AS Bukukan Deflasi Sementara China Ekonominya Melambat, IHSG Rawan Koreksi

Grafik pergerakan IHSG. Pada perdagangan Rabu (15/7/2026), IHSG dibuka di zona hijau meski kemudian bergerak volatile.lensamedan-ist

LensaMedan - Amerika Serikat (AS) membukukan deflasi pada bulan Juni sebesar 0, 4% secara bulanan.

Realisasi deflasi tersebut banyak didorong oleh penurunan harga energi, dimana pada bulan Juni sebelumnya harga minyak mentah dunia mengalami penurunan.

Pada perdagangan Rabu (15/7/2026), kinerja USD Index melandai ke level 101.82 pada perdagangan pagi ini.

Sementara harga minyak mentah dunia masih bertahan dalam dentang US$80 (jenis WTI) dan sekitar US$85 per barel untuk jenis Brent.

Harga minyak mentah masih bertahan tinggi seiring dengan masih memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Sehingga pada dasarnya harga minyak masih berpeluang memicu inflasi di bulan Juli ini.

Setelah rilis data inflasi AS, kinerja bursa saham di AS ditutup menguat, diikuti dengan penguatan pada mayoritas bursa saham di Asia pada sesi perdagangan pagi ini.

Analis keuangan Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sesi pembukaan perdagangan juga mengalami penguatan di level 6.068.

Meski demikian sentimen negatif datang dari data pertumbuhan ekonomi China yang melambat menjadi 4,3% pada kuartal kedua, atau lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan di kuartal pertama sebesar 5%.

Data tersebut sangat berpeluang menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan di Asia.

"IHSG masih berpeluang ditransaksikan di dua zona yang berbeda pada perdagangan hari ini. Pasar masih melihat potensi kenaikan laju inflasi ditengah berkecamuknya perang di Selat Hormuz," ujar Gunawan di Medan.

Sejalan dengan melemahnya USD Index pada sesi perdagangan pagi, mata uang Rupiah ditransaksikan menguat ke level 18.045 per Dolar AS.

Penguatan Rupiah disebut Gunawan juga tidak terlepas dengan serangkaian kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam mengendalikan Rupiah belakangan ini.

"Sejauh ini, tekanan eksternal mendominasi pengaruh pergerakan pasar keuangan di tanh air," sebutnya.

Sementara itu, melandainya laju tekanan inflasi AS tidak membuat harga emas bebas dari tekanan.

Pada sesi perdagangan pagi ini, harga emas ditransaksikan lebih rendah dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya.

Harga emas ditransaksikan dikisaran level US$4.030 per ons troy, atau sekitar Rp2,35 juta per gram.

Harga emas mengalami tekanan sejalan meskipun AS membukukan deflasi, karena pasar masih melihat adanya ancaman inflasi di bulan Juli seiring dengan kenaikan harga minyak. (juli simanjuntak)

(Medan)

Belum ada Komentar untuk "AS Bukukan Deflasi Sementara China Ekonominya Melambat, IHSG Rawan Koreksi"

Posting Komentar

AS Bukukan Deflasi Sementara China Ekonominya Melambat, IHSG Rawan Koreksi

Grafik pergerakan IHSG. Pada perdagangan Rabu (15/7/2026), IHSG dibuka di zona hijau meski kemudian bergerak volatile.lensamedan-ist LensaMe...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel