Indonesia-Malaysia Tekankan Titik Temu dan Hidup Berdampingan dalam Kemajemukan Agama
Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar memberikan arahan dalam Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo 2) Sidang Pendahuluan: "Negara Madani dalam Konfigurasi Kemajemukan Agama".lensamedan-kemenag.go.idLensaMedan — Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo 2) membahas perwujudan negara Madani dalam konteks kemajemukan agama, dengan menekankan pentingnya pengakuan terhadap keberagaman, pencarian titik temu, serta kehidupan bersama secara damai.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam Sidang Pendahuluan Madani Malindo 2 bertema “Negara Madani dalam Konfigurasi Kemajemukan Agama” yang menghadirkan Menteri Agama Malaysia, Zulkifli bin Hasan, dan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Menteri Agama Malaysia, Zulkifli bin Hasan, mengatakan, konsep Madani perlu diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat yang memiliki keragaman bangsa dan agama. Menurutnya, keberagaman dapat dirayakan dalam bingkai kesatuan dengan membangun peradaban yang berlandaskan nilai dan akhlak.
“Kita meraikan majmuk bangsa, meraikan majmuk agama, tetapi kita bersama-sama membina tamadun yang berasaskan kepada nilai dan akhlak,” ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan, Malaysia terus berupaya mengarusperdanakan pemahaman mengenai Madani di tengah masyarakat. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah memanfaatkan berbagai media dan teknologi untuk membantu masyarakat memahami gagasan tersebut.
Dalam konteks kemajemukan agama, Zulkifli menjelaskan pendekatan at-ta'ayush as-silmi atau hidup berdampingan secara damai. Pendekatan tersebut, kata dia, tidak hanya mengambil inspirasi dari sumber keagamaan dan sejarah Madinah, tetapi juga memadukannya dengan kearifan lokal serta kerangka kehidupan bernegara.
“Apa yang kita cuba lakukan adalah, kita memperkenalkan, mengarusperdanakan konsep at-ta'ayush as-silmi,” katanya.
Menurut Zulkifli, pendekatan tersebut dibangun melalui perpaduan antara kearifan lokal, nilai-nilai keagamaan, Sirah dan Sahifah Madinah, Rukun Negara, serta perlembagaan. Kerangka itu digunakan sebagai salah satu pijakan untuk membangun masyarakat Madani di Malaysia.
Zulkifli juga memaparkan sejumlah upaya konkret untuk memasyarakatkan gagasan Madani. Dalam beberapa bulan terakhir, Malaysia telah meluncurkan empat kampanye, yakni Sebarkan Salam (Spread Peace), Madani Membantu, Kita Kawan, dan Jom Solat.
Selain itu, ia menyebut upaya memperbanyak akses tempat ibadah di ruang-ruang publik, seperti pusat perbelanjaan, jalan raya, bandara, stasiun bus, dan sejumlah bangunan lainnya.
Sementara itu, Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa masyarakat Madani tidak dapat dibangun dengan memaksakan keseragaman di tengah masyarakat yang majemuk.
“Kita hidup di Indonesia dengan kemajemukan yang luar biasa. Kita tidak bisa memaksakan uniformity (keseragaman). Kita harus mencari common denominator (titik temu),” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, Pancasila dapat menjadi titik temu bagi masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang agama dan kelompok yang beragam. Pancasila, kata dia, tidak mencampuri dogma spesifik masing-masing agama, tetapi menjadi payung yang melindungi seluruh warga negara.
Nasaruddin juga menekankan bahwa toleransi perlu dipahami sebagai kehidupan berdampingan secara damai, bukan mencampuradukkan keyakinan.
Ia mengilustrasikan hal tersebut melalui kisah Perjanjian Hudaibiyah sebagai contoh toleransi substantif, ketika Nabi Muhammad SAW mengutamakan tercapainya substansi perdamaian dalam sebuah kesepakatan.
“Toleransi sejati bukan berarti kita mencampuradukkan akidah (sinkretisme), melainkan co-existence, hidup berdampingan secara damai,” tegasnya.
Dalam pandangannya, masyarakat Madani juga merupakan pengakuan terhadap kemajemukan. Karena itu, agama dan budaya lokal tidak perlu ditempatkan secara berhadap-hadapan, tetapi dapat diramu agar saling memperkuat.
“Kita harus bisa meramu bagaimana agama dan budaya saling memperkuat,” kata Nasaruddin.
Pembahasan tersebut juga mendapatkan konteks dari Masjid Istiqlal sebagai tempat berlangsungnya agenda. Dalam video profil yang ditampilkan pada forum, Istiqlal diperkenalkan sebagai salah satu ruang yang mengembangkan kegiatan lintas umat beragama.
Salah satu program yang disebut melibatkan umat Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu dalam kegiatan olahraga bersama.
Bagi Nasaruddin, penguatan kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemaslahatan umat melalui gagasan dan pengalaman yang dapat dipertukarkan kedua negara.
“Kami di Indonesia, khususnya di Masjid Istiqlal, selalu terbuka untuk memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia demi kemaslahatan umat,” pungkasnya. (*)
(Jakarta)
Belum ada Komentar untuk "Indonesia-Malaysia Tekankan Titik Temu dan Hidup Berdampingan dalam Kemajemukan Agama"
Posting Komentar