tersebut diharapkan mendukung modernisasi pengolahan, pengemasan dan standardisasi sehingga kopi Tapanuli Selatan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Sofyan menitipkan tiga hal kepada pengelola rumah produksi, yakni meningkatkan nilai tambah ekonomi, memberdayakan UMKM dan masyarakat sekitar, serta menjaga konsistensi mutu. Ia meminta rumah produksi tidak hanya menjadi tempat produksi kopi, tetapi juga ruang belajar dan inkubator bisnis bagi UMKM, pelaku ekonomi kreatif dan generasi muda. 

“Jadikan tempat ini sebagai wadah kolaborasi, ruang belajar dan inkubator bisnis bagi pelaku UMKM, ekonomi kreatif serta generasi muda,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, kata Sofyan, akan terus mendukung pengembangan tersebut melalui kemudahan regulasi dan perluasan akses pasar. Ia juga mengaitkan pengembangan ekonomi berbasis potensi alam dengan upaya pemulihan ekonomi Tapanuli Selatan setelah terdampak bencana. 

Sofyan menyebut pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan IV 2025 turun dari 5,2 persen menjadi 2,4 persen. Menurutnya, pertanian dan pariwisata dapat menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi sepanjang dikembangkan dengan tetap menjaga lingkungan.

Kopi, kata Sofyan, juga berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari sektor pariwisata dan kuliner. “Kopi sebagai salah satu potensi yang bisa kita tumbuhkan untuk dinikmati para wisatawan,” katanya.

Pengembangan kopi di Marancar pada akhirnya memperlihatkan bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat berjalan bersama dengan upaya penyelamatan lingkungan. Masyarakat didorong memanfaatkan potensi kawasan melalui sistem agroforestri, memperoleh nilai tambah melalui rumah produksi, sekaligus mendapatkan akses pasar hingga ke tingkat internasional.

Ekspor 2,5 ton kopi ke Singapura menjadi salah satu hasil awal dari pendekatan tersebut. Lebih dari sekadar pengiriman komoditas, langkah ini menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat ditempatkan dalam satu rantai ekonomi yang sama.

“Mari kita jaga lingkungan agar lingkungan menjaga kita dan menjaga masa depan kita,” ujar Sofyan.

Ketua pelaksana kegiatan, Hendrawan Hasibuan, mengatakan program pemberdayaan masyarakat tersebut melibatkan sejumlah kelompok masyarakat pengelola kawasan hutan.

Dikatakannya, ada 5 kelompok masyarakat di Marancar yang didampingi GJI. Kelima kelompok masyarakat itu mencakup empat Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), yakni LPHD Permata Hijau di Desa Marancar Godang seluas 198 hektare.

Kemudian, LPHD Sugi Natama di Desa Sugi seluas 70 hektare, LPHD Maju Mandiri di Desa Marancar Julu seluas 79 hektare, serta LPHD Kolam Indah di Desa Gunung Binanga seluas 115 hektare.  Pendampingan juga dilakukan terhadap Kelompok Tani Hutan (KTH) Gapuk Julu Sejahtera di Desa Gapuk Tua seluas 174 hektare yang saat ini masih dalam tahap pengajuan.

“Program ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan kawasan hutan, tetapi juga mendorong pengembangan usaha masyarakat melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS),” ujar Koordinator Advokasi GJI itu. 

Bentuk pendampingannya antara lain pemetaan partisipatif wilayah kelola, penguatan kelembagaan kelompok, penataan peta LPHD, hingga pengembangan komoditas kopi sebagai usaha berbasis Perhutanan Sosial. Dalam pengembangan kopi, sebanyak 80.000 bibit kopi robusta dan arabika telah disemai dan ditanam oleh anggota LPHD dan KTH.

Pengembangan tersebut kemudian diperkuat dengan pembangunan fasilitas pascapanen berupa Rumah Produksi/Dry House, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan nilai tambah kopi yang dihasilkan masyarakat. (*)


(Tapanuli Selatan)


Belum ada Komentar untuk "Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Dorong Kopi Tapanuli Selatan Tembus Pasar Internasional "

Posting Komentar

Pelopor Digitalisasi dan Transparansi Pajak, Pemko Medan Sabet Anugerah Program Ekonomi Terpuji detikSumatera Awards 2026

LensaMedan - Komitmen Pemko Medan dalam mentransformasi sistem keuangan daerah membuahkan hasil manis. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Meda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel